Ternyata Musuh

686 Kata

“Dulu gue emang suka sama lo, Gas. Tapi enggak dengan sekarang. Dulu lo nyia-nyiain cinta gue, dan sekarang ngejar-ngejar. Apa itu nggak memalukan harga diri?” ucapku, membuatnya terbelalak untuk kedua kalinya. “Kalian ngomong apa, sih?” elaknya, lagi. “Mana ada gue ngirim bunga setiap hari padahal keadaan ekonomi lagi memburuk. Dan apa tadi, Rel? Meskipun dulu gue juga ada rasa sama dia, tapi nggak pernah sekalipun ada niat merebut cewek sahabatnya sendiri.” Aku terpaku. Bagas pernah menyukaiku? Tetapi kenapa ia memilih dinner bersama Mbak Yuni dan membiarkanku terbalut luka? “Asal lo tau, Mir.” Aku mendongak, lalu Bagas melanjutkan, “gue milih Yuni waktu itu bukan karena berniat menyakiti orang yang jadi penyemangat hidup. Tapi gue ngalah demi Farel yang cinta banget sama lo.” Aku te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN