MASALAH MENTAL ANAK

533 Kata
“Mah, Rara sudah di rumah?” tanyaku sambil masuk rumah dengan buru-buru. “Iya, itu sudah ada di kamarmu,” jawab mama santai. Aku langsung masuk ke kamarku untuk menghampiri Rara yang katanya sudah ada di kamar. Saat berdiri diambang pintu, aku melihat Rara yang sedang berbaring di ranjangnya. Sepertinya Rara benar-benar tidak sehat secara fisik maupun mentalnya. Makin hari tubuhnya makin kecil. Dan wajahnya terlihat sangat pucat ketika sedang duduk bersanding denganku. Tapi, kenapa Rara tidak mau diperiksakan? Padahal aku yang akan menanggung semua biayanya, mulai dari periksa, obat, bayar dokter dan juga bayar kamarnya jika ingin rawat inap di rumah sakit. Dari pada rawat inap di rumah sakit, mending rawat jalan saja. Bisa nonton televisi sepuasnya, bisa berbaring dengan beberapa tumpukan bantal, yang menyebabkan kepalaku sedikit naik. Memang Rara ini suka menyusahkan dirinya sendiri. Awas saja nanti kalau sampai kurus, kering kerontang, seperti ikan asin, akan kuberi makanan yang mengandung banyak vitamin dan juga karbohidrat, agar menjadi lemak dan bisa gendut secara tiba-tiba. Ya, aku yang sebagai sahabatnya saja hanya bisa diam tanpa berkata apa pun. Mau menasihati juga belum tentu hidupku baik di hadapannya. Kalau bisa, Rara harus pindah rumah, KK dan KTP-nya biar enak ngurusnya nanti. Kalau bisa lagi, Rara harus sembuh dalam fisik dan mentalnya. Dia tidak boleh menguji mentalnya sendiri dengan hal-hal seperti itu. Sebenarnya aku empati padanya. Aku ingin sekali membantunya, tapi aku sadar dengan usiaku dan finansialku. Pasti biayanya sangat mahal untuk memeriksakan mental dan kesehatan fisiknya. Kalau hanya kesehatan fisik saja, aku masih bisa membantu, walaupun hanya sedikit saja. Oh ya, aku pernah dapat pencerahan dari seseorang. Pencerahan itu mengatakan bahwa, kalau ingin membantu seseorang, jangan pandang status dan juga jabatan, karena dua unsur itu sebenarnya tidak terlalu penting dalam kehidupan yang serba membantu seperti saat ini. Pokok bagus banget kata-katanya. Aku ingin membeli buku itu, tapi aku takut untuk membeli sesuatu dengan serba online. Kalau online kadang banyak nipunya. Beli serba offline juga sangat merepotkan untuk membawa barang-barangnya yang yahg terlalu berat. Oke, kalian tim mana nih? Offline atau online? Oke, kita selesai bahas tentang offline dan online-nya. Aku mulai membujuk Rara agar mau diajak ke rumah sakit untuk periksa kesehatannya. Aku tahu, jika dia mengalami trauma mendalam, bahkan wajahnya tidak terlihat baik-baik saja. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa. Bentar, apa jangan-jangan semua ini gara-gara luka yang ada di punggungnya? Sampai dia sering menggigil seperti ini, kadang sering sambat karena punggungnya sakit, kadang juga sering bilang kalau dahinya panas. Aku mengetahui semuanya karena Rara lebih sering bercerita denganku dari pada dengan keluarganya atau saudaranya. Dia lebih percaya padaku ketimbang yang lainnya. Bahagia sih bisa dipercaya sebagai curahan hatinya, tapi kadang ada sedihnya juga. Sedihnya itu ketika kita berusaha memberitahu yang terbaik, tapi malah dia sedikit memberontak dan tidak suka di atur. Anggap saja kepala batu. Kalau sudah ketemu kepala batu, susahnya minta ampun. Kalau bisa jangan diladeni lagi. Kalau masih diladeni, bisa bahaya banget. Mungkin semua sifatnya ini karena ulah kedua orang tuanya. pertanyaanku cuman satu, kenapa Rara tidak mau melawan kedua orang tuanya? Padahal dia tahu, orang tahu yang layak dihormati itu seperti apa. Mungkin Rara sudah melawan, tapi karena dirinya sendirian, jadi tetap kalah dalam keadaan apa pun. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN