“Maaf, ya Mir. Akhir-akhir ini aku sibuk banget sampai nggak bisa meluangkan waktu buat kamu.” Dari kaca spion, kami terlibat kontak mata. Itu membuat dadaku berdebar seketika. “Mir!” panggilnya, membuatku langsung berdehem tanda mendengarkan. “Aku sibuk tugas kuliah, juga sibuk kerja sampingan untuk tambahan biaya pernikahan nanti. Kalau kamu keberatan karena aku jadi lalai sama calon istri, boleh kok minta aku berhenti. Biar kamu nggak merasa terabaikan sebagai calon tulang rusukku.” Betapa sulitnya menghadapi siang ini. Napas yang kutahan ternyata membuat d**a sesak. Pipi pun terasa panas. Apakah sebentar lagi akan terbakar? Entahlah. Aku terlalu antusias mendengarkan hal sehangat ini. “Gimana, Mir?” Aku menggeleng cepat. “Aku nggak apa-apa, kok. Kakak boleh kerja sampingan, asal

