Ragahdo menatap manik mata Winona yang sayu dan penuh undangan yang tak terelakkan. Napas wanita itu beraroma wine manis, hangat menerpa wajahnya, hingga pertahanan pria itu, yang sedari tadi dia bangun dengan sisa-sisa kewarasan, runtuh seketika saat Winona menantangnya untuk mengulangi malam panas tiga bulan lalu. Tanpa kata, Ragahdo menunduk. Dia menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang tidak hanya basah, tapi juga membara oleh kerinduan yang tertahan. Itu bukan sekadar sentuhan fisik, itu adalah pertempuran rasa. Lidah mereka bertemu dalam tarian yang liar, saling membelit dan mencari kepuasan yang seolah mustahil dicapai hanya dengan satu tautan. Winona merespons dengan cara yang tidak pernah Ragahdo bayangkan sebelumnya — jelas karena efek alkoholah yang membuatnya melepas

