Menurutku itu tidak adil, bahkan sangat tidak adil. Kurang menghormati apa coba? Dia selalu menuruti semua keinginan keluarganya. Apa mungkin karena, dia hanya anak tunggal, ya? Jadi harus sekuat baja dan selalu bertahan dalam keadaan apa pun juga.
Kemudian, aku mendengar suara bisikannya. "Terima kasih ya, Neng ... Karena kamu sudah mau menjadi teman baikku, bahkan sudah seperti saudara sendiri. Selama ini, aku tidak pernah tahu, bagaimana rasanya punya saudara kandung ... Aku, menyayangimu!"
Tak terasa, air mataku menetes dengan deras. Rasanya ingin membalas pelukannya. Namun, aku teringat dengan luka di punggungnya. Memang kali ini dia tidak merasa nyeri, karena sudah diberi obat salep, tapi nanti ... Pasti akan merasakan nyeri yang luar biasa.
"Ra ... Apakah aku boleh memelukmu juga?"
*** *** ***
Baiklah, mungkin Rara tidak ingin merasakan sakit yang sama lagi, makanya dia hanya terdiam membisu. Bahkan tidak berani untuk mulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Ra, maaf. Aku harus segera pergi dengan mantanku," pamitku tanpa berani melepas pelukannya terlebih dahulu.
Rara langsung melepaskan pelukannya, sambil berkata, "Emm ... Maaf, aku lupa."
"Kalau butuh apa-apa, panggil saja mamaku ya, Ra. Dia menyukaimu, karena kamu selalu membuatnya tersenyum tanpa henti," saranku sambil mendekati lemari, hanya untuk mengembalikan pakaianku.
"Okee ...," sahutnya dengan bernada yang bikin candu.
Kemudian, aku segera memakai dress yang dipinjamkan oleh Rara. Padahal aku tidak suka memakai dress, tapi karena melihat perjuangannya, jadi mau tidak mau, aku harus memakainya. Entahlah, akan seribet apa nanti. Apalagi kalau Yovi ternyata tidak membawa mobilnya dan hanya membawa sepeda motor matic.
"Ra, aku pergi dulu ya ... Jaga diri baik-baik di sini!" pamitku sambil mencubit salah satu pipinya, padahal aku sendiri masih ribet dengan tas dan ponsel yang kubawa.
"Hati-hati, ya, Beib ... TOS dulu!" sahut Rara sambil mengulurkan genggaman tangannya.
Spontan aku langsung menyentuh genggaman tanganku pada tangannya. Lalu, aku segera pergi dari kamarku, meninggalkan Rara sendiri. Kemudian, aku mulai menarik napas panjang dan langsung kuhembuskan perlahan, ketika melihat wajah Yovi yang sedang berbincang dengan mama.
"Aku, sudah siap!"
Spontan seluruh mata memandang padaku.
"Saya, bawa Neng Ester dulu ya, Tante. Nanti saya kembalikan dengan keadaan yang sama," dia meminta izin pada mamaku.
"Jangan sampai adikku kenapa-kenapa!" sambung kakakku sambil berdiri dari tempat duduknya.
Yovi langsung mengangguk. "Iya, Mas. Siap!"
"Aku pergi dulu ya, Mah, Mas ...," pamitku sambil sedikit membungkukkan punggungku.
Mama hanya mengangguk dengan dibarengi suara sahutan dari bibir berwarna merah muda milik kakakku, "Yoi ... Hati-hati!"
Kemudian, aku mempersilakan Yovi untuk keluar terlebih dahulu dari rumahku dan langsung kususul di belakangnya. Bukan apa ... Aku tidak tahu, di mana Yovi meletakkan kendaraannya? Apakah di depan rumah tetangga? atau di jalan raya?
Setelah agak jauh dari rumah, tiba-tiba Yovi menghentikan langkahnya, dan menyuruhku untuk berdampingan dengannya. Karena aku tidak ingin berdebat dengannya lagi, jadi aku langsung menuruti keinginannya.
"Sebenarnya, aku ingin cerita tentang wanita itu sebelum jalan dengannya. Tapi aku takut menganggu waktumu ...," celetuk Yovi dengan tatapan fokus ke depan.
Sedangkan aku, tidak fokus, hanya karena melihat leher jenjangnya. Entah kenapa, rasanya aku mulai menyukai bentuknya lehernya. Padahal bentuknya sama saja, cuman agak sedikit berbeda. Gara-gara lehernya, aku sampai tidak mendengar suara ocehannya lagi. Semua fokusku benar-benar teralihkan ke lehernya. Baru kali ini sih, aku seperti ini. Seingetku, dulu tidak pernah seperti ini.
Oh ya, deng ... Aku baru ingat! Kalau dulu aku juga sering begini. Tetapi beda objek. Dulu pernah suka sama mata, bibir, hidung, alis, pipi, dan lainnya. Tapi setelah melupakan semua itu, aku tak lagi suka dengan objek sama yang pernah aku suka dulu.
"Neng ... Kamu mendengarkan suaraku kan?"
Spontan pandanganku sedikit lebih naik dari tempat lehernya. Melihat lehernya saja, kepalaku sudah sedikit dongak, ditambah lagi harus menatap wajahnya. Soalnya, tinggi badan kami berbeda. Tinggiku hanya setengah dari tingginya.
"Iya? Aku mendengar semuanya kok," jawabku tak yakin.
"Syukurlah kalau mendengar semuanya, Neng ... Jadi, bagaimana? Apakah aku diberi kesempatan lagi?" tanya Yovi sambil membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku.
"Eee ...."
Jujur, aku tidak tahu harus mengatakan apa? Aku juga tidak tahu harus menjawab apa? Soalnya, aku benar-benar tidak menyimak dan mendengarkan ocehannya. Aku hanya terlalu fokus pada lehernya saja.
"Tidak harus sekarang kok, Neng ... Aku akan terima semua keputusanmu, kapan pun itu!" jelas Yovi.
Lalu melanjutkan lagi langkahnya setelah menghadapkan badannya ke depan lagi.
Kami berdua melewati gang sempit yang biasa kugunakan ketika sedang jalan kaki, karena saat keluar dari gang ini langsung menuju ke jalan raya. Kalau dari jalan raya, begitu keluar dari gang sempit ini, langsung ketemu dengan rumahku. Mungkin hanya berjarak satu sampai dua rumah saja (1-2 rumah saja).
Saat keluar dari gang sempit, dan bertemu jalan raya, tiba-tiba aku melihat Yovi sedang berhenti di depan sebuah mobil.
Pasti mobil orang nih! Aku tahu kalau Yovi tidak akan menggunakan mobilnya, kalau itu hanya urusan jalan berdua denganku. Padahal kalau sama temannya, semua diizinkan begitu saja.
"Kamu bawa mobil, Mas?" tanyaku untuk memastika dengan apa yang kulihat hari ini.
Tanpa menjawab apa pun, Yovi langsung membukakan pintu untukku setelah membuka kunci melalui remote control mobil.
"Silakan masuk, Sayang!"
"Tapi, Mas ... Kenapa harus pakai mobil?" tanyaku lagi tanpa mengubah posisi awal berdiri.
"Sudah ... Masuk saja! Aku tidak ingin kamu kehujanan lagi, sama seperti waktu pertama kali bertemu," jawabnya sambil mendekatiku, lalu mendorong pelan punggungku.
Mau tidak mau, aku harus masuk ke dalam mobilnya. Sungguh, aku tidak tahu pola pikirnya. Karena memang hari ini termasuk kencan kedua atau ketiga kalinya, aku lupa. Bagaimana tidak lupa? Dia saja tidak mengabariku secara rutin. Alasannya selalu sibuk.
Di tengah perjalanan, aku terus memikirkan tentang gadis yang pernah jalan berdua dengannya. Tidak mungkin, kalau mereka hanya berteman saja. Kalau pun memang berteman, pasti salah satu dari mereka sedang memendam perasaannya sendiri, hanya karena tidak ingin hubungan pertemanannya buyar begitu saja.
Ah ... Kenapa aku sangat sial dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis? Apakah aku tidak pantas bahagia?
Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh pernyataannya, "Neng, kita di mal ini dulu ya! Nanti baru kita jalan-jalan lagi. Siapa tahu ada yang ingin kamu beli."
Aku hanya mengangguk dengan kalem, setelah mendengar penjelasannya dan melihat sebuah gedung mal yang ada di depan mata. Soalnya mobil Yovi belum terparkir di tempat parkir mal.
"Oke deh ..." Yovi langsung menginjak pedal gas mobilnya.
Singkat cerita, aku dan Yovi sudah berada di dalam mal. Kalau dilihat-lihat, hanya aku yang mengenakan pakaian yang terlalu WAH, padahal semua pengunjung mal ini memakai pakaian seperti biasanya.
Saat sibuk melangkah, tiba-tiba tangannya mulai menggandeng tanganku, lalu menuntun langkahku menuju toko baju yang cukup terkenal di mal ini.
"Kenapa ke sini, Mas?" tanyaku tak berdaya.
"Memangnya kenapa? Apakah aku tidak boleh membelikan barang untuk pujaan hatiku?" jawabnya dengan kalimat tanya.
Bukan apa-apa sih. Tapi, permohonan maaf dan sogokkan tidak akan membuat luka di hatiku sembuh secara tiba-tiba.
"Jangan seperti ini, Mas ... Pakaianku sudah banyak!" jawabku dengan percaya diri.
Kemudian, dia berdiri di hadapanku sambil menatap wajahku. Karena tingkahnya, banyak orang-orang yang memperhatikan tingkah laku kami. Kedua tangannya memegang kedua bahuku. Seakan-akan ingin mengatakan sesuatu yang serius denganku.
"Jangan pernah menolak ya, Sayang! Aku tidak bisa memberikan waktuku untukmu, dan aku hanya bisa menggantinya seperti ini." Tatapan wajahnya terlihat sangat serius.
Seketika, aku terdiam membisu. Bibirku tak mampu berkata-kata lagi. Bahkan untuk tersenyum pun, aku sudah lupa bagaimana caranya?
"Sudah, jangan khawatir lagi, Sayang. Anggap saja ini permintaan maafku. Apa saja yang kamu suka, ambil! Nanti biar aku yang bayar," jelasnya dengan tatapan yang menggambarkan bahwa dia sedang gemas denganku.
"Tapi ...."
Bersambung ...