“Entah cuma perasaan gue atau emang bener. Setiap membicarakan Kak El, matanya selalu berbinar-binar, paling semangat juga. Dan kalau ketemu langsung sama orangnya, kayak sedikit salah tingkah gitu.” Aku berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “apa gue yang terlalu cemburu ya, Yu?” “Enggak. Wajar kok kalau cemburu. Farel kan calon lo, jadi hal kayak gitu tuh udah jadi rahasia umum dan hampir semua calon pengantin ngerasain hal yang sama. Gue pernah mewawancarai banyak orang yang mengubah status soalnya, makanya biaa ngomong gitu.” Bahuku ditepuk pelan. “Lo tetap harus berpikiran positif sama mereka. Serahkan semua sama Allah. Kalau butuh bahu buat numpahin segala keluh kesah, dateng ke gue. Nggak ada rasa keberatan untuk seorang sahabat.” Mataku sudah tak bisa membendung air. Perlahan, mula

