"Kamu ikut ya, Sayang?" ajak Ragahdo lembut sembari mengusap pipi Winona. Setelah sarapan berakhir dengan ketegangan yang hanya dirasakan oleh Winona, Jonathan pamit dan Ragahdo berinisiatif mengantarkan Jonathan ke bandara Fiumicino. Winona menggeleng cepat, memberikan senyum yang sedikit dipaksakan. "Enggak. Aku ... aku mau istirahat saja di vila." Ragahdo sempat mengernyit, dia tampak tak ingin jauh dari istrinya sedetik pun, tapi Jonathan segera menimpali, "Biarkan Winona beristirahat. Perjalanan ke bandara cukup jauh. Kasihan dia kalau harus bolak-balik." Ragahdo akhirnya mengalah. Setelah mengecup kening Winona berkali-kali — seolah ingin menandai wilayah kekuasaannya di depan sang sepupu — pria itu pun pergi. Begitu deru mesin mobil menjauh, Winona segera berlari masuk ke dalam

