Kenzo mengamati wajah Eleanor dalam diam, seperti sedang membaca sesuatu yang tak tertulis di sana. Lalu ia kembali bersandar, meneguk minumannya perlahan. Tangan kirinya mengusap pelan sisi gelas kristal, suara gesekan halus terdengar samar di antara detak jam tua. “Kau tidak bertanya... mengapa aku tidak bisa tidur malam ini,” gumamnya, pelan. Eleanor menoleh. “Karena saya pikir Tuan tidak suka ditanyai hal yang terlalu pribadi.” “Aku memang tidak suka,” sahutnya cepat, lalu menoleh padanya. “Tapi... bukan berarti tidak pernah ingin ditanya.” Eleanor terdiam. Ada luka yang mengintip dari balik sorot mata Kenzo malam itu—sebuah kesunyian yang tak bisa dipeluk oleh siapa pun, sekeras apa pun usahanya. Akhirnya ia bertanya pelan, “Kenapa Tuan tidak bisa tidur malam ini?” Kenzo menundu

