Malam mulai benar-benar menelan langit, memadamkan sisa jingga yang masih tertinggal di balik pucuk pohon tinggi di halaman mansion Roderick. Rumah besar itu perlahan menyelam ke dalam keheningan, hanya ditemani cahaya lampu temaram dari dinding-dinding batu, dan suara angin yang menyelinap dari celah jendela. Di dapur yang nyaris kosong, Eleanor berdiri sambil menunggu air mendidih di teko. Ia menggenggam kotak teh chamomile dan lavender, memilih dua kantong kecil yang menurutnya cukup lembut untuk malam yang sunyi. Ia mengingat pesan yang disampaikan Hanna tadi sore. “Nyonya Florencia katanya sedang tidak enak badan. Dia mau kau yang buatkan tehnya, El.” Eleanor mengangguk saat itu, walau dalam hatinya, ia tahu ini bukan semata permintaan. Bukan juga sekadar keramahan seorang nyonya r

