Sore itu udara di sekitar rumah Jevan terasa tenang seperti biasa. Namun di tempat lain, suasana yang jauh berbeda sedang terbentuk. Joana duduk di dalam mobilnya, jari-jarinya mengetuk pelan di atas setir. Matanya menatap kosong ke depan, namun pikirannya bekerja cepat. Ia sudah terlalu lama ditolak. Terlalu lama dipermalukan. Dan terlalu lama melihat Vania berada di temphat yang menurutnya bukan milik wanita itu. “Tidak bisa seperti ini terus,” gumamnya pelan. Ia mengingat setiap detail rumah Jevan. Setiap sudut. Setiap kebiasaan. Termasuk orang-orang di dalamnya. Pelayan. Orang-orang yang bekerja setiap hari di sana. Orang-orang yang mungkin bisa menjadi celah. Matanya menyipit. Bukan karena ragu. Tapi karena mulai menemukan arah. “Aku tidak perlu menyentuhnya langsung…”

