Pagi menyapa perlahan dengan cahaya yang menembus sela tirai tipis jendela kamar Eleanor. Tapi kehangatan mentari tak sanggup mengusir dingin yang mengendap di dadanya. Ia masih duduk di tepi ranjang, rambutnya tergerai kusut. Kulitnya pucat, dan matanya menyimpan kelelahan yang tidak hanya datang dari tubuh. Malam tadi terasa panjang, membekas di hati dan di kulit. Dengan ragu ia melangkah keluar kamar, mengenakan pakaian kerjanya seperti biasa. Tapi kali ini, langkah kakinya membawa tujuan yang berbeda. Ia tak menuju dapur atau taman. Ia langsung ke ruang kerja Kenzo. Pintu sudah sedikit terbuka. Di dalam, pria itu duduk tenang seperti biasa, membalik lembar demi lembar map dokumen. Cahaya matahari menyorot dari belakang punggungnya, menciptakan aura berwibawa dan... menakutkan. Elea

