10 Rencana Rahasia

1664 Kata
Mi Young melangkah menjauh saat Kyuyeon mulai sibuk dengan seorang gadis yang entah dengan alasan apa tidak menyukainya. Mereka baru saja selesai makan siang, dan pasangan itu sudah berada di rumah Kyuyeon. Siapa lagi kalau bukan Lee Jae-Hwa dan Shin Na Mi. Kehadiran perempuan itu di dekatnya membuat dirinya merinding. Auranya benar-benar mengerikan. Atau mungkin ini hanya perasaannya saja. Atau jika mengutip kalimat Kyuyeon, ini hanya perasaan sesaat sebagai ‘seorang istri yang sedang hamil dan akan membunuh suaminya karena cemburu’. Cih, yang benar saja! Gadis itu sedang sibuk mengelilingi rumah Kyuyeon. Baru menyadari bahwa terdapat sebuah danau di belakang rumah ini. Juga sebuah menara di sebelah kiri rumah, tidak begitu jauh dari rumah besar itu. Kakinya terhenti saat ia mendengar suara orang bercakap-cakap. “Kita harus melakukan apa pun agar hak milik kebun anggur ini menjadi milikku.” “Na Mi. Kita memang sedang melakukannya. Bersabarlah sedikit.” “Aku tidak peduli apa pun caranya.” “Kita sudah sepakat. Tidak akan ada yang disakiti di sini.” “Tenanglah, Jae-Hwa. Akan kupastikan kalau gadismu itu tetap hidup.” Mi Young menggigit jarinya tanpa sadar. Menahan napas dan suaranya. Tangannya tiba-tiba gemetar. Apa maksudnya? Mengambil alih kebun anggur? Maksudnya, mencuri? Tidak. Tidak boleh. Mereka tidak boleh mengambil apa yang menjadi milik Kyuyeon. Tidak! Gadis itu lalu mundur, berlari sekuat tenaga mengelilingi rumah itu sebelum Na Mi dan Jae-Hwa tahu bahwa ia sudah mencuri dengar. Ia tidak tahu ke mana kakinya akan membawanya. Yang jelas ia harus menjauh dari sini. Menjauh dari orang-orang jahat itu. Napasnya tersengal-sengal saat kakinya tidak sanggup lagi berlari. Gadis itu bertumpu pada lututnya. Matanya mendongak ke atas dan ia menemukan sebuah menara tinggi. Alisnya bertautan. Ia tidak pernah berjalan hingga ke sini, dan sekarang ia merasa penasaran. Akhirnya kakinya melangkah masuk ke dalam pintu itu. Ruangan yang tidak begitu luas, dengan tangga yang melingkar-lingkar di bagian tepi dinding. Terus melingkar hingga jauh ke atas. Wah, tinggi sekali. Mungkin sekitar enam lantai—atau lebih. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ia bisa mendapatkan lift di sini? Mi Young tidak sanggup jika harus menaiki tangga segitu banyak, sementara ia merasakan dorongan keinginan untuk sampai ke lantai tertinggi menara ini. Bibirnya tersenyum senang saat mendapati ruangan petak yang terletak di sebelah kanannya. Lift! Kakinya melangkah dengan semangat. Mi Young keluar dari lift. Tidak bisa berhenti takjub saat mendapati pemandangan di depannya. Lantai tertinggi menara ini tidak memiliki dinding, hanya dikelilingi oleh tiang-tiang penyangga yang kuat serta pagar besi yang juga mengelilinginya. Sebuah teleskop berdiri tegak di tepi ruangan. Ia duduk sejenak di lantai. Menyelipkan kakinya di antara pagar pembatas, membiarkan kedua kaki itu terjuntai. Ia merebahkan kepalanya di pagar pembatas. Mi Young menarik napas pelan. Memutar kembali kejadian tadi di kepalanya. Shin Na Mi dan Lee Jae-Hwa. Mereka bukan orang baik. Mereka bermaksud jahat pada Kyuyeon. Dan Kyuyeon tidak mengetahuinya. Apa yang harus dilakukannya? Apakah ia harus memberi tahu Kyuyeon? Tapi apakah laki-laki itu akan memercayainya? Pria itu terkadang tidak pernah menganggap kata-katanya sebagai ucapan yang serius. Seolah-olah Mi Young selalu bermain-main di hadapannya. Tapi ia tidak mungkin diam saja. Tidak setelah ia tahu kebenarannya. Mi Young memejamkan matanya. Membiarkan angin menyapu rambutnya yang tergerai. Tiba-tiba ia merasa lelah. Ia tidak tahu harus bagaimana. Gadis itu lalu bangkit, berjalan ke arah teleskop yang berdiri dengan tiang penyangganya, lalu memosisikan kepalanya. Wah, ia bisa melihat kebun anggurnya dengan detail melalui alat ini! Tangannya bergerak, mencari pemandangan lain untuk dilihat. Namun tubuhnya tiba-tiba kaku saat menyadari ada tangan lain yang memegangi alat ini. Yang kini juga sedang melingkupi tubuhnya dengan lengan besarnya. Mi Young memundurkan wajah. Membiarkan laki-laki itu kini mengambil alih teleskopnya. Kyuyeon membungkukkan tubuhnya sedikit. Memosisikan matanya di depan lensa lalu mengamati pemandangan di bawah sana. Tidak merasa terganggu dengan posisinya yang kini mengimpit tubuh Mi Young. Membiarkan gadis itu berdiri tepat dalam pelukannya. Merasakan perasaan hangat saat dirinya berdekatan dengan gadis ini. Membiarkan jantungnya berjumpalitan di dalam sana. “Apa yang sedang kau perhatikan?” Kyuyeon bertanya sambil melepaskan teleskopnya. Menunduk menatap Mi Young yang kini memerah. “Aku? Tidak ada. Hanya memperhatikan kebunmu.” Gadis itu meluncur turun, lolos dari pelukannya. Kyuyeon tersenyum geli. Ia melangkah ragu mendekati gadis itu yang kini sedang duduk di lantai. Menjuntaikan kakinya di sela-sela antara pagar pembatas. Kyuyeon menyandarkan tubuhnya pada tiang di samping gadis itu, tidak menghadap pada alam bebas. “Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?” “Bukan pekerjaan yang sulit.” Mi Young merengut. Jawaban yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Gadis itu lalu merebahkan kepalanya di pagar pembatas, melipat tangannya di bawah kepalanya, menatap penuh pada Kyuyeon yang kini juga sedang memandangnya. “Kyu, apakah aku boleh bertanya?” “Selain pencuri yang cantik, ternyata kau memang orang yang banyak bertanya,” komentar Kyuyeon lebih dulu. “Apa yang ingin kau tanyakan?” lanjutnya. “Apa pekerjaanmu sebenarnya?” Mendengar pertanyaan itu, Kyuyeon nyengir. Menatap gadis itu dengan tatapan senang. “Kenapa? Kau penasaran?” “Yah, sedikit. Selama ini aku terus mengikutimu ke mana-mana. Tapi aku tetap tidak mengerti apa sebenarnya pekerjaanmu. Aku yakin kau bukan sekadar pengusaha yang memiliki kebun anggur paling luas di Asia.” Kyuyeon lalu menatap gadis itu. Selama beberapa detik yang menenangkan mereka hanya berpandangan. Seolah-olah dengan cara itulah mereka berkomunikasi. “Aku seorang CEO,” ujar Kyuyeon jelas. Membuat Mi Young menautkan alis. Belum puas atas jawabannya. “Cho Corporation, perusahaan itu berada di bawah kekuasaanku. Aku yang menciptakan dan mengembangkannya. Mungkin kau pernah mendengarnya.” Mata Mi Young kini melebar sempurna. Respon yang membuat Kyuyeon tidak bisa menahan kekehannya. “Cho Corp. katamu? Tentu saja aku tahu! Bagaimana aku bisa tidak mengetahui perusahaan besar itu. Waah!” Mi Young berseru kagum. Menatap Kyuyeon dengan tatapan yang berbinar-binar yang malah membuat Kyuyeon ingin menciumnya sekarang juga. “Lalu kebun anggur ini?” “Kebun ini? Ini juga milikku. Sejak kecil aku menyukai anggur dan aku ingin memiliki kebun anggur sendiri. Jadi kurasa ini bisa disebut sebagai ... usaha sampingan? Atau hobi?” Mi Young menatap Kyuyeon dengan tatapan tidak percaya. Tangannya gatal sekali ingin mengacak-acak rambut Kyuyeon. Usaha sampingan? Hobi katanya? Usaha sampingan macam apa yang bisa menghidupi dirinya, keluarganya, dan anak cucu-cucunya tanpa khawatir jatuh miskin? Pria ini benar-benar menyebalkan! “Sekarang aku ingat. Bukankah Cho Corp. adalah perusahaan yang juga dinobatkan jadi produsen wine terbaik sejak tiga tahun lalu?” tanya Mi Young dengan ragu. Kyuyeon mengangguk seperti bocah yang sedang memamerkan mainannya. Membuat Mi Young makin menganga lebar. Jadi, selain jadi produsen terbaik, dia juga mengkaver bahan mentah utama dari produk terbaiknya itu? Pria ini memang betulan gila ternyata. “Kau tahu banyak ya soal bisnis? Meskipun yang kau maksud tadi adalah anak perusahaan Cho Corp.,” puji Kyuyeon secara tersirat. Mi Young mengedikkan bahunya. Ia hanya pernah membaca tentang itu saat dulu sedang mencari data pendukung soal tugas kuliahnya. Namun sepertinya Kyuyeon tidak perlu tahu soal itu, jadi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. “Mi Young~ah. Aku tahu di sini nyaman dan pemandangannya bagus. Tapi tidak bisakah kita turun saja?” pinta Kyuyeon tiba-tiba dengan nada tidak enak. Mi Young mengerjapkan matanya. Menatap wajah Kyuyeon di depannya yang terlihat terburu-buru dan cemas. Ada apa dengan pria ini? “Kau takut ketinggian?” tanya Mi Young lambat. “Aku hanya ... lebih suka berada di tanah. Bukan di tempat tinggi seperti ini.” Pria itu menjelaskan dengan menatap hanya padanya. Tidak pada objek lain yang bisa ia temukan dari atas sini. Mi Young menahan tawa kecilnya. Setelah barusan ia menganggap bahwa Kyuyeon adalah pria yang bisa melakukan apa saja, ternyata pria itu hanya manusia biasa—yang takut pada ketinggian.Melihat wajah tidak tenang itu entah kenapa membuatnya ikut merasa khawatir. Gadis itu mengulurkan tangannya. Mengusap dahi Kyuyeon yang sudah dibanjiri oleh keringat dingin. “Kau berkeringat, Kyu.” Gadis itu kini tersenyum. “Kau bisa memelukku kalau kau takut. Seperti saat kau memperbolehkanku untuk bersamamu saat aku takut tidur sendirian di kamarku.” Kyuyeon menaikkan alisnya saat gadis itu menepuk-nepuk bahunya pelan. Seolah menyuruhnya untuk bersandar di sana. Namun sayangnya, dia bukan pria yang suka setengah-setengah. Kyuyeon mengulurkan tangannya. Menggapai pinggang Mi Young dengan kedua tangannya lalu mengangkatnya. Menempatkan gadis itu di pangkuannya. Melingkarkan tangannya dengan erat di sekeliling tubuh gadis itu. Menenggelamkan kepalanya dalam rambut Mi Young yang menguarkan aroma strawberry yang lembut. “Begini lebih baik.” Suara pria itu teredam di kepala Mi Young. Pelukan Kyuyeon di sekeliling tubuhnya membuatnya merasa tenang dan nyaman. Jantungnya berdetak dengan kelewat gembira di dalam sana. Ia mengulurkan tangannya dengan lambat, melingkarkannya ke pinggang Kyuyeon. Merasa luar biasa nyaman saat berada dalam dekapan pria ini. Mi Young membenamkan dadanya di leher Kyuyeon, membiarkan hidungnya menghirup aroma pria ini yang memabukkan. “Bolehkah aku mengatakan sesuatu?” Suara Mi Young teredam di leher Kyuyeon. “Apa saja, Mi Young. Katakanlah.” “Bisakah kau berhati-hati pada Na Mi?” Kyuyeon terdiam lama. Ia lalu melepaskan pelukannya agar bisa menatap wajah gadis itu. “Oh? Ada apa ini? Kupikir Sindrom-ibu-hamil itu sudah habis.” Kyuyeon menatap Mi Young dengan tatapan menggoda sekaligus senyum geli. Membuat Mi Young merengut dan kesal bukan main. “Aku serius, Kyuyeon! Dia ... dia itu mengerikan.” “Mi Young, percayalah. Dia bukan siapa-siapa lagi bagiku. Jadi, jangan khawatir lagi seperti ibu hamil, oke?” “Bukan begitu maksudku. Lagi pula berhenti menyebutku ibu hamil. Aku ini tidak hamil!” Kyuyeon terkekeh saat gadis itu membentaknya. Hei, seorang bos besar sepertinya dibentak-bentak? Kyuyeon mengeratkan kembali pelukannya saat ia merasa bahwa Mi Young berniat untuk kabur dari pangkuannya. Merajuk. “Ah, apakah kau ingin agar aku bisa membuatmu hamil? Itu bukan pekerjaan sulit, kurasa.” “Apa katamu? Tidak.” “Hei, Pencuri Cantik, Kau meremehkan kemampuanku? Tidak percaya?” “Hilangkan pikiran kotormu itu, Majikan Tampan.” “Aku tidak bisa. Mungkin kau bisa membantuku menghilangkannya. Setelah kita mencobanya terlebih dahulu.” “Aku bilang tidak mau!” Kyuyeon tergelak bebas. Memeluk Mi Young dengan erat, membenamkan wajah gadis itu di dadanya agar Mi Young tidak bisa mengeluarkan protes apa pun lagi. Menghirup napas dengan bebas, merasakan bahwa inilah kehidupan yang paling tepat bagi mereka. Melupakan kenyataan bahwa ia berada jauh dari permukaan tanah.  Tanpa merasa takut ataupun berkeringat dingin. Hanya karena gadis ini. Memeluknya dan memastikan kehadirannya di sampingnya. Hanya sesederhana itu. “Kyu ….” Saat Kyuyeon merasa bahwa dunianya sudah sempurna, Mi Young lagi-lagi menginterupsi. “Ya?” Pria itu sedang berusaha menjauh agar bisa menatap Mi Young sepenuhnya, tapi tangan Mi Young menahannya. “Jangan jatuh cinta padaku,” ujarnya pelan dalam bisikan. Suaranya terlalu lirih hingga Kyuyeon merasa mungkin saja sudah berhalusinasi saat mendengarnya. Tidak ada ucapan lagi setelahnya. Aura dingin ini membuat Kyuyeon tahu bahwa ini bukan ilusi. “Aku yang akan memutuskan sendiri soal itu,” tentang Kyuyeon secara tersirat. Ia bisa merasa bahwa Mi Young ingin bicara lagi, tapi gadis itu tidak mengatakan apa pun. Akhirnya keduanya hanya diam. Membiarkan pikiran itu berkecamuk di kepala masing-masing.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN