Siang itu, matahari menggantung rendah di atas langit, memantulkan cahaya keemasan ke seantero halaman belakang mansion. Udara terasa hangat namun segar, dengan semilir angin membawa aroma rerumputan yang baru dipangkas dan wangi bunga dari kebun rumah kaca yang tak jauh dari kandang-kandang eksotis milik Kenzo. Eleanor duduk di salah satu bangku panjang dari batu yang diletakkan di bawah pohon besar, tepat di sisi padang rumput tempat kuda-kuda istimewa milik Kenzo dibiarkan berlari bebas. Hanna duduk di sebelahnya, membawa dua cangkir teh dalam gelas porselen bermotif biru. “Kau tampak lebih tenang sekarang,” ujar Hanna sembari menyodorkan salah satu cangkir. Eleanor menerima dengan senyum kecil. “Lebih tenang dibanding dua jam yang lalu, iya.” Hanna terkekeh pelan. “Nyonya Florencia

