"Ini ada apa sih sebenarnya? Aku kok bingung. Er, kamu kenal dengan keluarga Wijaya?"
Erlina hanya tersenyum tipis menanggapinya, "Arsita, Terimakasih. Kamu sudah memberiku kejutan dua kali untukku." bukannya menjawab pertanyaan yang di lontarkan Arsita, Erlina malah memberi ucapan terimakasih padanya.
"Kejutan dua kali? maksud kamu apasih? aku tidak mengerti." Arsita yang masih bingung dengan semuanya, menaikkan kedua alisnya, mencolek lengan Areksa untuk memberi penjelasan.
Areksa hanya mengangkat kedua bahunya dengan merentangkan kedua tangannya santai seolah tidak tahu menahu atas semuanya.
"Arsita aku mengucapkan terimakasih ini karna aku benar-benar ingin berterimakasih padamu. Yang pertama karna kamu telah menghadirkan kedua orang tuaku di acara pestamu ini dan berkatmu juga kita di pertemukan kembali disini, lalu yang kedua, terimakasih juga telah membantuku menghancurkan martabat pria itu untukku dan yang terakhir," Erlina melangkah maju ke hadapan Arsita, tersenyum lembut lalu menggenggam kedua tangannya dengan kepastian.
"Terimakasih sudah menjadi sahabat terbaik yang selalu ada disaat aku susah maupun senang." setelah berucap, Erlina langsung merengkuh erat tubuh sahabatnya dengan penuh haru.
Beberapa detik tiba, Arsita mulai mengurai pelukan dan menekan lembut kedua pundak Erlina dengan kedua tangannya, seraya berkata," Tolonglah, jangan berterimakasih dulu, semuanya belum selesai Er. Masih ada kejutan lagi untukmu dan kejutan itu mungkin akan membuatmu jantungan saking syoknya," kalimat Arsita yang di akhiri kekehan kecil membuat Erlina menatapnya tajam bak kuntilanak yang ingin menakuti tawanannya.
"Kau ingin membuatku mati mendadak?" sewot Erlina yang mendapat guyonan kecil dari sahabatnya.
"Hehe..tidak, tapi ini akan membuatmu syok beneran kok, bahkan kamu tidak akan percaya saking terkejutnya." yakinnya.
"Oh, ya. Kau belum balas pertanyaanku yang tadi." lanjut Arsita mengingat pertanyaannya yang belum terjawabkan.
"Yang mana?" Erlina berfikir, namun sedetik kemudian."Oh iya, aku lupa."
"Kamu bingung akan hubunganku dengan keluarga Wijaya?" tebak Erlina sembari mencolek hidung sahabatnya.
Saking asyiknya bercerita membuat beberapa manusia disana yang hanya menyimaknya merasa terabaikan oleh kedua wanita itu.
Arsita mengangguk antusias, sedetik kemudian wajahnya berubah cemberut.
"Kenapa?" bingung Erlina melihat perubahan raut sahabatnya.
"Jangan bilang kamu putri pewaris yang terbuang itu?" Arsita bertanya untuk meyakinkan apa yang menjadi pikirannya sekarang.
"Ha? Putri pewaris?" Erlina juga terkejut, ia masih tidak percaya jika dirinya akan menjadi putri pewaris keluarganya, ternyata orang tuanya sungguh menepati janjinya pada dua tahun yang lalu untuk menjadikan dirinya penerus Wijaya.
Arsita mengangguk dua kali, lalu menggeleng pelan tidak percaya akan apa yang menjadi tebakannya, sungguh ini membuatnya pusing tujuh keliling.
"Apa benar mereka orang tuamu? keluarga Wijaya adalah keluargamu? Apa aku mimpi Er? coba kau cubit aku." pertanyaan beruntun langsung keluar dari bibir mungil milik Arsita yang masih tidak percaya akan identitas asli sahabatnya.
Tanpa aba-aba Erlina menuruti ucapannya, membuat empunya memekik kesakitan lalu mengeluh sebal.
"Aw!! Sakit tau,"
"Katanya suruh cubit," tanpa rasa bersalah Erlina hanya melengos acuh, membuat Arsita semakin memberenggut.
"Kamu cubitnya kekencengan." seru Arsita memukul lengan Erlina bercanda.
"Loh kalian saling berteman ternyata?" Arlin, Bunda Erlina bersuara saat menyadari interaksi keduanya begitu akrab.
"Kita bukan cuma berteman Tante, tapi Sita udah anggap Er sebagai sahabat." Arsita menyahut membenarkan ucapan ibu dari sahabatnya.
Areksa yang ikut penasaran menyela.
"Sejak kapan?"
"Sejak Sita umur 9 tahun dan Er umur 7 tahun tante, om. Pertemuan pertama kami, saat Er nyelamatin Sita saat sita hampir di culik ibu-ibu penjahat dan sejak saat itu juga kami sudah saling komunikasi lewat smartwatch."
"Itu loh Bun, saat Er pernah hilang dan kalian sampai cariin Er ke taman kota." sahut Arsita menyambung cerita sahabatnya.
"Kenapa kamu gak bilang sih Er, kalau pernah nolongin Arsita?" tatapan sang bunda yang begitu kesal membuat Erlina menyengir malu juga merasa bersalah karna telah berbohong.
Kini tatapan itu beralih ke Arsita, "Kamu juga gak bilang kalau sahabat yang sering kamu ceritain ke kami itu si Erin anak tante." semprot Arlin bikin Arsita jadi grogi.
"Ya, Sita gak tau kalau Erlina anak tante, karna namanya kan beda." belanya mencari kebenaran.
"Sudah, sudah. Sekarang kita sudah berkumpul lagi, bagaimana kalau kita kebawah aula untuk merayakan kembali pesta yang sempat kacau." sang Ayah menyela untuk menyelesaikan perdebatan mereka.
***
Farhan yang sudah tak terkendali lagi karna di telah permalukan saat di pesta topeng tadi, kini seluruh benda di dalam rumahnya sudah tak terbentuk lagi bagaikan kapal pecah yang terombang ambing oleh ombak yang menerpa.
Amarahnya telah mencapai puncaknya, ia meluapkan seluruh amarah serta emosinya yang telah meledak bagaikan bom atom yang siap menghancurkan segalanya.
Riana yang ikut bersamanya tak mampu menenangkan majikan plus suami sirinya yang sudah tak terkendali lagi. Ia pun pergi ke kamarnya membiarkan Farhan tenang dengan sendirinya.
Kalau ikut campur takutnya akan terimbas kepada dirinya dengan amukannya.
Seketika Farhan teringat akan istrinya, Erlina, karna sejak kepergiannya sampai sekarang sang istri tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.
Hal ini membuat Farhan menjadi curiga. Dengan langkah tergopoh-gopoh Farhan melangkah pergi ke kamar istrinya untuk memastikan keberadaan sang istri yang tidak nampak seharian ini.
Begitu sampai dan membuka pintu secara kasar, Farhan yang sudah masuk ke kamar istrinya, merasa lega melihat sang istri sudah tertidur pulas sambil memeluk bayinya.
Tidak lama Farhan berada disana, ia berbalik menuju pintu, tetapi pandangannya tak sengaja melihat sebuah kain yang sedikit terhimpit lemari, membuat langkahnya terarahkan pada kain itu.
Erlina yang berpura-pura tidur, menyadari kecurigaan suaminya yang ingin mendekati lemarinya.
Erlina dengan cepat terbangun dari tidurnya," Mas? kamu ngapain?"
Farhan tersentak kaget dengan suara istrinya, seketika ia menjadi gelagapan, namun Farhan mulai menyadari sesuatu.
"Kok kamu tahu kalau ini aku?" curiga Farhan yang mulai menatap tajam istrinya.
Ah, kini Erlina yang di buat gelagapan akan ucapannya yang tidak terkontrol.
"Aish, kenapa aku jadi bodoh sih?! Dya kan gak tau kalau aku sudah bisa melihat." batinnya merutuki.
"Kenapa aku gak tau kalo itu kamu? Kamu baru masuk saja aku sudah tahu kalo itu kamu, mas. Karna bau parfum yang bikin aku candu, itu pasti kamu." alibinya yang masuk akal.
Kini kecurigaan Farhan tidak sampai di situ saja saat menatap jendela yang masih terbuka lebar sehingga tirai putih itu berterbangan karna angin.
"Terus, kenapa jendelanya terbuka di malam larut begini? kamu mau bikin Dhea masuk angin?"
"Nggk mas, mungkin mbok Tarim lupa menutupnya, kamu kan tahu aku buta dan tidak bisa apa-apa." dalihnya membodohi suaminya.
"Emang apa yang bisa kamu lakukan? itu hanya bisa menyusahkanku saja." gumam Farhan yang mulai pergi dari kamar istrinya dengan umpatan yang terus keluar dari bibirnya.
"Untung saja dya melupakan yang di lemari itu, kalau tidak akan gagal semua balas dendamku." desisnya menatap kepergian suaminya dengan tatapan menusuk.
Menghilangnya Farhan dari pandangannya, kini Erlina beralih menatap putrinya, tersenyum syahdu, "Sayang, do'ain Mama ya agar kuat untuk memberi pelajaran pada papamu yang tidak tahu terimakasih itu."gumamnya lirih menatap sendu putrinya yang tertidur pulas dalam pelukannya.
"Tunggu saja besok permainanku mas, aku akan buat kamu bertekuk lutut di bawah kakiku bersama ani-animu itu." tekadnya yang tidak bisa di ganggu gugat.