Pagi menyapa pesisir Italia dengan semburat cahaya emas yang lembut, menembus tirai tipis vila dan menyirami ranjang tempat Winona dan Ragahdo semalam tertidur. Hal pertama yang dia rasakan adalah hawa dingin yang kontras dengan kehangatan tubuh yang dia rasakan semalam. Wanita itu mengerjap, mengumpulkan kesadaran, dan seketika tangannya meraba pergelangan tangan kirinya. Kosong. Borgol perak itu sudah tidak ada. Winona terduduk tegak, menarik selimut putih tebal untuk menutupi tubuh polosnya yang hanya menyisakan jejak-jejak gairah semalam. Matanya berkeliling mencari sosok pria yang telah membuatnya menyerah pada kata "rujuk" di tengah puncak gairah yang membakar. Tapi, Ragahdo tidak ada di sampingnya. Wajah Winona seketika merah padam, antara tersipu malu mengingat desahannya

