Malam menjalar perlahan di mansion Roderick. Semua lampu di lorong-lorong panjang mulai padam satu per satu, menyisakan hanya cahaya temaram dari lampu dinding antik dan suara lembut angin yang merayap lewat jendela kaca besar. Eleanor berbaring di ranjang kecil kamarnya, mata terbuka menatap langit-langit. Sudah lewat tengah malam. Tapi kantuk tak juga datang. Bukan karena tubuh lelah—tapi karena pikirannya masih terjebak dalam pusaran yang menyesakkan. Wajah Marie, amplop uang, tangan Kenzo di tubuhnya, kata-kata dingin pria itu, semuanya datang bergantian seperti arus ombak yang tak henti menggempur. Eleanor mendesah pelan. Ia tak tahan lagi. Ia bangkit dari ranjang, mengenakan jubah tipis di atas piyama panjang berwarna biru lembut. Langkahnya pelan saat menyusuri koridor sunyi, me

