Cahaya oranye yang menerpa wajah, menyipitkan kedua mataku. Seketika jalanan tak terlihat. Aku segera berhenti di pinggir, setelah dirasa aman, kembali kupanjutkan langkah. Langit pagi ini tampak cerah, buktinya masih pukul 06.35 saja sudah terasa panas di kepala. Tiiin! Kaget setengah mati, aku mengelus d**a sambil beristigfar. Menengok ke sebelah kanan, ternyata pesepeda motor yang nyaris menyerempetku. Belum sempat menegur, orang itu sudah berhenti di depan sana. Baguslah, ia sadar diri. Aku buru-buru menghampirinya. “Sorry gue nggak sengaja.” Lelaki itu menengok setelah melepas helm. “Gian!” “Lo tuh udah ada tunangan, tapi kayak masih sendiri. Calon lo sibuk banget sampai nggak bisa nganter?” Aku mendekat, lalu tersenyum sinis. “Mau gue jalan, mau dianterin, mau ngesot, mau pa

