Kamar Eleanor dikepung keheningan yang seolah menahan napas. Angin malam hanya menggerakkan sedikit tirai jendela, menciptakan bayangan lembut di lantai keramik yang gelap. Pintu terbuka perlahan, dan langkah kaki itu masuk—pasti, tenang, dan nyaris tanpa suara. Kenzo. Dengan wajah yang tak berubah sejak terakhir kali Eleanor melihatnya di perpustakaan, pria itu menutup pintu di belakangnya tanpa suara. Sorot matanya tajam namun dingin, seperti embun yang menempel di bilah pisau. Tidak ada senyum. Tidak ada pertanyaan. Hanya tatapan yang menelanjangi isi kepalamu bahkan sebelum kau sempat bicara. Eleanor berdiri di dekat meja rias, tubuhnya kaku. Ia tahu Kenzo akan datang, karena pria itu telah memerintahkannya untuk kembali ke kamar dan pria itu akan menyusulnya. Namun tetap saja, kebe

