Permainan

390 Kata

“Jadi, yang kemarin-kemarin itu, dari Kak El?” tanyaku seraya berdiri. Lelaki itu mengernyitkan dahi. “Aku baru ini.” “Terus, yang kemarin-kemarin itu—“ “Mirna!” Mendengar namaku dipanggil, aku menengok ke sumber suara. Ternyata Dewi. Ia tersenyum tak jauh dariku, aku pun membalasnya. Tak lama, ia berjalan mendekat. “Ada apa, Wi?” tanyaku, begitu ia sudah berada di sisi. “Enggak. Gue cuma mau ngasih ini.” Dewi menyodorkan keresek kecil. “Nasi goreng kesukaan lo.” Usai menerima sodorannya, aku mengucap terima kasih. Kak El yang melihat kami melanjutkan obrolan kecil, pamit pergi. Entah kenapa, beberapa kali ini aku melihat ada yang aneh dari lelaki itu. Misalnya seperti barusan; seakan-akan ia menghindar ketika Dewi datang. * “Mirna! Mir, gawat-gawat!” ujar seorang mahasiswi yang s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN