"Ini, untukmu!" —aku menyodorkan toples yang berisi kue kacang padanya— "Buatan mama," jelasku sambil tersenyum.
Toples itu terbuat dari plastik yang transparan, jadi bisa mengetahui isinya apa.
"Wah, pasti enak ini." Dengan antusias, Rara langsung mengambil dengan cepat dari tanganku.
Kemudian aku duduk di samping Rara sambil menyiapkan sesendok nasi untuknya.
Ternyata bukan aku dan saudaraku saja yang menyukai kue buatan mama, tapi Rara juga menyukainya. Bahkan sekarang menjadi saingan terberatku. Soalnya—apa-apa—mama selalu mengutamakan Rara ketimbang aku—anaknya sendiri.
Tiba-tiba Rara langsung membuka mulutnya. "Aaa ...."
Namun, kedua matanya tetap menatap ke arah isi toples yang kusodorkan tadi. Sama seperti anak kecil kalau lagi disuapin mamanya.
Nyam! Nyam! Nyam!
Rara mulai mengunyah dengan semangat, tak lupa kepalanya selalu goyang saat menyantap makanan enak.
"Buat aku kan, Neng?" celetuk Rara menatapku, sambil menunjuk isi toples yang dipegangnya.
Aku hanya mengangguk sambil menyuapinya lagi, karena kelihatannya, dalam mulutnya sudah kosong lagi.
"Emm nyam ... Emm nyam ... Enak loh!" Berulang kali Rara berkata seperti itu saat makan bersamaku.
Tanpa terasa lagi, Rara berhasil menghabiskan sepiring nasi yang kedua. Memang beda si Rara ini. Punya perut karet. Makannya banyak, tapi tidak bisa gemuk. Mungkin memang banyak pikiran, makanya badannya capek dan tidak bisa mengembang.
Sebelum pergi meninggalkan Rara di kamar, aku sempat menawarkan sesuatu padanya, "Mau nambah lagi, Ra?"
Spontan Rara langsung geleng-geleng. "Hmm ... No! Aku segera ingin menikmati kue kacang ini," sahut Rara dengan pandangannya tetap fokus pada toples yang dipegang.
"Hmm ... Oke," sahutku, lalu beranjak dari tempat dudukku dan pergi meninggalkan Rara.
Baru saja keluar dari kamar, aku melihat Yovi duduk di sofa ruang tamu. Dia terus berbincang dengan kakakku.
"Yang ...."
"Sssttt ...." Aku langsung meletakkan jari telunjuk pada bibirku dengan posisi vertikal.
"Kalian saling kenal?" tanya kakak sambil menatapku, lalu menatap Yovi.
Dengan percaya diri, Yovi langsung mengeluarkan jawabannya, "Iya, kami paca—"
"Kami hanya berteman," potongku sambil terus meyakinkan kakakku sendiri.
Tiba-tiba kakak berdiri, lalu mendekatiku. "Yakin, kalian ini hanya berteman?" tanyanya tak percaya.
"He'eh!" Aku mengangguk dengan arah pandangan ke bawah.
"Apakah itu benar?" tanya kakak sekali lagi. Entah sedang bertanya ke siapa.
"Iy—"
"Iya, benar juga kata dia. Kami hanya berteman," Yovi memotong perkataanku.
Padahal aku belum selesai menjelaskan maksudku.
Kelihatannya Yovi ke sini bukan karena aku, buktinya saat aku keluar tadi, dia sempat terkejut. Oh ya, aku lupa. Waktu itu Yovi belum bertemu dengan kakakku, jadi sepertinya dia tidak tahu kalau aku ini adik kandung dari kakakku.
"Masuk sana, Neng!" perintah kakak sambil menatapku dengan tajam.
Aku langsung berjalan tergesa menuju dapur. Setibanya di dapur, mama langsung mencubit kedua pipiku tanpa ampun.
"Hayooo ... Kenapa kamu bawa dia ke rumah lagi?" tanya mama dengan nada godaan.
"Bukan a—"
"Sssttt!" Mama langsung meletakkan jari telunjuknya ke mulutku dengan posisi vertikal.
Kemudian, mama menarikku ke meja dapur dekat cuci piring, lebih tepatnya menjauh dari pintu. Di sini, mama langsung meletakkan piring bekas makan Rara ke tempat cuci piring. Tiba-tiba salah satu tangan mama menahan kedua lenganku.
"Kalau bisa, cari yang seiman! Jangan pacaran dengan beda agama terus!" kata mama dengan tegas.
Perkataannya langsung menamparku dengan keras. Bisa saja aku terjungkal, lalu nyungsep di hadapannya. Seperti sebuah pedang yang tertancap tepat di ulu hati—sakit rasanya. Bukan sakit lagi, tapi sangat luar biasa rasanya.
Bukannya tidak ingin menjalin hubungan dengan orang yang seiman, namun apa dayaku—mereka sulit didapatkan. Selama ini yang kudapatkan selalu yang beda agama. Entah kenapa? Rasanya mereka itu bikin candu. Meskipun aku tahu akhir ceritanya, tapi tetap kulakukan lagi, lagi, dan lagi.
Tiba-tiba mama melepaskan lenganku, lalu pergi begitu saja. Di situ aku sudah seperti seorang anak plonga-plongo—ditinggal mamanya.
"Mah ...?" Aku berusaha memanggil mama dengan suara tidak terlalu nyaring.
Tapi, mama mengabaikan panggilanku. Padahal menurut perkiraanku, pasti mama mendengarnya, saking diabaikan saja. Mungkin ingin mengajak bicara pada tamunya.
Setelah kepergian mama dari dapur, aku mulai keluar dari sana dengan pandangan menunduk. Sering kali tabganku menyibakkan rambut kebelakang dan meletakkan poni sampingku ke belakang telinga.
"Neng, ke sini!"
Pandanganku langsung sedikit terangkat, menatap mereka bertiga (Kakak, mama, dan Yovi) yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Dengan kompaknya, mereka menatapku dengan ekspresi yang tak kumengerti.
"Ada apa, Mah?" Aku tetap melangkah perlahan, mendekati mereka.
Kemudian, mama menepuk permukaan sofa yang ada di sampingnya, dengan pandangan tetap ke arahku. "Duduk di sini, bareng mama!"
Untung hari ini ayah pergi. Nanti bisa panjang urusannya. Meskipun di rumah hanya ada mama, kakak, dan adek, setidaknya ada yang menemani dan mengajak bicara Yovi di ruang tamu. Tapi nyatanya, yang menemani tamu itu selalu mama dan kakakku, sedangkan adikku sibuk bermain dengan temannya. Karena diperintah mama, akhirnya aku ikut nimbrung di sofa bersama mereka. Meskipun diriku benar-benar tidak sudi menemui Yovi, tapi karena mama, aku harus tetap sportif. Siapa tahu dia datang ke sini hanya ingin bertemu dengan kakak kandungku.
Tapi, sejak kapan dia kenal dengan kakakku? Sejak kapan juga dia tahu rumahku? Padahal waktu itu ketemunya di rumah kakek nenekku. Aku dan dia juga jarang kirim pesan, jarang melakukan panggilan telepon, dan jarang banget berbincang melalui ponsel. Padahal sudah tahu hubungan jarak jauh ini semakin sulit jika, tidak saling mengabari. Bukan tidak saling mengabari, dianya saja yang tidak bisa membagikan waktunya.
"Maaf, Tante. Izinkan saya untuk mengajak Ester jalan-jalan, Tante!"
"Jangan diizinkan, Ma! Aku tidak ingin keluar dengannya!" celetukku dan langsung berdiri dari posisi duduk di sofa.
"Tapi kenapa, Yang?" tanya Yovi.
Aku menghela napas panjang, sambil menatap wajahnya. "Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi! Sudah cukup ya, Yov ... Jangan sakiti perasaanku dengan sikapmu ini!" jelasku dengan tegas. Kedua tanganku juga tak berhenti ikut bergerak.
Yovi terus menatapku sambil sedikit mendongakkan kepalanya. "Aku ke sini itu untuk menemuimu. Jadi, tolong hargai perjuanganku!"
Selang semenit dari perkataan Yovi, tiba-tiba tanganku digenggam oleh orang yang ada di sampingku, tak lain adalah mamaku sendiri. Sontak membuatku menoleh padanya. Dari ekspresi wajahnya yang kulihat saat ini, mama berusaha meyakinkanku untuk segera ikut dengannya.
"Mah ... Jangan paksa aku!" ucapku sedikit membentak.
Tak menunggu waktu lama, aku langsung meminta maaf. Karena aku sadar, bahwa perbuatanku pada mama itu salah. Tidak seharusnya seorang anak membentak orang tuanya sendiri.
Kemudian, mama memintaku untuk duduk kembali. Aku pun langsung menuruti perintahnya. Yang selalu membuatku heran, tangan kanan mama selalu diletakkan pada kedua pahaku sambail menggenggam sala satu tanganku. Sedangkan tangan kiri mama berada di pinggul kananku dengan melingkar di bagian punggung bawahku.
Tiba-tiba mama mendekatkan wajahnya ke wajahku bagian samping kiri. "Ikutlah dengannya! Kasihan, dia sudah pergi jauh-jauh hanya untuk bertemu denganmu," bisik mama dengan berusaha merayuku.
"Tapi, Mah ...."
Dengan sigap jari telunjuk mama sudah berada di mulutku dengan posisi vertikal.
"Hanya kali ini saja, Nak," bisiknya lagi dengan terus membujukku.
Kalau bukan karena mama, aku tidak akan sudi jalan-jalan berdua dengannya. Walaupun membawa teman juga, aku tidak akan mau keluar dengannya.
"Baiklah. Hanya kali ini saja, ya! Jangan paksa aku lagi!" sahutku ketus.
"Terima kasih, Tante," ucap Yovi dengan senyum liciknya.
Cih! Kalau bukan karena mama, kau tidak akan bisa jalan denganku! Mau sampai kapan pun, aku akan tetap menolakmu.
"Aku mau ganti baju!" Langsung kupalingkan wajahku dari mereka bertiga, sambil berdiri dari posisi duduk, dan berjalan mendekati kamar.
Setibanya di kamar, aku melihat Rara yang sedang sibuk memakan kue kacang pemberian mama. Dia terlihat sangat tenang, seperti anak kecil yang sedang mendapatkan jajan kesukaannya atau mainan yang dia inginkan. Sungguh ... Itu sangat menggemaskan.
"Hai, Ra ...," sapaku sambil terus melangkah, mendekatinya.
"Hai ...." Tatapan Rara tetap fokus pada toples kue kacang yang sedang dia pegang.
Aarrggghhh ...!
Rasanya segera ingin mencubit kedua pipinya yang tembam nan menggemaskan itu.
"Iihhh ... Gemassssnyaaa ...." Akhirnya aku kesampaian untuk mencubit pipinya. Ya ... Walaupun hanya salah satu dari kedua pipinya.
"Aaw ... Sakit, Neng!" tegur Rara dengan bibir yang sudah monyong.
Aku tersenyum puas. "Habisnya sih—kalau punya pipi itu jangan terlalu tembam! Jadi gemes aku tuh ...," sahutku sambil berjalan mendekati lemariku yang tak terlalu jauh dari ranjang kasurku.
Mungkin jaraknya sekitar kurang lebih lima meter dari ranjang kasurku.
Ketika tiba di depan lemariku, kedua tanganku langsung membuka kedua pintu lemari yang tidak terlalu besar ini. Ada beberapa baris baju yang tersusun rapi dan juga ada beberapa baju yang tergantung di ruang sebelahnya.
Tiba-tiba aku mendengar suara Rara yang mulai bertanya padaku.
"Mau ke mana, Neng?"
Aku tidak tahu apa yang Rara lakukan, karena seluruh tubuhku terlalu fokus pada bagian dalam lemari. Padahal ada banyak pilihan baju di lemariku, bahkan terlihat sedikit sesak. Tapi anehnya, aku selalu merasa kalau pakaianku itu-itu saja dan sangat membosankan. Rasanya seperti memiliki baju dua sampai sepuluh pcs saja (2-10 pcs)
"Aku mau keluar dengan mantan kekasihku, Ra. Soalnya dia sudah datang ke rumah," jawabku malas.
Sungguh! Rasanya aku tidak ingin membahas Yovi di depan siapa pun, atau mengingat namanya, walah hanya sekali.
Jika permasalahannya hanya tidak bisa membagi waktu. It's okelah ... Aku bisa mengerti. Tapi, ini berbeda. Baiklah ... Jangan dibahas lagi!
"Pakailah dress berwarna coklat s**u! Pasti terlihat sangat cantik padamu," Rara mulai menyarankan tentang apa yang akan kukenakan.
Aku langsung membalikkan tubuhku menghadap ranjang kasur. "Masalahnya ... Aku tidak punya dress berwarna coklat s**u, Ra," sahutku sambil meletakkan kedua lenganku ke samping kanan dan kiri pinggangku.
Bersambung ...