8 Cemburu

1421 Kata
“Mi Young~ah. Apa kau yakin kau tidak apa-apa?” “Ibu, jangan khawatir. Kyuyeon membutuhkan bantuanku, itulah kenapa ia memintaku untuk menjadi asistennya. Lagi pula ini satu-satunya cara agar aku tidak berakhir di penjara.” Nyonya Hwang memukul pelan kepala anak gadisnya dengan gemas. Membuat Mi Young meringis. “Aduh, kenapa Ibu malah memukulku?” “Sudah Ibu bilang untuk jangan mencuri. Kenapa kau tidak mau mendengarkan?” “Aku benar-benar minta maaf. Tidak akan kuulangi,” jawab Mi Young pelan. Hwang Min Jee menatap anaknya dengan prihatin. Ia lalu menarik Mi Young ke pelukannya. “Maafkan Ibu. Tidak seharusnya Ibu membiarkanmu menanggung semuanya sendirian.” “Ibu! Jangan berkata begitu. Sudahlah. Lagi pula ini bukanlah pekerjaan yang sulit. Anggap saja aku masih bekerja di kebun anggur. Kyuyeon juga pria yang baik.” Mi Young melepaskan pelukannya lalu menatap ibunya sambil tersenyum. Berusaha meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. “Aku yakin tidak lama lagi kita akan melunasi utang ayah. Oh, apakah dia menelepon ibu?” Hwang Min Jee diam sejenak sebelum menggelenng pelan. “Kalaupun dia menelepon, tidak usah diangkat,” jawab Mi Young pelan. Hwang Min Jee mengembuskan napas pelan. “Ibu mengerti.” Mi Young kemudian bangkit. “Aku harus kembali ke rumahnya secepatnya. Ada pekerjaan yang harus kulakukan.” Mi Young kemudian masuk ke kamar, membereskan pakaiannya dengan cepat. Tak lama kemudian ia keluar dengan sebuah koper. Ia menemukan neneknya sedang duduk di depan televisi. Ia menghampirinya lalu duduk di sebelahnya. “Nenek, aku pergi dulu. Jaga diri baik-baik, ya. Aku akan sering datang ke sini. Jangan lupa makan.” Ia mencium pipi neneknya dan dibalas dengan pelukan ringan di tubuhnya. “Hati-hati. Jangan menyusahkan Tuan Cho,” pesannya. Mi Young merengut. “Bukankah seharusnya kau mengkhawatirkan aku?” Neneknya tersenyum. “Entahlah. Aku hanya punya firasat bahwa Tuan Cho tidak akan melakukan hal buruk padamu. Jadi, kemungkinan masalahnya ada di kau, Mi Young.” “Nenek!” Mi Young berseru gemas. Neneknya tertawa sebentar. “Kalau ada hal aneh, sekecil apa pun, beritahu aku. Lalu aku akan membereskan Tuan Cho, tidak peduli walaupun dia atasan kita,” belanya kemudian. Mi Young akhirnya tersenyum. Ia lalu bangkit, menghampiri ibunya yang kini berdiri di ruang tamu rumahnya. “Aku pergi, Ibu.” “Jaga dirimu baik-baik.” “Tentu. Jangan lupa makan dan hiduplah dengan baik.” Setelah adegan berpelukan itu selesai, Mi Young kembali ke rumah Kyuyeon. Jarak yang harus dilewatinya cukup jauh. Mungkin beberapa kilometer. Ya ampun, kebun ini indah sekali! Ia berjalan di jalan selebar dua buah mobil yang dikelilingi oleh tiang lampu serta tanaman-tanaman anggur. Membiarkan matanya menikmati pemandangan hijau itu dengan beberapa orang yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Mi Young merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu Kyuyeon saat ia tiba di sana. Kakinya terasa pegal. Matanya menatap berkeliling. Ia belum benar-benar memperhatikan rumah ini sejak kedatangannya pertama kali. Rumah ini tergolong luas untuk ditinggali sendirian. Perabotannya tertata secukupnya, membuat Mi Young paham bahwa Kyuyeon bukanlah pria yang gemar menumpuk barang. Kakinya melangkah lebih dalam, menemukan ruang keluarga dengan sofa-sofa besar yang membentuk lingkaran, meja persegi di tengah, dan layar televisi besar di hadapannya. Terdapat perapian di sisi yang lain. Dinding putih itu ditutupi oleh beberapa lukisan yang tidak Mi Young mengerti. Matanya melirik dapur, lalu ia menyeret kopernya untuk naik ke kamarnya di lantai dua. Setelah menutup pintu kamar, Mi Young menemukan sebuah grand piano. Dengan jendela kaca besar di belakangnya yang tertutupi gorden putih. Apakah Kyuyeon bisa memainkannya? Ah, ia akan bertanya nanti. Mi Young berdiri sambil bertolak pinggang di tengah ruangan. Ia baru saja merapikan dapur. Dan kini sepertinya ia harus mengepel ruang tamu beserta ruang tengah rumah ini. Kyuyeon bilang bahwa nanti ia akan kedatangan tamu. Sebaiknya ia bergegas. Dengan segenap kekuatan dan semangat, akhirnya pekerjaannya selesai. Mi Young sedang menyeruput s**u strawberry yang ia temukan di kulkas saat telinganya menangkap suara yang berasal dari ruang depan. Kakinya melangkah dengan cepat keluar, nyaris terpeleset saat sandal rumahnya beradu dengan marmer yang licin. Matanya menangkap kehadiran Kyuyeon diikuti oleh beberapa orang. Di sebelah Kyuyeon, Tuan Lee—Lee Dae-Jung—sedang berbicara sesuatu dengan pria itu. Lalu di sisi yang lain terdapat seorang wanita cantik dan pria yang lain. Ketiganya lalu duduk dengan nyaman di ruang tengah. Membicarakan hal yang tidak Mi Young mengerti mengenai kebun anggur dan bisnis. Kyuyeon menghilang di balik pintu, ruang kerjanya mungkin? Mi Young berdiri canggung. Apa yang harus ia lakukan? Oh, minuman. Ia harus menyiapkan minumannya. Ia lalu berlari lagi ke dapur. Berkutat dengan apa pun yang harus dilakukannya sekarang. Tak lama itu, ia sudah berjalan dengan anggun dengan nampan di tangan. Ia bisa melihat tatapan kaget dari ketiga orang di sana saat ia tiba di hadapan mereka. Mi Young meletakkan gelas di meja lalu berdiri di dekat sofa. “Silakan diminum.” Suaranya terdengar ramah diiringi bahasa tubuh yang mempersilakan. Kyuyeon kembali dengan membawa map di tangan. Mendudukkan tubuhnya di sofa di samping Mi Young. Gadis itu terduduk dengan kasar saat tangan Kyuyeon menariknya untuk duduk di sampingnya. Aduh, apa yang sebenarnya pria ini lakukan?! “Hwang Mi Young, asistenku.” Kyuyeon memperkenalkan dengan singkat. Matanya kini sibuk mengamati kertas dengan tabel dan tulisan rumit di dalamnya. Tidak merasa terusik dengan tangannya yang masih bertengger di atas tangan Mi Young. Mi Young tersenyum canggung. Ia bisa melihat tatapan penuh selidik dari dua orang yang tidak dikenalnya. Sementara Lee Dae-Jung menatapnya dengan serius. Pria itu jelas menahan senyum. Lagi-lagi Mi Young merasa canggung. Ia bermaksud berdiri namun tangan laki-laki itu masih menahannya. Kyuyeon tidak memandang gadis itu sama sekali. Namun tubuhnya menahan Mi Young dengan sangat baik. Ia tidak membiarkan gadis itu untuk menjauh, seolah menunjukkannya pada orang-orang bahwa gadis itu berada di bawah pengawasannya dan tidak akan ada yang bisa menyentuhnya tanpa seizinnya. Kyuyeon menggeserkan kepalanya, mendekati telinga Mi Young yang kini duduk dengan tegang di tempatnya. “Duduk diam di sini. Jangan ke mana-mana.” “Aku mengerti, tapi lepaskan dulu tanganku.” Kyuyeon menurut, ia membiarkan gadis itu menarik tangannya. Tidak bisa menahan senyumnya saat Mi Young mengikuti perintahnya untuk tidak beranjak ke mana-mana. Mata pria itu masih sibuk membaca materi di tangannya. Lalu ia beralih pada Lee Jae-Hwa dan Shin Na Mi di hadapannya. Tenggelam dalam pembicaraan mengenai kebun anggur dan potensi yang dimilikinya. Mi Young duduk dengan patuh di kursinya. Tidak mengerti kenapa Kyuyeon tidak membiarkan dirinya pergi dari sini. Ia memainkan jarinya, mengikuti alur tidak beraturan di nampan yang dipegangnya. Ia menulikan telinganya, tidak ingin mendengar mengenai pembicaraan Kyuyeon dan dua orang tidak dikenal. Merasa seperti anak kecil yang tersesat. Setelah kurang lebih dua jam, pembicaraan mereka berakhir. Mi Young turut bangkit saat Kyuyeon berdiri. “Kita akan bertemu lagi nanti, Kyu.” Lee Jae-Hwa menjabat tangan Kyuyeon. Menampilkan senyum ramah yang menawan. “Tentu.” Kyuyeon menjawab tanpa benar-benar tersenyum. Pria itu kini beralih pada Mi Young, mengulurkan tangannya. “Senang bertemu denganmu, Nona Hwang. Aku Lee Jae-Hwa. Sepertinya tadi kita belum berkenalan.” “Aku Hwang Mi Young. Senang berjumpa denganmu, Tuan Lee.” Mi Young balas tersenyum saat Jae-Hwa melemparkan senyum padanya. Pria ini terlihat ramah dan baik. Ia terlihat tampan dalam setelan kerjanya. Gadis itu tidak tahu bahwa sejak Mi Young memberikan minuman pada mereka, Jae-Hwa sudah menatapnya penuh minat. Hal yang membuat Kyuyeon tiba-tiba merasa terbakar. “Aku Shin Na Mi. Aku tidak tahu kalau Kyuyeon memiliki asisten.” Kini wanita di sebelah Jae-Hwa yang mengulurkan tangannya. “Hwang Mi Young.” Mi Young menyalami Na Mi dengan sopan. Kini semuanya berjalan dengan pelan menuju pintu depan. Mi Young bergerak mundur, berjalan di belakang Kyuyeon layaknya asisten yang baik. “Kau terlihat baik, Mi Young~ah.” Lee Dae-Jung menyapanya dengan senyum jenaka. “Ya, temanmu majikan yang cukup baik, Tuan Lee.” Mi Young menjawab sambil tersenyum. Mengimbangi langkah kaki pria itu. “Dae-Jung saja. Aku bukan tuanmu lagi sekarang.” Dae-Jung mengedikkan dagunya pada Kyuyeon. Membuat Mi Young tertawa. Ia lalu mengangguk. Matanya ikut memperhatikan Kyuyeon yang kini sedang mengantar tamunya pulang. Bola matanya nyaris keluar saat melihat bahwa Shin Na Mi kini sedang memeluk Kyuyeon. “Bagaimana kabar ibumu? Aku merindukannya.” Mi Young bisa mendengar gadis itu bertanya. “Dia baik. Masih cerewet seperti biasanya. Kau bisa mampir ke rumah dan mengobrol langsung dengannya.” “Baiklah, aku akan ke sana saat waktu senggang. Aku pulang dulu. Beristirahatlah dengan baik. Jangan jadi pria yang gila kerja.” “Jangan ikut menjadi cerewet seperti ibuku. Kau pulanglah.” Gadis itu cemberut saat Kyuyeon menyindirnya. Ia lalu memajukan tubuhnya dan mengecup pipi Kyuyeon ringan lalu melangkah masuk ke mobil. Mi Young mencengkeram blus birunya tanpa sadar. Tidak mengerti kenapa ia merasa sakit. Ia menguatkan ekspresinya saat kini Kyuyeon menoleh padanya. Menatapnya dengan terkejut. “Aku masih memiliki urusan setelah ini. Mi Young, aku mau kau ikut denganku.” Mi Young menatap Kyuyeon dengan tatapan kosong. Ia berusaha memaksa lidahnya bicara. “Oke, aku akan ikut serta.” Kyuyeon menautkan alisnya saat mendengar suara gadis itu tercekat. Tapi ia tidak bisa mendapatkan kesimpulan apa pun dari ekspresi gadis itu yang menyembunyikannya dengan baik. Membuatnya tiba-tiba merasa seperti orang jahat. Dae-Jung bergerak lebih dulu, masuk ke dalam mobil dan duduk sebagai sopir. Kyuyeon berjalan dan masuk ke kursi penumpang di belakang. Sementara Mi Young menurut saat Kyuyeon memintanya duduk di sampingnya. Ia masih tidak bisa menemukan dirinya yang tersesat dalam kenyataan baru yang ia masuki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN