Hujan di luar sana memang sudah reda. Namun Eleanor masih tetap terjaga saat ini. Ia duduk di tepi ranjang, mengenakan gaun tidur sederhana berwarna biru muda, rambutnya tergerai lembut menutupi bahu. Di meja kecil dekat tempat tidur, secangkir teh yang tadi ia seduh untuk dirinya sendiri sudah dingin, tak tersentuh. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, seakan menyambut sesuatu yang belum tentu datang. Eleanor menoleh ke arah pintu lagi. Namun, tak ada suara langkah yang mendekati kamarnya. Bahkan tak ada ketukan pula di pintu kamarnya. Semuanya benar-benar terasa sunyi. Puan itu menunduk pelan, mengusap jemari tangannya sendiri untuk mengusir rasa dingin yang bukan berasal dari cuaca, melainkan dari perasaan kecewa yang mulai menyusup masuk dalam rongga dadanya. "Aku seharusn

