LUKA

970 Kata
"Posisiku saat ini adalah seorang anak, Neng. Bukan orang lain." Seketika air mata Rara mengalir dengan deras. ya, menangislah, Ra! menangis sepuasmu! Aku hanya ingin membuatmu sedikit lebih tenang dari biasanya. Kemudian, aku mulai memeluk tubuhnya sambil meletakkan kedua lengatku di punggungnya dengan sangat hati-hati. "Pasien bernama Rara, silakan ambil obatnya di kasir," ucap seorang petugas yang membuat langsung melepaskan pelukanku pada Rara. Aku sedikit mengelus salah satu pipinya, sambil berkata, "Bentar ya, Ra ... Aku mau tebus obatnya." Rara tersenyum sambil mengangguk. lalu aku pergi meninggalkan Rara sendirian di ruang tuang tunggu. ... Di kasir apotek, aku bertemu dengan seorang petugas wanita yang sedang menunggu sambil memainkan kalkulator berukuran sedang, di atas mejanya. "Berapa semuanya, Mbak?" tanyaku basa-basi. Biasanya apotek di rumah sakit swasta seperti ini agak mahal harganya, dibandingkan dengan apotek lainnya. "Lima ratus ribu, Bu. Oh ya, diminum sesuai dengan coretan di kemasannya ya, Bu. Khusus untuk salep, dioleskan ketika mulai merasakan nyerinya," jawab petugas apoteknya sambil sedikit menjelaskan dengan ramah. "Baik, Mbak. Terima kasih." Aku langsung menyodorkan beberapa uang kertas berwarna merah padanya. kemudian, aku meraih kantong kresek berukuran kecil yang tak jauh dari pandanganku, dan langsung pergi meninggalkan kasir untuk menghampiri Rara yang sedang sendirian. Saat aku membalikkan tubuh, tak jauh dari jangkauanku, Rara sedang tersenyum hambar. Tidak perlu lagi untuk menutupi segala kesedihannya, aku sudah tahu semua tentangnya. Jika, dibandingkan dengan hidupku, lebih berat hidup Rara dari pada hidupku. Aku hanya tidak beruntung dalam percintaan, tapi kalau masalah kasih sayang keluarga, aku selalu mendapatkannya dengan cuma-cuma. Dari senyumnya, membuatku lebih bersyukur lagi dalam menghadapi masalah hidup, sekaligus membuatku semakin gemas dengan tingkah kedua orang tuanya yang tidak pernah mengucap syukur, karena sudah memiliki anak secantik dan senurut Rara. Jika aku diizinkan untuk bertemu dengan mereka, pasti sudah kujadikan ayam geprek, mumpung lagi viral. Biar hidupnya bukan tentang bagaimana caranya melukai anak sendiri, melainkan bagaimana cara mendidik anak dengan benar. "Ayo, Neng," tegur Rara membuatku mengedipkan kelopak mata berulang kali. "Oh ... Ya, ayo!" sahutku sedikit gelagapan. Aku langsung membantu Rara bangun dari tempat duduknya, sambil mendengarkan ocehannya, "Jangan melamun terus ya, Neng! Kamu masih muda." Rara langsung merangkul bahuku untuk membantu dirinya sendiri. Entah, berapa kali aku melamun tentang nasib hidupnya Rara. Akhirnya aku dan Rara pulang dari rumah sakit menuju rumah. Kebetulan jarak rumah sakit ke rumah itu tidak terlalu jauh. Disepanjang jalan, aku lebih banyak diam dari pada berusaha mengobrol dengan Rara. Aku tidak ingin mengganggu waktunya saat memandangi beberapa bangunan rumah yang ada di samping kiri jalan. ... Sesampainya di rumah, aku dan Rara disambut baik oleh mama papaku. Sepertinya sedari tadi mereka sedang menunggu kedatangan kami. Buktinya, raut wajah mama terlihat bahagia setelah melihat aku dan Rara sedang berdiri di ambang pintu. Aku selalu tersenyum pada mereka setiap tiba di rumah. "Hai, bagaimana kata dokter?" sapa mama sambil berdiri dari posisi duduknya, lalu mendekati aku dan Rara yang sedang berdiri saja. Sebelumnya memang aku dan Rara bersekongkol untuk tidak masuk rumah terlebih dahulu. Karena aku ingin melihat reaksi mereka ketika melihat aku dan Rara hanya berdiri sambil tersenyum. "Kenapa tidak masuk, Nak?" imbuh ayah yang ikutan berdiri dari posisi duduknya. Sekilas aku dan Rara sempat saling berpandangan, lalu kembali lagi memandangi kedua orang tuaku. "Tidak, Ayah. Kami hanya ingin melepaskan rasa capek kami saat berada diperjalanan," jelasku dengan berpura-pura menolak. Mendengar jawabanku, ayah langsung tertawa terpingkal-pingkal, membuat mama berekspresi bingung. "Apa yang kamu tertawakan?" sepuluh detik setelah ayah tertawa, mama langsung bertanya. "Ah ... Tidak," —ayah berusaha menahan tawanya— "Tidak apa-apa. Lucu saja. Masak, jarak rumah ke rumah sakit mereka sudah bilang capek," jawab ayah sambil sedikit menertawakanku. "Namanya juga capek, Paman ...," sambung Rara sambil mencolek lenganku. Bentar, sepertinya Rara sedang memberiku sebuah kode, tapi apa ya? Kok aku tidak paham sama sekali. Bukan hanya itu saja, setelah kami berempat masuk. Lalu duduk di kursi empuk yang memang disediakan untuk tamu itu, sering kali Rara mencolekku lagi dengan jarak kurang lebih semenit. Kenapa aku bisa tahu jarak setiap Rara mencolekku? Baca terus, sampai akhir! Sedikit demi sedikit aku mulai paham ketika kedua bola mataku mengarah pada benda yang selalu berputar setiap detik dan menitnya. "Mah, aku ajak Rara ke kamarku ya?" izinku sedikit basa-basi. "Iya ... Ajak dia istirahat, pasti sangat capek!" sahut mama sambil menatapku. Begitu dapat izin, aku langsung mengajak Rara ke kamarku dengan menuntunnya perlahan. Kemudian aku menyuruh Rara untuk tidur tengkurap, karena aku ingin mengoleskan salepnya pada punggung Rara. "Kuolesin sekarang ya, Ra?" izinku sebelum melakukannya. "Iya," sahut Rara dengan suara tak begitu jelas. Mungkin karena tengkurap. Aku langsung mengambil obat salep yang ada di kantong kresek obat tadi, karena selalu dibawa ke mana-mana olehku. Ketika lima persen dari seluruh isi salepnya itu mulai menyentuh sedikit permukaan kulit Rara yang terluka, disaat itulah aku mulai mendengar pita suaranya yang mulai bergema. "AAAWW ... SAKIT, NENG ...!" teriak Rara. Punggungnya tak berhenti untuk bergerak karena ingin menghindar dari olesan salepnya. Padahal, biasanya tidak akan terasa sakit jika diberi obat salep ketimbang obat luka yang berwarna merah itu. Apa mungkin Rara ingin dimanja ya? Kalian tahu sendiri kan, bagaimana Rara berjuang dari kecil hingga besar seperti sekarang ini. Mungkin saja. Kalau pun benar, tidak apa-apa sih, selagi dia bermanja dengan orang yang tepat. "Bagaimana? Apakah masih sakit?" tanyaku penasaran. Tiba-tiba wajah Rara menoleh padaku dengan senyum menyeringai, sempat membuatku bergidik, karena wajahnya yang terlihat sedikit menyeramkan. Spontan membuat tangan kananku menepuk pelan pantatnya, sambil berkata, "Kebiasaan deh!" Kemudian, Rara memposisikan dirinya menyamping ke arahku. Dia terus menertawakanku perihal yang tadi. "Aduh, Neng. Ternyata penakut, ya?" godanya sambil mencolek daguku. Aku hanya bisa diam, sambil menunggu Rara untuk minta makan. Soalnya, seluruh obatnya harus diminum setelah makan. Tapi ... Yang ada nanti Rara tidak makan, soalnya kalau dilihat dari wajahya, dia ini tipe orang yang enggak suka minum obat. Apapun bentuk obatnya, selain suplemen. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN