Kutepuk tangannya dengan gemas. “Nggaklah. Mana ada gue bayangin yang nggak-nggak.” “Ya kali. Lo kan ratu halu, segalanya bisa dimasukkin ke daftar halu. Iya, kan?” Tak menolak dan tak menerima. Aku melanjutkan sisa perjalanan yang tinggal beberapa puluh langkah lagi untuk sampai kos. Tentu bersama Ayu, ia mengatakan sedang senggang dan ingin main ke tempatku. Ah, bagaimana bisa ia luang sedangkan di tangannya ada banyak buku tebal yang kutahu itu amat menyeramkan ketimbang monster berjuluk buaya darat. Perhatiannya sungguh luar biasa. Aku sampai mengira bahwa Ayu diturunkan untuk menyelamatkan hidupku. Dewi? Entahlah. Kecewa yang ia torehkan belum mampu mengubah pandanganku terhadapnya. Ia tetap Dewi, di mataku, yang selalu menghindar dan memilih menyendiri hingga terbongkarlah tujuann

