KEBAHAGIAAN BERSAMA

1215 Kata
Lalu, aku menggandeng lengan mas Yovi untuk mengajaknya keluar dari toko ini. Saat keluar dari toko, perasaanku mulai enggak enak. Aku tidak pernah menguras ATM cowok sebanyak ini. "Ini beneran kan, Mas?" tanyaku "Iya, Sayangku ... Kamu bahagia kan?" jawabnya sambil memastikan kebahagiaanku. "Terima kasih banyak, Mas Sayang," sahutku sambil menyandarkan kepalaku di lengannya. Dan dugaanku benar, dia langsung mengacak-acak rambutku lagi. "Ih, Mas ... Jangan diacak-acak!" protesku sambil menjauhkan kepalaku dari lengannya. "Habisnya, kamu lucu sekali sih ...," sahutnya sambil tertawa kecil, seperti sedang meledekku. Seketika aku langsung memonyongkan bibirku, lalu jalan lebih dulu agar dibujuk. Ternyata dia mengejarku, membuat diriku lari terbirit-b***t, saking terkejutnya. Tak lama kemudian, aku mulai merasa laper. Ingin rasanya masuk ke salah satu penjual jajanan yang ada di mal ini. Namun, mas Yovi masih jauh di belakangku. Entah ke mana dia? Apa dia tidak mengejark lagi? Apa dia sedang menemui seseorang? "Hei, Sayang ...." Tiba-tiba aku merasakan ada dua lengan yang melingkar di perutku. Aku juga merasakan sebuah hembusan di bagian batang leherku dan salah satu bahuku terasa sedikit berat. "Mas, aku lapar," rengekku dengan manja. Kemudian, dia melepaskan pelukannya dan berpindah di sampingku. "Ayo, kita makan, Yang! Mau makan apa?" sahutnya sambil menawarkan apa yang kuinginkan. "Itu, Mas ... Aku mau Spicy Chicken yang ada di sana," ucapku sembari menuding ke salah satu restoran yang ada di depanku dengan jarak tak terlalu jauh. "Ya sudah yuk, kita masuk!" ajaknya sambil menggenggam telapak tanganku. Padahal cuman jalan masuk ke restoran ini, harus tetap bergandengan tangan. Apakah aku harus menerimanya lagi? Memberikan kesempatan kedua untuknya? Bukan perihal sepuluh jutanya, tapi perihal, bagaimana seorang pria memperlakukan wanitanya. Itu sangat sulit, kalau bukan dari keinginannya sendiri. Aah ... Biar kupikirkan nanti malam saja. Jangan buru-buru, nanti menyesal lagi. Hari ini khusus untukku bahagia saja. *** *** Aku dan dia duduk di dekat kasir, karena kata dia, kalau aku pengin apa-apa, tinggal pesan saja atau melangkah beberapa langkah lagi. Maksudnya biar tidak jauh-jauh dari tempat duduk. "Biar aku yang pesan ya, Sayang," ujarnya menawarkan diri. "Boleh. Level empat ya, Mas! Soalnya lagi pengin makan pedes," sahutku sambil berekspetasi tinggi, membayangkan bagaimana rasa makanannya di sini. lalu, dia pergi mendekati kasir setelah bertanya padaku. Katanya sih, menu yang paling enak di sini itu Spicy Chicken-nya dan Burger keju++ (bisa request tambah keju atau tidak). Jadi cocok sih ini bagi pecinta keju. Pasti bakalan minta keju yang banyak. Herannya lagi, setiap tambah keju itu hanya disuruh bayar dua ribu tiap lembar kejunya. Aah ... Terlalu murah sih ini menurutku. Makanya, tempat ini selalu ramai dan jarang banget kutemui sepi pengunjung. Malah kalau hari Sabtu dan Minggu itu pasti sangat ramai, bahkan sampai antre panjang dan bisa-bisa enggak dapat kursi untuk makan di tempat. Tiba-tiba, Yovi datang dengan membawa nampan yang berisi beberapa makanan. Oh ya, di restoran ini tidak memakai piring atau gelas beling. Khusus makanan, restoran ini memakai kardus tipis yang dikhususkan untuk makanan, sedangkan minumannya selalu memakai gelas plastik yang ada tutupnya. Jadi, tidak perlu repot-repot mencuci piring. Tinggal buang ke tempat sampah saja. Tanpa sengaja, aku melihat satu Burger dengan tiga lapis keju di tengahnya. Mungkin, dia beli untuk dirinya sendiri. Jadi, aku hanya mengambil makananku dan minumanku saja. "Loh, Yang ... Burgernya untukmu!" celetuk Yovi mengagetkanku. "Tapi, aku enggak pesen burger tadi, Mas," sahutku sambil menatap wajahnya. "Aku sengaja beli burger dengan tambahan keju banyak. Karena aku ingat, kalau kamu suka keju, jadi itu untukmu!" Dia mendorong pelan tempat burger ke dekat makananku. Padahal baru tadi membahas burger ini dalam hatiku, tapi ternyata dia terlalu peka. Rasanya makin sayang, deh! "Kamu yakin, Mas? tanyaku untuk memastikan sebelum kuhabiskan. "Iya, Sayang. Habiskan, ya!" jawabnya sambil menatapku genit. "Terima kasih, Mas ...." Seusai makan berdua, Yovi langsung mengajakku ke rumah boneka. Dimana tempat itu terdapat banyak macam boneka yang menggemaskan, dengan harga yang sesuai kualitasnya. "Kita ngapain ke sini, Mas?" tanyaku dengan polos. "Buang boneka! Ya, beli boneka dong, Sayang ... Mumpung lewat sini," jawab Yovi yang terlihat sedang gemas denganku. "Tapi, buat apa, Mas? Aku sudah besar loh ini! Mau buat anak kita tah? Ya terlalu kusam nanti, Mas," jelasku sambil menatap wajahnya serius. Tiba-tiba, Yovi menepuk jidatnya sendiri, lalu menarik lenganku dan menyuruhku untuk memilih boneka yang kusuka dengan lembut, tanpa paksaan. Antara mau ketawa atau senang, karena melihat tingkahnya yang menggelitik perutku. Baru kali ini aku melihat tingkahnya yang asli. Sebelumnya hanya membayangkan saja, bagaimana tingkahnya jika bersamaku. "Mbak-mbak, tolong dibantu pacar saya ya, Mbak! Dia suka malu-malu kalau disuruh milih sendiri," ujar Yovi ketika melihat beberapa wanita memakai pakaian yang sama, seperti seragam kerja. Kemudian, salah satu dari mereka menoleh ke arah kami yang sedang berdiri di dekat pintu rumah boneka bagian dalam. Dia mulai mendekati kami. "Iya, Pak. Mari, ikut saya!" sahutnya dengan posisi mempersilakan diriku untuk jalan di sampingnya. "Itu loh, ikuti mbaknya, Yang. Aku mau duduk di sana sambil nunggu kamu, ya," Yovi menyambung perkataan pegawai toko ini, sambil menuding ke arah jendela. Di depan jendela, terdapat kursi kayu panjang yang terlihat nyaman. Di bagian samping, terdapat beberapa boneka yang sengaja didudukkan di kursi itu. Di atas kursi, terdapat awan yang sengaja digantung menjuntai. Temanya seperti cuaca cerah dengan langit berwarna biru dan beberapa awan yang menghiasi. Makanya banyak anak kecil yang sengaja dibawa ke sini, walau hanya sekedar bermain, tidak untuk membeli boneka. Setiap bermain di sini, hanya ditarik tarif lima ribu rupiah perjamnya. Sangat murah sekali, bukan? Persyaratannya hanya, tidak memperbolehkan pengunjung membawa makanan ringan, jajan, ice cream, atau semacamnya. Karena dapat menyebabkan seluruh boneka kotor tanpa disengaja. Jadi, untuk menghindari kejadian seperti itu, pemilik toko memberikan persyaratan yang cukup ringan menurutku. ... Akhirnya, aku dan Yovi harus berpisah jarak beberapa meter saja. Aku dibawa ke sebuah ruangan yang penuh dengan boneka-boneka yang masih ada plastiknya, tetapi boneka itu dibiarkan mengembang, tanpa harus divakum. Saking penasaran dengan manfaat banyaknya boneka di sini, akhirnya aku mulai bertanya pada wanita yang kuikuti sejak tadi. "Mbak, bonekanya ini sering dijual apa memang dibuat pajangan begini?" Aku mulai memperhatikan kondisi boneka itu dengan baik-baik. "Dijual, Mbak. Kebetulan kemarin baru datang beberapa boneka lagi, jadi terlihat menumpuk lagi, Mbak," jawabnya sambil memperlihatkan satu contoh boneka, yang memang terlihat masih baru. "Oohh ... Begitu ya, Mbak." Aku terus mengangguk, menandakan paham dengan penjelasannya. "Iya." Kemudian, aku mengabaikan pegawainya dan memilih sekaligus memeriksa kondisi bonekanya. Aku akan membeli boneka yang tidak cacat. Yang kumaksudkan di sini, adalah boneka dengan jahitan sempurna, isi dakronnya yang full, posisi anggota tubuhnya yang pas, dan yang terakhir adalah tekstur dari kulit bonekanya. Kalau teksturnya kasar, tidak akan kupilih untuk dijadikan koleksi boneka kesayanganku. "Mbak, kalian terlihat sangat cocok!" celetuk wanita yang menemaniku sejak tadi. Suaranya sempat membuatku menoleh sebentar. "Ah, masak?" "Iya. Kamu cantik, yang cowok juga ganteng," jawabnya sambil tersenyum padaku. Pernyataannya sempat membuatku tersipu malu. Kalau dilihat dari cara bicaranya, sepertinya gadis ini adalah senior penggoda. Bukan hanya dari cara bicara sih, tapi dari cara berpakaiannya juga. "Terima kasih ya, Mbak," ujarku sambil membalas senyumannya. Kemudian, setelah memilih dari beberapa boneka, akhirnya aku mengambil tiga dari beberapa tumpukan boneka. "Mbak, saya mau ini!" Aku menyodorkan boneka itu pada mbak-mbak yang selalu menemaniku. Lalu, keluar dari ruangan ini. Belum juga keluar, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara dan wujud mas Yovi yang mendekat kemari. "Sayang, apakah sudah selesai?" tanyanya dengan tatapan menunduk. Buughh! Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN