9 Tidur Bersama

1640 Kata
Mi Young memejamkan mata saat dirinya berendam dalam bath tub di kamar mandinya. Ia dan Kyuyeon baru pulang pada pukul sembilan malam. Pria itu benar-benar sibuk. Dan kini Mi Young mulai merasa dirinya seperti sekretaris sekaligus pembantu. Oh, ini cukup melelahkan. Ditambah ia hanya bisa tidur 2 hingga 3 jam beberapa hari ini. Terkutuklah segala mimpi buruk itu. Gadis itu keluar dari kamarnya dengan piyama birunya. Rambut cokelatnya terurai bebas di punggung. Ia turun ke lantai bawah, memeriksa pintu apakah sudah terkunci. Matanya menatap berkeliling, menyadari bahwa rumah ini terasa lengang. Ia lalu berjalan kembali ke lantai dua. Matanya melirik pintu kamar Kyuyeon. Bertanya-tanya apa yang sedang pria itu lakukan. Kepalanya bergejolak dengan berbagai ketakutan dan keraguan. Merasa bingung apakah ia harus melakukannya atau tidak. Kyuyeon baru saja selesai mandi. Ia membaringkan tubuhnya di kasurnya dengan nyaman. Mengambil buku di atas nakas lalu mulai membacanya. Ia mengerutkan kening saat pintu kamarnya diketuk dari luar. “Masuk,” ujarnya sekaligus mengandung perintah. Matanya menangkap seorang gadis dengan piyama biru berdiri di dekat pintunya sambil memegang sebuah bantal. “Ada apa?” Bukannya menjawab, Mi Young malah berdiri diam. Menggigit bibirnya sambil berdiri tidak nyaman. Hal yang tiba-tiba membuat Kyuyeon gemas. “Mi Young, ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?” “Hmm ...  Kyuyeon~ssi, maksudku Tuan Cho, apakah kau keberatan kalau aku tidur di sini? Aku bisa tidur di sofa. Aku tidak begitu akrab dengan suasana baru kamar itu. Tapi itu pun kalau kau mengizinkannya.” Gadis itu memandangnya dengan tatapan takut dan lugu. Berdiri di depan pintu sambil memeluk bantal. Kyuyeon terdiam di tempatnya. Merasa ada yang salah dengan telinganya. Ia membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat mengerti apa maksud gadis itu. Kediamannya membuat Mi Young semakin merasa salah. “Kurasa aku salah. Lupakan saja ucapanku tadi. Aku ... aku akan kembali ke kamarku sekarang. Maaf mengganggumu. Selamat malam.” Mi Young berkata dengan kalimat berantakan. Ia lalu membalikkan tubuhnya secepat kilat, berniat meninggalkan Kyuyeon. “Tunggu,” cegah Kyuyeon tiba-tiba. Mi Young berdiri di ambang pintu. Tubuhnya berbalik. “Ya?” “Kemarilah. Kau bisa tidur di sini.” Mi Young mengerjapkan matanya. Tidak memercayai apa yang didengarnya. Ia hanya menatap Kyuyeon dengan tatapan polos. “Hwang Mi Young, cepat kemari. Kau ingin berdiri di sana sampai kapan?” Mi Young menutup pintu, lalu berjalan dengan lambat ke arah Kyuyeon. Merasa ragu apakah ini keputusan yang tepat. Ia menggelengkan kepalanya, menghilangkan keraguan itu. Merasa kalah dengan ketakutannya saat membayangkan dirinya harus tidur sendirian di kamarnya. Beberapa hari ini sudah seperti keajaiban baginya. Jika ia berakhir di kamar dan tidak bisa tidur lagi, Mi Young merasa besok ia benar-benar akan demam karena sakit akibat kurang istirahat. “Bukan di sana, tapi di sini.” Lagi-lagi suara Kyuyeon menariknya dari lamunan. Kali ini ia yakin bahwa ada yang salah dengan pria itu. “Kau yakin? Aku akan tidur di sofa. Tidak apa-apa. Sungguh.” Mi Young melambai-lambaikan tangannya. Berusaha meyakinkan Kyuyeon bahwa itu bukanlah masalah. Bibirnya mengatup rapat saat melihat tatapan tajam Kyuyeon. “Aku tidak mungkin membiarkanmu tidur di sofa, Mi Young. Jadi kemarilah sekarang juga.” “Tapi, Kyu, maksudku Tuan Cho, aku—” “Sekarang, Mi Young. Hilangkan pikiran kotormu itu dan naik ke ranjangku sekarang!” Mi Young mengerucutkan bibirnya. Merasa tersudut dengan kalimat Kyuyeon. Pikiran kotor katanya? Hey, dia hanya berusaha menjaga diri. Itu wajar kan? Kyuyeon tidak melepaskan tatapan dari gadis itu saat ia berjalan menuju ranjangnya. Terus menatap Mi Young yang kini sudah berbaring nyaman di sebelahnya. Ia menutup bukunya dan meletakkannya kembali di atas nakas. Ikut berbaring dengan menghadap ke arah gadis itu. “Kau tidak jadi membaca?” “Tidak.” “Kenapa?” “Tiba-tiba aku ingin ikut tidur denganmu.” Kyuyeon berkata sambil menyeringai. Terkekeh saat kini Mi Young merapatkan selimut hingga ke lehernya. “Aku bercanda. Aku hanya ingin tidur. Kau tidurlah.” “Terima kasih, Tuan Cho.” Kyuyeon melebarkan matanya, memandang aneh pada Mi Young yang kini berbaring menatapnya sambil tersenyum. Membuat jantungnya tiba-tiba mengembang. “Jangan berterima kasih. Dan, kau tidak perlu memanggilku Tuan Cho. Kau boleh memanggilku Kyuyeon.” “Tapi, bukankah itu tidak sopan?” Kyuyeon menaikkan alisnya, menatap Mi Young dengan geram. “Sepertinya sejak awal kau memang sudah tidak sopan padaku, Nona Hwang. Cukup berani kurasa.” Mi Young tersenyum malu. Menyadari kelancangannya. “Aku suka memanggilmu Kyuyeon.” Pria itu lagi-lagi terdiam saat melihat senyum cantik itu terbit. Tidak bisa mengendalikan jantungnya jika pipi gadis itu merona saat tersenyum padanya. “Aku juga suka dengan gadis yang jujur dan berani,” ujar Kyuyeon balas menggoda. Ia terkekeh senang. “Sudah malam. Tidurlah.” Mi Young menurut. Ia membenarkan posisinya lalu memejamkan matanya. Merasa tenang saat tenggelam dalam selimut putih Kyuyeon. “Kau tidak ingin bertanya?” tanya Mi Young pelan. Kyuyeon menatap gadis itu sesaat. Mengetahui dari tatapan kejujuran itu bahwa tidak ada niat tersembunyi di sana. “Kau ingin aku bertanya?” tanyanya balik. Mi Young menggeleng pelan. “Kalau begitu lupakan. Tidurlah,” putus Kyuyeon kemudian. Ia tahu Mi Young pasti punya alasan sendiri hingga berani menampakkan diri ke kamarnya. Karena ia tahu bahwa jika bisa menghindar, gadis itu tidak akan bersedia bersamanya lama-lama. Ia tidak mengerti apa yang menyebabkan Mi Young segelisah itu saat di dekatnya. “Maaf, hanya malam ini saja. Aku akan berusaha agar besok tidak mengganggumu tidur,” ujar Mi Young tiba-tiba dengan tidak enak hati. Tentu saja. Meminta tidur bersama dengan majikanmu bukanlah permintaan yang normal. Mi Young sudah menelan seluruh rasa malu dan bertaruh pada keberuntungan saat ia mengambil keputusan ini. Ia juga yakin Kyuyeon tidak akan berpikiran macam-macam. Di matanya, Mi Young hanyalah asisten serba bisa. “Selamat malam, Kyu.” “Selamat malam.” *** Sudah satu minggu lebih Mi Young menghabiskan waktunya di rumah Kyuyeon. Dan ia sepenuhnya menyadari bahwa pria itu benar-benar sibuk. Ia bahkan harus mengingatkan Kyuyeon berkali-kali untuk makan siang. Untungnya, pria itu tidak akan melupakannya saat Mi Young ikut serta. Ia bisa mengingat jam makan dengan baik saat mereka berdua, tapi jika Kyuyeon pergi sendiri, pria itu seolah-olah tidak memiliki jam tangan. Mi Young berlari menuruni anak tangga rumah Kyuyeon. Rambut basahnya tergerai bebas. Bibirnya sibuk merutuki kelakuan Kyuyeon tadi malam. Dasar pria! Gara-gara dia, mereka terlambat bangun  hingga harus pontang-panting pagi ini. Memangnya dia pikir umurnya berapa? Lima tahun? Mi Young membuat sarapan secepat kilat. Memutuskan untuk membuatkan Kyuyeon kopi dan roti isi serta s**u strawberry untuk dirinya. Sarapannya sudah hampir siap, dan ia bisa melihat Kyuyeon menuruni anak tangga. Mi Young membersihkan tangannya. Berlari mengelilingi counter dapur untuk menghampiri Kyuyeon. Kakinya terpeleset saat dengan beringas ia melangkah. Nyaris tersungkur kalau saja tangan Kyuyeon tidak memegangi pinggangnya. “Pelan-pelan. Jangan berlari. Kau bisa jatuh.” Kyuyeon berkata dengan amarah yang teredam. Seolah-olah jika Mi Young jatuh, itu adalah kesalahan yang amat fatal. Mi Young hanya memberikan cengiran minta maaf. Ia lalu mengambil dasi yang Kyuyeon pegang. Membiarkan Kyuyeon mengangkat dirinya ke atas meja, duduk di samping sarapan pagi mereka. Ia lalu mulai memasangkan dasi Kyuyeon pada kemejanya. “Setengah jam lagi aku ada rapat. Kau di rumah saja. Urusanku di kantor hanya sebentar.” “Baiklah. Aku bisa melakukan apa saja. Ini semua karena usul gilamu tadi malam. Kenapa kau harus mengajakku main game, hah? Kau lihat apa akibatnya? Kita berlarian di pagi hari. Kenapa juga aku mesti mengiyakan ajakanmu tadi malam. Astaga!” Kyuyeon hanya nyengir. Ia membiarkan tangannya melingkari pinggang gadis itu. Kebiasaan mereka sejak pertama kali Mi Young tinggal di sini. Mi Young tidak tahu sejak kapan ini dimulai, tapi semakin hari interaksi mereka menjadi semakin intens hingga terasa sudah menjadi kebiasaan yang wajar. Ia mulai bingung. Sikap Kyuyeon padanya terkadang terasa seperti seolah mereka sedang … berkencan. Entahlah. Mi Young tidak mau memikirkan itu terlalu dalam. Kyuyeon menaikkan alisnya. “Apakah sekarang kau mengomeliku?” Mi Young menggigit bibirnya, pipinya memerah. Menyadari posisinya yang hanya seorang asisten. “Bu—bukan begitu. Aku hanya tidak ingin kau terlambat bekerja.” “Mi Young, tidak akan ada yang berani mengomeliku sekalipun aku terlambat datang.” Mi Young memilih diam. Cemberut menanggapi pernyataan Kyuyeon yang terkadang menjengkelkan. Ia sudah menyelesaikan pekerjaannya—memasangkan dasi Kyuyeon. Matanya menatap kosong pada simpul dasi. Tiba-tiba hanyut dalam bayang-bayang kejadian yang sejak kemarin membuatnya tersiksa tanpa alasan. Ia mengembuskan napasnya berat. Kyuyeon menatapnya dengan pandangan bertanya. Matanya menatap tajam pada wajah gadis di hadapannya yang terlihat mengambang. Seolah jiwanya sudah pergi entah ke mana. Ia mengeratkan rangkulannya di pinggang Mi Young. “Ada apa?” Mi Young tersadar. Matanya memandang Kyuyeon saat rangkulan pria itu mengerat. “Bolehkah aku bertanya sesuatu?” “Kau memang selalu bertanya padaku, Mi Young. Katakan saja.” “Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Shin Na Mi?” Mata Kyuyeon melebar saat mendengar pertanyaan tidak terduga itu. Ia menatap Mi Young dengan teliti, berusaha mencari petunjuk dari ekspresi biasa gadis itu. “Kenapa tiba-tiba bertanya tentang dia?” “Tidak—aku tidak tahu. Tapi kurasa ia tidak menyukaiku. Dia menatapku seolah-olah aku adalah penghalang di antara kalian. Itu membuatku merasa ... entahlah. Aku tidak tahu apa yang salah.” Kyuyeon terdiam lama. Tiba-tiba merasa bingung atas apa yang harus dilakukan. Ia lalu menatap Mi Young dengan ketegasan yang berbaur dengan rasa tulus. “Jangan berpikir yang tidak-tidak. Dia hanya mantan kekasihku. Hubungan kami sudah berakhir. Dan sekarang kami teman—sekaligus rekan bisnis. Itu saja.” Mi Young mengangguk pelan dengan lambat. Berusaha menghilangkan rasa tidak nyaman itu dari hatinya. “Baiklah, sekarang aku mengerti kenapa ia memandangku seolah aku s**u strawberry di padang gurun. Tapi aku tidak mengerti kenapa dia terlihat agak ... jahat.” Kyuyeon menaikkan alisnya, heran. Detik berikutnya ia tersenyum geli, memasang tampang menggoda. “Kau cemburu?” “Ap—apa? Tidak. Aku tidak cemburu! Yang benar saja! Kenapa aku harus cemburu?” “Hwang Mi Young, kau jelas-jelas merasa cemburu. Mengaku saja!” “Aku bilang aku tidak cemburu. Memangnya aku terlihat seperti orang yang cemburu?” “Kau terlihat seperti istri yang sedang hamil dan akan membunuh suaminya karena cemburu.” Mi Young menganga lebar. Dari sekian banyak yang bisa pria itu katakan, bagaimana bisa Kyuyeon mengatakan itu. “Cho Kyuyeon, aku bilang aku tidak cemburu. Aku hanya ... tidak memahami sikapnya padaku. Itu saja.” Kyuyeon memandang lembut wajah polos itu. Ia mengembuskan napas pelan. “Kau tidak harus menyukainya. Aku senang kau mengatakannya padaku.” Mi Young memandang Kyuyeon penuh tanya. Tidak mengerti atas apa yang pria itu katakan. “Apa maksudnya?” Bukannya menjawab, Kyuyeon kini malah memandanginya lama. Membuat Mi Young merasa kalau tubuhnya sebentar lagi akan lumer. Napasnya hilang saat pria itu memajukan wajahnya dan mengecup pipinya lama. Tindakan yang membuat tubuh Mi Young kaku di tempatnya. Interaksi ini lagi! Kalau seperti ini terus bisa-bisa ia benar-benar salah paham pada Kyuyeon. Apa maksud pria ini sebenarnya? “Aku masih punya rapat untuk diurus. Hati-hati di rumah. Aku akan makan siang di rumah nanti.” Setelah menghabiskan kopinya, pria itu melangkah keluar hingga hilang di balik pintu. Meninggalkan Mi young dalam istananya dengan keadaan mengenaskan karena sindrom-ciuman-di-pipi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN