Berjalan ke kelas dengan gontai, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang. Menidurkan tubuh, lalu bermimpi indah. Kalau bisa, dibangunkan dalam keadaan tenang yang mana masalah ini telah selesai. Ah, halu macam apa ini? Aku hanya harus menerima kenyataan. “Dari mana, Mir?” tanya teman yang satu ruangan, begitu aku duduk. “Toilet. Ada apa?” Aku membalas dengan suara parau. “Tadi dicariin Farel.” Aku mendongak. “Kak El? Ngapain?” “Ya, nggak tau. Dia cuma nanya, “Mirna di mana?” Karena gue nggak tau lo di mana, gue jawab aja belum berangkat gitu,” jelasnya. Aku yang sedang tak besemangat, mengangguk-angguk saja. Memilih meletakkan kepala yang bertumpu tangan di meja. Entah kenapa, tiba-tiba kepala berdenyut hebat, menimbulkan sakit yang teramat menyiksa. “Mir!” Aku menoleh, begitu suar

