Bab 33

1060 Kata

Restoran milik Florencia itu mulai hidup sejak pukul sepuluh pagi. Suara spatula yang membentur wajan, aroma bawang putih yang ditumis, dentingan gelas dan piring yang disusun rapi oleh para server—semuanya berpadu menjadi irama sibuk yang telah menjadi musik harian bagi Florencia. Dengan apron berwarna krem tergantung di pinggang rampingnya dan rambutnya diikat rapi ke atas, Florencia tampak seperti pusat dari semesta kecil itu. Ia berjalan cepat di antara dapur dan area bar, sesekali memberi instruksi pada staf, dan di lain waktu menyapa pelanggan tetap dengan senyum anggun yang menawan. “Jangan terlalu lama di bagian salad, Markie,” katanya sambil melirik waktu. “Meja nomor tujuh sudah menunggu selama dua belas menit.” Markie, koki muda yang masih baru itu, mengangguk dengan cepat. “

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN