Aku melangkah keluar kelas dengan tersenyum puas. Salah siapa memulai duluan. Tahu rasa bagaimana dipermalukan. Kuturuni anak tangga dengan hati riang. Semoga setelah ini tak ada lagi drama-drama dari mahasiswa yang menjadi idola para mahasisiwi di kampus itu. Pandanganku tertuju pada satu sudut setelah menuruni satu anak tangga lagi yang paling bawah. Melihat pemandangan di depan, kupalingkan mata ke arah lain. Si jago merah telah melahap hati dengan sempurna. Ingin merespons seperti apa, aku pun tak tahu. Tulang-tulang terasa lemas. Kepala mendadak berat, hingga d**a pun berasa menanggung beban lebiih dari sekintal. “Mirna!” Akum melengos. Melihat wajahnya pun tak sudi. “Aku bisa jelasin. Jangan salah paham dulu!” ucapnya, lagi. Melihat dengan mata kepala sendiri bahwa orang yang

