RARA TERNYATA BISA MENGGEMASKAN

1060 Kata
"Kenapa Rara nggk makan, Neng?" Suara kalimat tanya itu membuatku langsung menoleh ke arah pintu. Ternyata mama sudah berdiri diambang pintu sambil melihat kita berdua. "Ah, iya ... Nanti saya makan di rumah saja, Tante. takutnya mama nunggu di rumah," jawab Rara terlihat sedikit sungkan. "Harus makan di sini, Ra!" sambungku sedikit tegas. "Iya, benar kata Ester, Ra. Makan di sini saja! Tante sudah masak banyak hari ini," bujuk mama agar Rara makan di rumah. Terlihat, Rara hanya tersenyum simpul. Lalu, bangun dari posisi tidur tengkurapnya dan berusaha meraih tanganku. Tiba-tiba, kedua mata Rara menatapku dalam-dalam, seperti ingin memberitahu sesuatu padaku, tapi sayangnya, aku tidak pernah peka jika tentang kode-kode atau semacamnya. Kemudian, dia mencolekku, membuat tubuhku sedikit bergerak kaget. "Apa, Ra?" tanyaku tidak mengerti. "Tidak. Tidak ada apa-apa!" Lalu, aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu, ternyata ... Sosoknya sudah tidak ada lagi. Entah, sejak kapan beliau pergi. "Kamu mau makan tah, Ra?" tanyaku sambil seketika menatap wajah Rara yang sedari tadi menatapku. "Hu'um." Rara mengangguk dengan tatapan sayu. Setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut dan melihat sendiri ekspresinya, aku berusaha menahan tawaku dan bangkit dari tempat dudukku menuju dapur, untuk mengambilkan Rara sepiring nasi dan beberapa sayur dan juga lauk. Sesampainya di dapur, aku melepaskan semua tawaku di belakang mama yang sedang membuatkan kopi untuk ayah. Sampai-sampai mama menoleh ke arahku, hanya untuk memastikan apakah diriku baik-baik saja atau tidak. "Kamu kenapa, Ra?" tanya mama sambil menghampiriku. Aku terus tertawa puas, sampai aku lupa bagaimana caranya untuk menghentikan tawaku. Saking puasnya tawa ini, apalagi ketika melihat raut wajah Rara yang menggemaskan. Seketika aku mengernyitkan keningku, ketika jari tangan mama yang jail ini mulai menjahiliku lagi. Beliau sangat senang saat menarik ujung hidung mungilku ini. "Ish ... Mama ini ya! Jangan begitu, ah ...," gerutuku sambil menepis pelan tangannya dari wajahku. Di saat itu juga, mama langsung menertawakanku, sambil kedua tangannya mencubit kedua pipi kenyalku. "Kenapa anak mama lucu sekali sih ...? Isshh ...," gumam mama dengan gemas sambil terus mencubiti pipi-pipiku yang malang ini. Padahal, kedua pipiku tidak terlalu tembam, tapi saat dicubit rasa kenyal-kenyal bagiamana gitu. Makanya banyak yang suka, bukan cuman mama sih. Kalau ada kesempatan, kakak dan adikku kadang juga mencubit kedua pipiku. Rasanya pipiku ini ditakdirkan untuk bahan bulan-bulanan keluargaku. "Sudah ahh, Ma ... Rara sudah menungguku di kamar," rengekku. Tiba-tiba mama sedikit menjauh dan melepaskan tangannya dari kedua pipiku. "Oh, iya ... Ya sudah, lanjutin, Nak!" Aku langsung tersenyum padanya ketika bisa bebas dari mama. Rasanya tak tahan lagi. Mungkin kedua pipiku sudah memerah karena hasil cubitannya. Dengan cepat aku mengambil nasi, sayur, dan lauknya. Semua makanan itu kuletakkan di atas piring agar aku bisa pergi dari dekat mama. Kalau kedua pipiku berhasil ditangkap lagi, aku tidak akan memiliki kesempatan untuk kabur kedua kalinya. Setelah piring yang kupegang ini sudah terisi penuh, aku mulai pamit pada mama, "Ma, aku ke kamar dulu ya! Nanti! Keburu Rara laper, Ma." Kaki kiriku sudah siap untuk melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi. Sampai aku berani mengabaikan mamaku, karena ada sedikit rasa jengkel di hatiku, karena sikap mama padaku. Sudah tahu kalau aku tidak suka jika kedua pipiku dicubit, namun mereka tetap saja mencubitku bila ada kesempatan. Sesampainya di kamar, nafasku mulai tersengal-sengal, karena aku sempat berlari sedikit. Pikirku agar mama tidak berhasil menangkapku lagi. Tapi ternyata aku yang terlalu PD (percaya diri). Mama tidak benar-benar sedang mengejarku, tapi rasanya seperti sedang dikejar oleh beliau. Sungguh berdosa diriku ini. Ketika padanganku dan pandangan Rara mulai bertemu, aku malah salah tingkah dihadapannya. Padahal sepertinya Rara sedang berusaha untuk memberikan sebuah pertanyaan, namun selalu tertahan karena tingkahku. Kemudian, aku memberanikan diri untuk memberikan isyarat padanya dengan mengangkat kedua alisku. Rara mengedipkan kedua matanya sambil sedikit mengangguk. "Hmm ... Terima kasih ya, Neng ... Kamu sangat baik," ungkap Rara dengan pandangan menunduk. Aku langsung mendekati Rara dan mengusap lengannya. "Aku sudah menganggapmu saudaraku sendiri. Jangan khawatir!" jelasku mencoba untuk membuatnya tidak sungkan lagi pada keluargaku. "Ha, ayo kita makan! Hari ini mama masak banyak banget," imbuhku sambil mengaduk nasi dan sayur agar tercampur. Rara langsung membuka mulutnya lebar-lebar. "Aaaa ...." Aku hanya tersenyum menyeringai ketika melihat tingkahnya yang seperti anak kecil, padahal aku belum siap meletakkan beberapa nasi yang sudah kecampur sayur di atas sendok. Tapi, dengan polosnya Rara langsung membuka mulutnya. "Ayo! Aaaaa ...," ucapku dengan gemas. Spontan Rara langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Melihat mulutnha yang sedang terbuka, aku langsung menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. "Enak, Ra?" tanyaku sambil terus memperhatikan tingkahnya. Yang membuatku gemas dan heran, karena tiba-tiba Rara menggoyangkan kepalanya setelah mengangguk padaku. Entahlah, aku juga tidak paham dengan maksud Rara yang menggoyangkan kepalanya ketika mengunyah makanannya. Apakah itu reaksi darinya? atau memang dibuat seperti itu? "Aaa ...." Dengan polosnya Rara membuka lagi mulutnya lebar-lebar. Ternyata diriku kalah cepat dengannya. Aku saja belum selesai mengambil nasi dengan sendok lagi. Tapi, makanan yang ada di dalam mulut Rara sudah habis, bahkan tidak tersisa sedikit pun. "Jangan cepat-cepat, Beb!" tegurku sambil terburu-buru menyuapinya lagi. "Enak ...," ucap Rara random, sambil menggoyangkan kepalanya lagi. Tanpa terasa nasi, sayur, dan lauk yang ada di atas piring sudah ludes, tetapi kelihatannya Rara belum benar-benar kenyang. Buktinya dia terus merengek padaku. "Mau lagi, Neng! Mau ...." Rara menggoyangkan lengan kananku agar segera bangun dan mengambilkan nasi lagi untuknya. Aku tidak segera bangun, karena masih ingin melihat Rara yang merengek manja padaku. Sudah seperti bayi yang lagi minta s**u pada ibunya. Sungguh menggemaskan sifatnya. Baru kali ini aku melihat Rara manja pada seseorang, maksudku pada diriku sendiri. "Ayolah, Neng! Aku mau lagi!" Rara semakin mengguncang lenganku. Aku langsung berdiri, otomatis lengannya jatuh. "Tunggu di sini! Aku mau ambil nasinya lagi, ya," jelasku yang tak luput untuk mencubit salah satu pipinya. Setibanya di dapur, mamaku menyuruh untuk membawa setoples kue kacang kering kesukaanku. Kupikir untukku, tapi ternyata untuk Rara seorang. "Ini untuk Rara ya, Neng." Mama mulai menyodorkan toples kue kacang itu padaku. Mau tidak mau, aku harus memberikan pada Rara. Lagi pula, nanti mama bisa bikin lagi untukku. Kalau Rara kan belum tentu dapat lagi dari keluarganya, yang ada nanti malah berantem. Setelah mengambil tople itu, langsung kuletakkan di atas meja makan, karena aku masih mau ambil nasi, sayur, dan juga lauk yang sama seperti tadi. Berhubung Rara tidak memberikan permintaan padaku, jadinya kuberikan saja makanan yang sama. Bedanya, kalau sekarang masih ditambah kue kacang kering, kalau tadi belum ada camilannya. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN