“Apa nggak salah ucap, Kak El?” tanyaku seraya membuka pintu. “Dan kalau bunga juga barang lain bukan dari kamu, kenapa nggak bilang dari awal? Kenapa membiarkanku serasa terbang setiap kali ada sesuatu di meja ruang kelas? Kenapa nggak jujur dari awal kalau cinta yang kamu ucap itu sebenarnya bertujuan menyakiti?” “Dapat dari mana kalimat seperti itu, Mir?” Kedua sudut bibir kutarik ke atas. Hanya jawaban singkat yang bisa menyimpulkan suatu keputusan. Nyatanya, bunga yang mekar tiap harinya di dalam sini harus layu, padahal musim penghujan belum selesai. Tanpa sepatah kata, aku berbalik badan, lalu menjangkah. Namu, belum sempat menutup pintu, lenganku ditahan dari belakang. “Lepas!” pintaku, sengit. “Kamu belum jawab pertanyaanku dan memilih menghindar. Apa itu nggak lebih buruk d

