Tiba-tiba jari telunjuknya mendarat di bibir tebalku. Menyuruhku untuk tidak terlalu protes dengan pemberiannya.
Wanita mana sih yang tidak tergiur jika dibawa ke tempat pusat perbelanjaan modern? Aaah ... Ternyata aku masih menjadi wanita normal!!! Betapa tergiurnya diriku saat masuk ke salah satu toko baju yang ada di dalam mal ini. Rasanya ingin membeli semuanya! Mulai dari barisan pertama, barisan kedua, dan seterusnya, aku selalu jatuh cinta dengan baju-baju yang dipajang begitu saja.
"Apa saja, Sayang ...," celetuk Yovi membuatku sedikit menoleh padanya.
Aku langsung mendekati bagian baju yang membuatku sangat tergiur. Lalu, berpindah ke barang lainnya. Kapan lagi bisa memilih sepuas ini tanpa harus memikirkan biayanya? Hanya ada sekali dalam seumur hidup. Iya kalau terjadi dalam hidupmu, berarti anda sangat beruntung.
Tanpa terasa, ternyata di bagian lenganku sudah penuh dengan beberapa pakaian yang menggoda imanku. Kalau enggak salah, ada sekitar sembilan atau sepuluh pakaian yang ada di lengan kiriku. Ya, mohon maaf, kalau aku khilaf kali ini. Suruh siapa di suruh memilih sesuka hatiku? Ya beginilah hasilnya.
Setelah sadar, aku langsung mendekati pegawai yang bekerja di toko ini. "Mbak, tolong letakkan di meja kasir, aku masih mau ambil beberapa lagi," ucapku sambil memindahkan barang yang belum dibayar di atas lengan kirinya.
"Masih kurang, Sayang?" tanya Yovi yang tiba-tiba muncul di sampingku.
"Iya nih, Mas ... Buat kerja juga, kan belum dapat seragam dari atasan," jawabku sambil cengengesan.
"Ya sudah, ambil saja apa yang kamu mau ... Aku mau ke lihat-lihat baju untuk mama dulu ya, Yang?" sahut Yovi sambil mengelus bahu kananku.
Dengan semangat, aku meletakkan tanganku di dahi, seperti seseorang yang sedang hormat kepada jenderalnya atau kepada bendera kebangsaan kita. Tingkahku membuat pipi tembam ku tercubit oleh tangan Yovi. Bukan itu saja, setelah mencubit pipiku, Yovi langsung mengacak-acak rambut yang kubiakan terurai. Kemudian, dia mulai menjauh, tak lupa ia melambaikan tangan padaku. Padahal tempatnya juga sama, hanya dipisahkan oleh jarak saja, tapi bisa selebai ini. Ya, kalau kata orang lain yang melihat, pasti mengatakan bahwa semua ini terlalu berlebih atau lebai. Sedangkan, kalau kataku yang berpacaran dengannya, membuatku berhasil tertawa kecil dengan tingkahnya.
Setelah dia pergi, aku langsung mencari barang yang kubutuhkan. Sambil melihat harganya, karena, tiba-tiba muncul rasa kasihan padanya. Soalnya aku tahu, bagaimana susahnya mencari uang saat ini.
Saat sibuk mencari, tanpa sengaja kedua mataku menatap pada salah satu kemeja putih dengan model yang berbeda dari lainnya. Tanpa berpikir panjang lagi, tangan kananku langsung meraih kemeja itu. Kainnya terasa dingin saat jari-jariku menyentuh kemeja itu. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati lembutnya kain itu, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang di belakangku.
"Maaf, Mbak ... Kemejanya bisa buat saya? Soalnya sudah kuincar sejak tadi, Mbak!"
Seketika aku langsung menoleh ke belakang. Kudapati seorang pria yang sedang berdiri di depanku saat ini.
"Aku sudah mendapatkannya lebih dulu kok, Mas. Masih banyak kemeja lainnya loh!" sahutku sambil meletakkan kemeja itu di lengan kiriku.
Dengan tatapan sayu dan wajah yang mulai tak semangat, dia langsung meninggalkanku tanpa berkata-kata lagi.
Serius ini! Kenapa tidak segera diambil, kalau memang sudah menjadi incarannya? Kenapa harus menunggu orang lain yang mengambil kemeja ini? Apa bedanya?
Ditengah keheninganku yang membuatku merenung, tiba-tiba aku merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh bahuku, dibarengi dengan suara seseorang.
"Sudah selesai, Yang?"
Suara itu membuatku menoleh ke samping kiri. Dimana ada Yovi yang sedang berdiri di samping kiriku dengan senyumnya.
"Ah, iyaa ... Sudah selesai kok," jawabku sedikit kikuk.
"Ya sudah ... Ayo kita bayar dulu!" ajaknya sambil menggenggam telapak tanganku.
Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum, lalu mengikuti langkahnya dari sebelah kanannya.
Saat menuju kasir, aku dan dia sempat berbincang permasalahan kita.
"Sayang, maafin aku ya ... Aku benar-benar sibuk. Pagi sampai sore kerja, lalu pulangnya harus jaga toko. Kemarin itu teman kerjaku, Sayang. Kebetulan ketemu di depan mal, jadi sekalian kuajak makan siang," ujarnya tanpa memperdulikan pengunjung lainnya.
Bukannya aku tidak ingin membahas wanita itu, tapi aku capek jika harus mengingat kejadian itu. Walaupun hanya kesalahpahaman saja, tapi hatiku sudah terlanjur luka.
Bukan hanya aku saja yang enggak terima jika kekasihnya jalan dengan wanita lain, pasti banyak wanita yang sama seperti. Kalau wanita itu ikhlas, tandanya dia benar-benar tidak tulus dengan hubungan dan kekasihnya itu.
Saking capeknya mendengar penjelasannya, sampai aku berani mengutarakan pendapatku padanya, "Mas, tolong! Jangan bahas wanita itu!"
"Maaf, Sayang," sahutnya sambil mulai merangkul bahuku.
"Oke. Tolong, segera dilepas dong, Mas! Ini tempat umum." Tanganku berusaha menyingkirkan lengangnya dari bahuku.
Tanpa terasa, kami tiba di depan kasir. Tidak kusangka, pakaianku terlalu banyak, hingga terlihat menggunung di atas meja kasir. Belum lagi yang ada di lenganku ini.
Aku langsung menoleh ke arah Yovi yang ada di samping kiriku. Senyumnya tetap terlihat di wajahnya.
"Mas, yakin mau bayar semua?" tanyaku untuk melihat ekspresi dan ketulusan hatinya.
"Iya, Sayangku ... Aku membawamu ke sini itu, memang sudah menyiapkan banyak uang untuk menyenangkan hatimu," jawabnya sambil mengacak-acak rambutku.
Baiklah, kita lihat saja. Seberapa banyak dia membawa uang dan seperti apa dia akan menyenangkan hatiku?
Aku tetap berdiri di sampingnya sambil melihat kegiatan mbak kasir yang sedang sibuk menotal dan melipat bajuku ke dalam tas belanjaan.
"Semua totalnya sepuluh juta sembilan ratus (Rp. 10.900.000,-). Kepotong diskon satu juta (Rp. 1.000.000,-). Semua totalnya menjadi sembilan juga sembilan ratus (Rp. 9.900.000,-)," ucap kasir wanita yang sudah selesai menotal semuanya.
"Saya bayar pakai ATM ya, Mbak," ujar mas Yovi sambil mengeluarkan kartu ATM-nya.
"Oke ...." Wanita itu menyodorkan mesin gesek ATM yang berukuran kecil.
Kemudian mas Yovi menyerahkan kartu itu pada kasir untuk segera di gesek. Setelah digesek, mas Yovi disuruh untuk mengetikkan nomor pin kartunya. Ya seperti biasanya, orang yang sedang membayar menggunakan kartu ATM.
Setelah selesai membayar, dengan jarak kurang lebih satu menit, salah satu karyawati yang ada di kasir itu menyerahkan seluruh belanjaanku yang menghabiskan sepuluh tas belanjaan.
"Terima kasih sudah berbelanja," ucap kasirnya sambil tersenyum.
Bersambung ...