*** Kamarnya redup, sekalipun ada cahaya yang masuk jika jendela kamar dibiarkan terbuka agar rembulan bisa sedikit menyorot ke dalam ruangan tersebut, tapi ia tak melakukannya. Biar saja gelap, tidak apa-apa kalau dadanya terasa pengap. Percuma mati-matian menahan jika air mata tak pernah bisa diajak bertoleransi terhadap pemiliknya, mereka malah makin menjerumuskan ke dalam kubangan lara agar bisa berlarian keluar dari sudut mata. Ia termangu di tepi ranjang dengan posisi menghadap ke jendela kamar di mana deretan kaktus miliknya tetap utuh di sana, menjadi saksi setiap hari, menjadi bukti jika ia masih bertahan hingga detik ini. Sepasang tangannya memeluk erat sebuah pigura besar warna putih bergambar keluarga lengkap yang sejak awal sudah dibawanya masuk ke tempat ini, agar ia rindu

