Aku sudah terlalu sabar menghadapi keluarga Nada yang begitu aneh dan menjengkelkan itu, aku sudah berusaha meredam emosiku namun tetap saja mereka selalu saja datang mengganggu. Aku sudah berusaha menghentikan mereka, tapi sayangnya sikap mereka tidak akan pernah bisa mendengarkan semua yang ku katakan. Jadi, aku memutuskan untuk tidak membebaskan Ibu mertua dan Ipar Nada. Karena aku sudah terlalu emosi dibuatnya. Aku duduk di ruang tamu dengan napas yang memburu, emosiku menguak, aku butuh ketenangan. “Mas, makan siang yuk,” kata Syafana. Aku membuka pejaman mata dan menoleh melihatnya. Aku menatapnya. Gadis itu benar-benar kasihan. Terlalu banyak masalah yang ia hadapi, dari keluarganya sendiri dan dari keluarga mantan suaminya. Apakah dia memang tak pantas bahagia. “Iya.” “Kita t

