Bagas berbalik, lalu melangkah masuk. Sebelum menghilang ia mengucap, “Jaga cewek lo! Jangan sampai orang lain yang melakukannya.” Aku dan Kak El saling pandang. Tak tahu harus bagaimana. Aku rasa Bagas jujur, tetapi siapa lelaki misterius itu? Setelah sekian lama kami bergelut dengan pikiran masing-masing, Kak El memutuskan mengantarkanku pulang. Dalam sekejap, kami sudah membelah jalanan kota yang makin ramai. Keesokan harinya, aku berangkat kuliah pagi-pagi. Membeli beberapa bungkus makanan untuk dikasihkan Ayu dan Dewi. Ah, mereka apa kabar? Kesibukan tugas kuliah membuat kami jarang komunikasi. “Berapa totalnya, Bu?” tanyaku seraya mengeluarkan dompet. “Dua puluh lima ribu, Nduk,” jawab sang penjual. Kuulurkan uang dua puluhan ribu dan lima ribuan. Lalu membawa nasi kuning dan m

