Sungguh! Rasanya aku tidak ingin membahas Yovi di depan siapa pun, atau mengingat namanya, walah hanya sekali.
Jika permasalahannya hanya tidak bisa membagi waktu. It's okelah ... Aku bisa mengerti. Tapi, ini berbeda. Baiklah ... Jangan dibahas lagi!
"Pakailah dress berwarna coklat s**u! Pasti terlihat sangat cantik padamu," Rara mulai menyarankan tentang apa yang akan kukenakan.
Aku langsung membalikkan tubuhku menghadap ranjang kasur. "Masalahnya ... Aku tidak punya dress berwarna coklat s**u, Ra," sahutku sambil meletakkan kedua lenganku ke samping kanan dan kiri pinggangku.
*** *** *** ***
"Sungguh payah dirimu ini!" pekik Rara sambil meletakkan toplesnya di atas meja.
"Biar kuambilkan di rumah dulu," lanjut Rara yang langsung mengambil ponselnya di atas meja dekat lampu tidurku.
"Ja—"
"Halo, Pak ... Tolong ambilkan dress saya yang berwarna coklat s**u! Dress itu ada di lemari gantung sebelah kanan," Rara memotong perkataanku dan memilih untuk berbicara pada pelayan yang ada di rumahnya.
Entah itu pelayan atau sopirnya, aku tidak tahu. Yang jelas dia sedang berbicara pada seorang pria yang lebih tua darinya.
"Iya, Pak. Tanyakan pada Bi Minah, Pak!" sahut Rara dengan menggigit bibir bawahnya. Mungkin dia sedang menahan emosinya.
"Oke, Pak. Terima kasih ...."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Rara langsung meletakkan ponselnya di atas meja lagi.
Kemudian Rara menatap wajahku, sambil sedikit mengangkat kepalanya dengan cepat, dibarengi dengan keningnya yang mulai mengerut.
"Tidak apa-apa, Ra. Lupakan saja!" ucapku sambil membalikkan badanku lagi untuk menghadap ke lemari.
Tak lama kemudian, aku mulai teringat sesuatu tentang Rara yang berbicara pada pelayannya di rumah. Hingga membuat seluruh tubuhku berbalik ke tempat Rara duduk.
"Jangan repot-repot, Ra! Aku masih ada celana dan atasan lainnya. Enggak harus pakai dress-kan?" celetukku
Tiba-tiba Rara bangun dari posisi duduknya di atas kasur. Bangun seperti biasanya, seperti tidak sedang terjadi apa-apa. Padahal semua luka yang ada di punggungnya itu sangat jelas. Dia langsung mendekatiku.
"Percayalah! Kamu akan terlihat sangat cantik jika memakai dress itu." Rara meyakinkanku sambil membelai rambut panjangku.
Saat ini, aku mulai mengerti. Peran kedua orang tua itu sangat penting bagi si buah hati. Mulai dari pembelajaran mental, attitude, dan fisik, semua dari orang tua. Tidak semua orang tua bertanggung jawab dalam mengurus anak, karena dalam mengurus anak itu harus sabar dan mengerti keinginan seorang anak. Jika keinginannya itu baik, maka turuti saja. Dan jika keinginan anak tidak baik, maka beri penjelasan yang mudah dimengerti. Jangan biasakan membentak anak setiap kali anak melakukan kesalahan! Saranku, jika kalian tidak siap diberi tugas untuk mengurus seorang manusia yang baru lahir, maka jangan ngotot pada Tuhan untuk segera diberi momongan!
Tak lama kemudian, ponsel Rara berdering panjang—menunjukksn bahwa ada yang berusaha menghubunginya. Rara langsung berjalan mendekati ponselnya yang ada di atas meja.
"Halo, Pak. Bagaimana? Apakah sudah ketemu dress-nya?" tanya Rara setelah meletakkan ponselnya pada daun telinga sebelah kanannya.
"Oh, iya-iya, Pak. Tunggu sebentar! Saya mau keluar dulu," sahut Rara setelah terdiam beberapa menit sambil mendengarkan suara dari ponselnya.
Setelah itu, Rara langsung meletakkan ponselnya lagi di atas meja dekat dengan toples yang berisi kue kering tadi. Lalu, berlari keluar rumah tanpa berpamitan padaku. Padahal punggungnya sedang tidak baik-baik saja.
"RA ...! MAU KEMANA?" teriakku bertanya padanya ketika dia sudah tidak ada di kamarku.
"BENTAR YA, NENG ...."
Aku langsung membalikkan tubuhku menghadap jendela. Melihat Rara yang sedang berlari ke arah gang kecil.
Anak itu memang susah diatur! Untung saja masih berdiam diri di rumahku, kalau di rumahnya sendiri ... entahlah apa yang akan keluarganya lakukan untuk dirinya sendiri. Gumamku sambil terus memperhatikannya dari jendela bagian dalam. Ternyata Rara tetap terlihat cantik, walau hanya dari dari punggung dan rambutnya yang panjang, tergurai bebas di sana.
"Neng ... Belum selesai ganti bajunya?"
Suara mama mulai terdengar dari luar kamarku.
"Sebentar, Ma ...."
Aku sengaja tidak keluar kamar, hanya karena tidak ingin melihat wajah Yovi. Saat melihat wajahnya, otomatis membawaku ke hari kemarin lusa, dimana saat dia sedang jalan berdua di mal tempat kerjaku. Padahal dia selalu mengirim pesan, dengan tujuan ingin memberitahuku bahwa dirinya sedang sibuk.
Lantas, laki-laki mana yang dapat kupercayai selain ayah dan saudara kandungku sendiri?
Diriku sudah gagal dalam mencari pasangan seiman, ditambah gagal dalam percintaan juga. Rasanya tidak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun, tapi aku butuh seseorang yang selalu menyemangati hari-hariku. Eh, yang kudapatkan malah seperti ini. Kisah yang terlalu pahit untuk dirasakan dan enggan untuk dilupakan.
"Hei ...!"
Tiba-tiba tangan seseorang menepuk pundakku dengan pelan. Membuatku sedikit kaget dan langsung membalikkan tubuhku.
"Kebiasaan deh!" Aku langsung memalingkan wajahku ketika tahu siapa yang sedang ada di belakangku.
Rara hanya tertawa, lalu menyodorkan gaun miliknya ke hadapanku. Padahal aku bisa pakai baju seadanya, misalnya celana dipadukan dengan kaos, atau bisa memakai rok di atas lutu dan dipadukan dengan kaos yang bermacam-macam modelnya. Kalau dress memang aku tidak pernah suka dengan dress, jadi tidak pernah beli, meskipun ada acara apa saja di daerah rumahku, aku tetap memakai celana dan kaos saja. Sesimpel itu diriku, tapi tetap saja disia-siakan.
Oke, kita balik ke cerita.
"Tapi, Ra ... Apakah aku cocok memakai dress ini?" tanyaku sedikit ragu, sambil mengerutkan keningku.
Seumur hidupku, aku belum pernah mencoba untuk memakai dress. Dress biasa saja aku belum pernah coba, apalagi dress yang banyak modelnya.
Kedua tangan Rara langsung memegang kedua bahuku. Dia tersenyum sambil terus meyakinkanku dengan berkata, "Kamu selalu cantik, meskipun pakai baju sobek sekalipun!"
Serius? Rara belajar dari mana kata-kata gombal ini? setahuku hanya laki-laki saja yang sering mengatakan omong kosong seperti ini.
Spontan membuatku langsung memalingkan rambutku ke belakang telinga, sambil berkata, "Jangan begitu, ah ... Aku jadi tidak enak ...."
Tangan kananku langsung beralih untuk mencubit pipi kirinya dengan gemas.
Tiba-tiba Rara memelukku dengan erat. Sedangkan kedua tanganku, kubiarkan terjuntai, karena aku takut untuk menyentuh punggungnya. Sekali melihat punggungnya saja, membuatku selalu terbayang-bayang ketika ingin memeluknya dan ketika melihat dia berdiri di depanku.
Jika itu punggungku, pasti aku terus merintih kesakitan. Tapi beda lagi dengan Rara. Dia selalu terlihat ceria tanpa menunjukkan rasa sakitnya sedikit pun. Jujur! Aku sangat salut padanya. Dia tidak pernah mengeluh dengan keluarganya sendiri. Bahkan dia selalu bersikap baik dan selalu menghormati kedua orang tuanya.
Menurutku itu tidak adil, bahkan sangat tidak adil. Kurang menghormati apa coba? Dia selalu menuruti semua keinginan keluarganya. Apa mungkin karena, dia hanya anak tunggal, ya? Jadi harus sekuat baja dan selalu bertahan dalam keadaan apa pun juga.
Kemudian, aku mendengar suara bisikannya. "Terima kasih ya, Neng ... Karena kamu sudah mau menjadi teman baikku, bahkan sudah seperti saudara sendiri. Selama ini, aku tidak pernah tahu, bagaimana rasanya punya saudara kandung ... Aku, menyayangimu!"
Tak terasa, air mataku menetes dengan deras. Rasanya ingin membalas pelukannya. Namun, aku teringat dengan luka di punggungnya. Memang kali ini dia tidak merasa nyeri, karena sudah diberi obat salep, tapi nanti ... Pasti akan merasakan nyeri yang luar biasa.
"Ra ... Apakah aku boleh memelukmu juga?"
Bersambung ...