Pagi itu datang terlalu cepat bagi Eleanor. Matanya yang sembab dan tubuh yang kelelahan tidak menyurutkan tugas-tugas yang menantinya. Seperti biasa, ia sudah bangun sebelum matahari sepenuhnya naik, menyibukkan diri di dapur bersama pelayan lain untuk menyiapkan sarapan para penghuni mansion. Sebab hari ini, tugasnya merapikan kamar sang tuan dan nyonya masih dipegang oleh Hanna. Namun yang berbeda pagi ini adalah suasana hatinya. Rasa penat yang tertahan, beban batin yang belum tuntas, dan kenangan samar dari malam sebelumnya membuatnya berjalan seperti bayangan dirinya sendiri. Tidak butuh waktu lama sebelum sebuah panggilan terdengar dari lantai atas. “Eleanor! Tolong ke kamar saya, sekarang!” Suara nyaring Florencia menggema dari lorong atas tangga. Pelayan-pelayan lain langsung

