Setelah membutuhkan banyak waktu untuk membujuk Rara. Akhirnya aku bisa membawa Rara ke rumah sakit untuk diperiksa. Rara paling susah jika diajak ke rumah sakit, padahal hanya untuk diperiksa saja, bukan untuk disuntik.
Aku dan Rara pergi ke rumah sakit mengendarai sepeda motor, hanya berdua saja. Setibanya di rumah sakit, aku langsung mengurus identitas Rara di rumah sakit ini. Lumayan antre. Bahkan aku mendapatkan nomor antrean kelima. Dan yang dipanggil petugas masih berada di nomor dua. Karena hanya antrian indentitas saja, jadi lumayan cepat dari antrean biasanya.
“Nomor lima.”
Saat nomor lima disebutkan, aku langsung maju dan duduk di tempat yang sudah disediakan untuk mendata diri.
“Dengan siapa, Bu?” tanya petugas wanita yang bertugas untuk mendata.
“Rara.”
“Baik, mohon tunggu sebentar. Surat data dirinya akan muncul sebentar lagi.”
Tidak butuh waktu yang lama, surat data diri Rara sudah jadi dan boleh dibawa untuk periksa.
Di bagian UGD, aku dan Rara bertemu dengan seorang dokter berjenis kelamin pria yang sangat ramah. Dia langsung menyuruh Rara untuk berbaring di atas ranjang rumah sakit. Padahal ada beberapa pasien yang lagi menunggu untuk diperiksa, tapi hari ini adalah hari keberuntungan Rara.
Setelah Rara berbaring, dokter tampan itu pergi. Kupikir dokter itu pergi tidak untuk kembali lagi. Namun, ternyata dokter itu kembali dengan membawa beberapa alat periksa untuk memeriksa pasiennya.
“Permisi ya, Mbak. Saya bukain kancingnya satu dulu,” ucap dokter dengan sedikit sopan.
Rara terlihat cuek dan tidak mau menyahuti perkataan dokter.
“Baik. Anda boleh bangun sekarang. Dan mari ikuti saya agar saya bisa menjelaskan penyakit yang sedang diderita olehnya,”
Aku langsung meninggalkan Rara yang masih nyaman berbaring di ranjang itu. Lalu, tepat berhenti di depan meja yang berhadapan langsung dengan dokternya.
“Silakan duduk!”
Seketika aku duduk di kursi yang ada di hadapan sang dokter.
Padahal ini membahas soal penyakit yang di derita oleh Rara, tapi kenapa jantungku berdegup kencang. Bahkan sudah tidak bisa dikontrol lagi dengan baik.
“Baik, begini ya, Bu. Pasien yang bernama Rara mengalami luka yang cukup serius di punggungnya, maka dari itu, dia sering meriang, panas, kadang demam juga, dan yang paling parah, pasien tidak doyan makan,” jelas sang dokter dengan sangat teliti dan mudah dipahami.
Mungkin kali ini mataku terlihat berkaca-kaca di depan dokter, karena sebenarnya aku menahan air mataku setelah mendengar perkataan dokternya. Aku tak tega jika semua yang kudengar itu terjadi pada Rara.
"Lalu, bagaimana solusinya, Dok?" tanyaku sambil menatap mata sang dokter dalam-dalam.
"Aku akan mencatat resep obatnya. Tolong, nanti resep obatnya ditebus di apotek rumah sakit ini ya," jawabnya, lalu segera menyiapkan kertas dan bolpoin.
"Iya, Dok. Beri obat anti nyeri juga ya, Dok! Aku tidak tega jika Rara harus kesakitan nanti," jelasku sebelum dokter tampan ini menyelesaikan tulisan tangannya.
Yang kulihat, dokter tampan ini tetap fokus sambil mengangguk-angguk. Kemudian, aku mengalihkan pandanganku ke arah tembok samping kananku. Tidak ada apa-apa sih, cuman terlihat indah saja, karena cat temboknya terlihat sangat halus. Seiring berjalannya waktu, tembok itu mulai mengeluarkan beberapa gambar lucu. Kupikir gambar itu benar-benar keluar dari temboknya, ternyata semua itu hanya halusinasiku saja.
"Maaf, Bu. Ini resepnya," —dokter tampan itu menyodorkan kertas yang ada beberapa coretan tangannya— "Segera ditebus ya, Bu! soalnya sangat penting bagi pasien, agar luka-lukanya segera menutup tanpa ada rasa nyeri," kata dokter yang tiba-tiba mengagetkanku.
Aku langsung mengambil kertas itu dari dokter tampan. "Terima kasih ya, Dok," sahutku dengan sedikit membungkukkan punggungku.
"Oh ya, Bu. Jangan lupa bayar melalui resepsionis rumah sakit ini, terima kasih."
Aku hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan ruangan milik dokter tampan ini. padahal sebelum diberi tahu, aku juga tahu kalau harus bayar ke resepsionisnya.
Sesampainya di tempat pemeriksaan UGD, aku melihat Rara ysng sedang berbaring kesakitan. Aku tak habis pikir, bisa-bisanya kedua orang tuanya menyiksa anak sendiri? Padahal selama ini, Rara selalu menuruti keinginan mereka. kalau pun mereka tidak suka dengan seorang anak, ya jangan lahirkan Rara dari rahim mamanya. Semua manusia butuh kebahagiaan, termasuk Rara.
"Mbak, tolong jangan melamun di sini!" seseorang telah menegurku.
"Maaf," sahutku tanpa melihat ekspresi wajahnya. Mungkin dia sudah pergi lebih dulu.
Aku langsung mendekati Rara yang sedang terbaring lemah di atas kasur. Sungguh, hatiku tidak sanggup melihat Rara dalam kondisi seperti ini. Sungguh tega keluarganya Rara ini. Seperti apa sih wajah kedua orang tuanya? Aku ingin menemui mereka langsung dan bertanya langsung padanya. Jika aku mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan, aku langsung melawan dengan sekuat tenagaku. Awas saja nanti, kalau ketemu sama aku!
"Ayo, Ra. Kita tebus obat dulu, baru pulang," ajakku sambil membantu Rara bangun dari tempat berbaringnya.
Rara langsung menurutiku tanpa bertanya atau pun melawan padaku. Rasanya semakin tak tega melihat Rara seperti ini. Biasanya dia yang selalu tertawa ceria, sekarang dia harus menahan rasa sakitnya demi membuat orang-orang sekitarnya tertawa karena dirinya.
"Terima kasih ya, Neng. Hanya kamu dan keluargamu yang selalu ada untukku," kata Rara sebelum melangkahkan salah satu kakinya.
Karenanya, salah satu kakiku sempat berhenti melangkah juga.
"Aku kan saudaramu, Ra," sahutku sambil mencubit kedua pipinya dengan gemas.
Rara langsung cemberut ketika kedua pipinya dicubit olehku.
Bibir monyongnya membuatku semakin gemas. Untung saja aku bisa menahan semua rasa gemasku.
Kemudian, kami melangkah bersama, meninggalkan ruang UGD, menuju apotek rumah sakit ini. Tempatnya tidak jauh dari tempat pemeriksaan dokter spesialis.
Setibanya di apotek, aku langsung mendudukkan Rara pada kursi yang telah disediakan, lalu kutinggal untuk menyerahkan selembar kertas yang diberikan dokter tampan pada petugas apotek.
Ternyata aku dan Rara hanya disuruh menunggu beberapa menit saja, karena obatnya masih diracik oleh apoteker yang sudah lulus uji.
Sambil menunggu obatnya selesai, aku mulai menginterogasi Rara untuk berkata jujur. Berbagai pertanyaan dasar yang mampu membuatku memberikan kesimpulan dari seluruh jawaban Rara nanti.
"Ra, kenapa kamu tidak melawan?" tanyaku sambil menatap kedua bola matanya langsung.
"Aku hanya seorang anak, Neng. Dan seorang anak itu tidak boleh melawan kedua orang tuanya," jawab Rara sambil menahan tangisnya.
Terlihat begitu jelas dari tatapannya, bahwa dia sedang menahan seluruh air matanya. Bahkan, sempat-sempatnya dia tersenyum setelah menjawab pertanyaanku.
"Meskipun kamu dipukul sampai mati pun, kamu tidak akan melawan mereka?" tanyaku lagi sedikit gemas dengan jawabannya.
"Iya."
Masih ada seorang anak seperti ini? Terlalu beruntung kedua orang tuanya Rara, tapi mereka tidak mau bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Sang Pencipta.
"Satu lagi ya, Ra. Kenapa kamu harus menuruti mereka?" tanyaku lagi dan lagi.
Rara sempat menatap langit-langit sebelum menjawab pertanyaanku.
bersambung ...