“Akhir-akhir ini Dewi agak aneh,” ucapnya seraya duduk di depanku. “Aneh kenapa?” “Lo nggak ngerasa perubahannya? Gue tuh heran. Setiap kali kita lagi bareng, dia buru-buru pergi sebelum kita tuntas. Lo tahu, kan, biasanya dia yang suka banyak omong. Tapi tiba-tiba beberapa akhir ini berubah pendiem.” Aku setuju dengan ucapan Ayu. Di antara kami bertiga, yang paling irit bicara itu aku, yang standar Ayu, dan yang suka nyerocos itu memang Dewi. Perubahannya memang tak besar, tetapi itu mempengaruhi hubungan kami sebagai sahabat. “Apa dia lagi ada masalah ya, Yu,” kataku. Menengok ke arahnya, lalu menatap lurus ke depan. Ia mengendikan bahu. “Entah, Mir. Biasanya juga dia selalu cerita kalau punya masalah, baik besar atau kecil. Tapi lo liat sendiri, kan? Bahkan dia pergi tanpa alasa

