Bunda

319 Kata

“Bunda! Bunda ... aku ingin ikut denganmu. Aku rindu, Bunda. " Perempuan berwajah cantik itu terus saja melambaikan tangan seraya berjalan. Makin aku mengejar, makin jauh pula langkahnya. Hatiku tak tenang rasanya, nyeri, dan ada kesedihan mendalam di sana. "Bunda, jangan tinggalin aku!" Kini, langkahku terhenti. Kaki melemas dan tak ada daya untuk mengejar lagi. Lututku menyentuh rumput hijau yang terbentang luas. Sementara sosok wanita yang kupanggil Bunda itu hanya terlihat lambaian gaun putih panjang yang dipakainya. Aku ingin sekali memeluk, meski hanya sebentar. Ingin menumpahkan segala keluh kesah dan beban selama ini. Namun, itu mustahil. Bunda telah menghilang. Hanya bayangan senyumnya yang masih bersedia meninggalkan jejak. Aku tersenyum sejenak, setidaknya kerinduan ini sedi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN