“Cokelat dari siapa, Mir?” Ayu sudah berdiri di sampingku. “Nggak tau, Yu. Mungkin dari Kak El.” “Yakin?” Aku mengangguk ragu. Sadar dengan keberadaan Ayu yang tiba-tiba, aku mengernyitkan dahi menatapnya. “Oh, ini. Kemarin earphone lo kebawa. Jadi, mau gue balikin.” Aku mengangguk. Lalu, Ayu pamit kembali ke kelasnya yang berada di ujung. Ya, sama-sama di ujung, hanya saja kelasku dekat dengan tangga menuju musala kampus. Jadi, banyak para mahasiswa yang melewati samping ruangan. Di belakang juga ada tangga, mereka yang kelasnya ada di belakang, lebih dekat lewat tangga sebelah. Duduk dengan perasaan tak menentu, aku sama sekali tak nyaman dengan semua ini. Bagaimana bisa menerima hadiah setiap hari tanpa tahu pengirimnya? Sudah terhitung 4 hari ini ada 5 pemberian tanpa nama. Seb

