Pertemuan tak terduga

1079 Kata
"Erlina? mau kemana dia?" Arsita yang tengah asik menikmati sebuah drama di depannya, saat menoleh ke samping tak sengaja dirinya melihat sang sahabat pergi membelah kerumunan menuju suatu tempat. Arsita ingin menyusulnya, namun ia harus menyelesaikan tugas lainnya memberi kejutan untuk kakak kandungnya. Di sisi Erlina, ia tengah mengikuti seseorang yang sedang menuju ke sebuah ruangan. Saat orang itu terlihat mencurigakan, berbicara dengan pria yang memakai topeng hitam kebiruan, di samping pria yang menampar suaminya. Erlina telah mengetahui, orang yang telah menampar suaminya adalah kakak pertamanya. Melihat gelagat pria yang sangat mencurigakan, Erlina terpaksa membuntutinya untuk tahu apa yang terjadi. "Bagaimana? Apa sudah ketemu sayang?" suara dari seorang wanita sungguh sangat terdengar jelas di telinga Erlina yang berada di balik pintu ruangan yang di masukin pria tadi, pintu itu tidak tertutup rapat sehingga memberi celah untuk mendengar suara. begitu mengenali suara dari wanita itu, Erlina ingin masuk, namun ia urungkan saat suara dari seorang pria membuatnya memundurkan langkahnya pelan. "Aku tidak bisa mengenalinya lagi. Pesta topeng itu membuatku sulit menemukan si manis." "Kau sangat pesimis Ar, untuk mencarinya sedikit kau sudah mengeluh." Wijaya menggeleng pelan dengan sikap putra keduanya yang begitu mudah menyerah. Tak hayal bagi Erlina yang juga mengenali suara kedua pria itu. Walaupun sudah lama tidak bertemu namun Erlina tetap mengenali suara para keluarganya. Ingatannya begitu tajam, sampai sebuah benda pemberiannya dulu pada kakaknya pun ia mengingatnya. Erlina mulai melangkahkan kakinya kedepan perlahan. krieett Suara pintu yang sedikit terdorong menimbulkan suara, sampai tiga orang yang berada di dalam ruangan mengalihkan atensi mereka ke arah pintu. Dahi ketiganya mengkerut dalam, terlihat waspada takut ada seseorang yang mengupingnya, membuat ketiga manusia tersebut spontan berdiri dengan saling pandang satu sama lain. Areksa mengambil ancang-ancang untuk memergoki penguntit tersebut yang berniat ingin memata-matainya. Wijaya merangkul pundak istrinya dan merapatkan tubuhnya, takut terjadi sesuatu hal-hal tidak terduga. Erlina yang ragu ingin masuk tetapi masih berpikir sesuatu sambil gigit jari. Sampai tarikan kuat pada pintu membuat tubuhnya terhuyung ke depan sehingga membentur d**a seseorang membuat dirinya terkejut akan kejadian yang begitu tiba-tiba. "Siapa kamu?!" Wijaya memekik, sampai kedua insan yang sempat berpelukan jadi sadar seketika dan melepaskan pelukannya. Erlina yang tidak bisa menahan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Areksa yang secara tidak sengaja menyanggranya terpaksa menerima dalam pelukannya. Erlina menatap ketiga keluarganya itu dengan nanar, netra coklatnya telah membendung air yang siap meluap. "Ayah, bunda, kakak." menatap ketiganya bergantian, suaranya bergetar, terasa tercekat saat menyebutkan ketiga nama itu. Jantungnya berdetak lebih cepat menandakan kalau ia begitu merindukan sosok ketiga manusia itu. Air matanya kini meluruh sangat deras membasahi pipi mulusnya di balik topeng indahnya. Dengan kasar Erlina membuka topengnya,"Ini aku Erin, bunda, ayah, kakak." suara yang begitu indah, kini tergantikan oleh suara serak yang bergetar. Semuanya membeku menatap wajah yang dua tahun ini tidak pernah mereka temui, kini terlihat nyata di hadapan mereka. "Erin putriku!" kompak kedua orang tuanya memanggil, Erlina yang tidak tahan lagi berdiam diri, memilih menghampiri kedua orang tuanya, lalu berhambur memeluk erat tubuh keduanya yang sangat ia rindukan selama dua tahun ini. Areksa yang masih syok sekaligus tidak percaya dengan kehadiran adik bungsunya, hanya mampu menatap ketiganya berpelukan meluapkan rasa rindu yang mendalam. Lalu ia tersadar dari lamunannya ketika adiknya itu menyebut dirinya kakak, kemudian ikut bergabung dalam pelukan mereka yang begitu menyayat hati. Cukup lama mereka berpelukan, tiba di titik cukup, mereka pun mengurai pelukan kemudian. Perasaan yang sempat resah, khawatir, cemas dan takut dalam dua tahun ini, kini tergantikan menjadi senang, bahagia, cerah dan indah. "Bagaimana kabarmu dalam dua tahun ini nak?" pertanyaan sang ayah membuat Erlina menambah volume tangisnya dengan kencang sampai tiga orang di sana merasa panik seketika. Erlina bisa menyembunyikan kesedihannya di depan orang lain, namun tidak jika bersama keluarganya, ia akan mengeluarkan semua unek-uneknya yang membuat hatinya sesak dan sakit, seperti gadis manja, lemah dan juga haus akan perhatian dan kasih sayang. Erlina menggeleng lemah, sampai kedua orang tuanya kembali memeluknya erat dan Erlina meluapkan semua tangisnya yang ia pendam selama ini. "Kakak sudah tahu semua perlakuan suamimu padamu. Sekarang kakak akan membalaskan dendammu untuknya." Erlina mengurai pelukannya, mengusap air matanya dengan kedua tangannya pelan. "Ayah juga tidak bisa tinggal diam, suamimu itu harus mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya." sambung sang Ayah yang sudah tersulut emosi. "Tidak! aku masih bisa. ini urusanku dengan dia Ayah, kakak." sela Erlina cepat agar keduanya tidak mengikutcampuri urusan balas dendamnya. "Aku tidak ingin melibatkan kalian dalam urusan rumah tanggaku. Aku hanya ingin membalasnya dengan caraku sendiri." Erlina berucap untuk meyakinkan keluarganya. "Baiklah kalau kamu bersikeras dengan keinginanmu kakak hanya mampu mendukungmu dari belakang." pasrahnya yang hanya mampu menuruti keinginan adik bungsunya. "Tapi. Jika ada apa-apa denganmu, kakak tidak akan diam lagi. Kakak akan membereskan semuanya sampai tuntas." lanjutnya yang tidak bisa menoleransi kejadian di masa lalu. Langkah kaki seseorang yang mendekat ke arah pintu membuat semuanya menoleh. Terlihat wanita cantik mengenakan gaun yang sama dengan Erlina muncul dari balik pintu. Wanita itu terlihat terkejut terhadap keberadaan seseorang yang sangat di kenalnya, "Loh, Erlina? kenapa kamu disini?" Juga seorang pria yang ikut masuk bersamanya juga nampak terkejut melihat keberadaan Erlina. "Erin?!" seru pria itu dengan nada tidak percaya. "Ini kamu kah?" ujarnya dengan suara gemetar menahan tangis serta rindunya yang sekian lama tidak tersampaikan. Erlina mengangguk, tersenyum senang, melihat keadaan kakak pertamanya yang sangat membaik membuatnya lega. Erlina sangat sedih dalam dua tahun terakhir saat mendengar kabar kakaknya yang saat itu depresi karna kehilangannya. "Maafkan Erin bang," lirih Erlina merasa bersalah saat mengingat masa lalu. Arengga mengangguk sendu, lalu merengkuh tubuh adiknya dengan kerinduan yang mendalam. Tangan kanan Arengga mengelus lembut rambut Erlina dan tangan kirinya mengusap pelan punggungnya yang tidak tertutup oleh gaunnya. "Abang yang seharusnya minta maaf sama kamu dek, Karna abang tidak bisa menyelamatkanmu dulu, abang tidak becus menjagamu, abang lengah melindungimu." semua kesalahannya di masalalu membuat Arengga semakin merasa bersalah sampai tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. "Tidak bang, abang sudah menjadi Abang terbaik bagi Erin. Abang adalah malaikat pelindung Erin." bela Erin membuat Arengga mempererat pelukannya. "Justru Erin yang mengabaikan abang dan lebih memilih bersama pria itu." lanjut Erlina lagi yang tidak bisa membuat kakaknya terus menyalahkan dirinya sendiri. "Sudahlah dramanya. Itu membuatku tidak bisa untuk tidak menangis." Areksa menyela, sampai tatapan maut dari kakaknya membuatnya menciut. "Huhuhu..." Areksa berbalik ke arah samping untuk meluapkan rasa sedihnya berada di pelukan seseorang. Namun apa yang di dapatkannya? Plak Orang itu memukul pundaknya lalu mendorongnya saat Areksa hendak memeluknya, membuat pria itu meringis perih pada bahunya yang di pukul, "Jangan modus, Lo!" semprot Arsita geram.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN