Malam itu menggantung berat seperti bayangan. Hujan yang turun sejak senja masih menetes pelan di balik jendela kamar kecil yang dihuni Eleanor, membingkai keheningan yang terasa terlalu sesak. Lampu dinding menyala redup, seolah turut menjaga rahasia yang baru saja terjadi di dalam ruangan ini. Ranjang tempatnya duduk kini terasa seperti ruang interogasi, bukan tempat beristirahat. Tubuhnya masih gemetar, bukan karena dingin, tapi karena kenyataan bahwa Kenzo Roderick Veit telah menyentuh sisi terdalam dirinya, bukan hanya kulit, tetapi harga dirinya. Ia duduk membelakangi pintu, mengenakan kembali pakaian sederhananya yang tadi dilepas paksa. Tangannya mencengkeram erat seprai, dan jantungnya berdetak tidak beraturan. Bukan karena gairah, melainkan kegelisahan yang bercampur takut—dan

