7 Mulai Bekerja

1067 Kata
Mi Young keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya. Ia membungkus rambutnya yang basah dengan handuk putih. Matahari masih malu-malu untuk muncul, tapi ia sudah melek dengan segar. Yah, dia bahkan tidak bisa tidur sama sekali tadi malam. Hal yang selalu terjadi dan kali ini sedang kambuh dalam tingkatan berbahaya. Terlebih karena ia terus merasa waswas di kamar itu. Meski Kyuyeon memang bilang bahwa ia bisa pulang kapan saja, tapi ia tidak bisa membuat kakinya beranjak pergi dari rumah ini. Setelah berpikir nyaris semalaman, kini tekadnya sudah bulat. Ia akan menjadi asisten Kyuyeon dengan baik. Seperti yang pria itu katakan, mungkin ia bisa dapat gaji tambahan. Mata Mi Young berkeliling, dan ia menepuk jidatnya dengan keras saat menyadari sesuatu. Sial! Ia tidak membawa baju ganti. Bagaimana bisa membawanya kalau kejadian ini saja ia tidak pernah membayangkannya. Gadis itu berdiri di depan cermin. Mematut dirinya. Rasanya jubah mandi ini cukup sopan. Di atas lutut memang, tapi setidaknya tidak begitu terbuka. Baiklah, abaikan saja. Ia harus menyiapkan sarapan sekarang. Mengingat bahwa kini ia memiliki seorang majikan. Yah, majikan yang tampan, sialnya. Ia tidak mau dipecat pada hari pertama bekerja. Mi Young bergerak gesit di balik lemari dapur. Ia memutuskan untuk membuat omelet dan sup. Ia tidak tahu apa yang Kyuyeon sukai, jadi ia memilih menu yang paling aman. Tidak ada yang tidak bisa makan sup, kan? Atau omelet? Apakah ia harus membangunkan Kyuyeon? Apakah itu termasuk hal yang lancang atau sudah menjadi tugas asisten? Ia hanya takut kalau makanan ini akan dingin. “Apa yang kau lakukan di sana?” Suara berat itu menyentakkan Mi Young. Ia berbalik, mendapati Kyuyeon yang kini menatapnya dengan tatapan tidak terbaca. Kyuyeon sudah berdiri di sana sejak gadis itu memasuki dapur. Hidungnya merasa sensitif dengan aroma segar gadis itu yang baru saja selesai mandi. Dan matanya membulat sempurna saat mendapati gadis itu bergerak lincah di dapurnya. Berjalan ke sana kemari dengan hanya mengenakan jubah mandi! Oh baiklah, itu adalah tindakan yang cukup berani. Atau malah bodoh? “Aku membuatkanmu sarapan. Kurasa itu sudah menjadi tugasku,” beritahu Mi Young dengan senang. “Oh, ya, tentu saja. Jadi, apa yang kau buat?” Kyuyeon mengangguk meski tadinya tampak bingung. “Omelet dan sup. Apa itu tidak masalah?” Mi Young menatap Kyuyeon ragu. Tidak yakin dengan keputusannya. Kyuyeon menaikkan sebelah bibirnya. “Tidak.” Kyuyeon duduk di kursi bar dapurnya. Mendekatkan piring itu lalu mulai menyantap. Segala konsentrasinya terusik saat Mi Young duduk di hadapannya dan melepaskan handuk yang membungkus rambutnya. Membuat rambut kecokelatan itu menjuntai bebas ke punggung dan dadanya. Terurai tidak beraturan yang membuat wajah itu terlihat cantik dengan nuansa pagi yang segar. “Kau tidak makan?” tanya Kyuyeon mengalihkan konsentrasi. “Aku bisa makan nanti.” “Apa kau harus berkeliaran dengan penampilan seperti itu di rumahku?” “Ah, maaf. Aku tidak memiliki baju ganti. Dan kurasa jubah ini tidak begitu masalah,” jawab Mi Young mengamati penampilannya sesaat lalu kembali menatap Kyuyeon. Kyuyeon menggeram pelan. Tidak masalah? Hei, aku bisa menyelesaikanmu sekarang juga hanya dengan menarik lepas tali kecil itu! Alam bawah sadarnya berteriak. Kyuyeon menghabiskan sarapannya dengan gigitan besar. Berusaha mengabaikan kehadiran gadis itu yang pagi ini benar-benar menguras kesabarannya. “Apa kau tidur dengan nyenyak?” Mi Young tergagap di tempat saat Kyuyeon bertanya. Apakah ada yang salah dengan wajahnya? Apakah matanya menghitam? Bagaimana Kyuyeon bisa memberikan pertanyaan mengerikan itu? “Ah, itu. Aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku memiliki masalah serius soal itu. Hanya kadang-kadang saja. Kau tidak perlu memikirkannya.” Mi Young menjawab sambil mengibaskan tangannya. Tidak menyadari kalau kini Kyuyeon menatapnya dengan tatapan tidak senang. Kenapa? Kenapa ia tidak bisa tidur? Apakah kamar itu berhantu? Atau tidak nyaman? Pertanyaannya tenggelam dalam benaknya. Tidak terungkapkan. Mereka lalu tenggelam dalam keheningan yang menenangkan. *** Mi Young sedang asyik menghabiskan sarapannya. Ia memutuskan untuk membuat omelet untuk dirinya sendiri. Sementara Kyuyeon sedang sibuk di kamar. Mungkin sedang mandi atau bersiap-siap. Ia lalu meletakkan piring kotor di bak cuci piring. Memutuskan untuk mencucinya sekarang. “Mi Young~ah.” Suara Kyuyeon terdengar, memanggilnya dengan nada yang begitu mendesak. “Aku datang.” Mi Young meninggalkan piring kotornya, bergegas mencuci tangan dan mengeringkannya dengan lap. Ia berlari menghampiri Kyuyeon yang kini berdiri di dekat dapur. “Dasiku.” Kyuyeon mengangsurkan sebuah dasi berwarna hitam dengan corak putih pada Mi Young. Gadis itu menerimanya dengan ragu. Menatap Kyuyeon serius. Kyuyeon menegakkan lehernya, menanti dengan tidak sabar. Merasa paham, Mi Young mulai melakukan pekerjaannya. Menegakkan kerah kemeja Kyuyeon agar bisa memasangkan dasinya. Kyuyeon membungkukkan tubuhnya sedikit. Berusaha memudahkan pekerjaan Mi Young karena tinggi gadis itu yang berbeda cukup jauh dengannya. Mi Young mendongak dan mulai melakukannya pekerjaannya dengan serius. Membuat Kyuyeon tidak bisa mengalihkan pandangan saat melihat wajah penuh keseriusan itu. Kyuyeon mendecak pelan. Mulai merasa kesal karena pinggangnya yang nyeri akibat terlalu lama membungkuk. Ia kemudian mengangkat tubuh Mi Young tanpa aba-aba lalu mendudukkannya di meja bar dapurnya. Mi Young menjerit pelan. Tangannya kini mendarat bebas di bahu Kyuyeon, mencari pegangan. “Pinggangku sakit kalau kau menyuruhku membungkuk lebih lama lagi,” ujarnya tenang. Mi Young mengerjap. Matanya menatap wajah datar Kyuyeon, menyadari tinggi tubuhnya yang kini sejajar dengan Kyuyeon. Pria itu menyembunyikan senyum gelinya. “Dasiku, Mi Young.” Kyuyeon berkata dengan nada yang disabar-sabarkan. Menarik Mi Young dari lamunan. Gadis itu sontak melanjutkan pekerjaannya lagi, berusaha mengabaikan tangannya yang gemetar. Efek dari pria ini benar-benar mengerikan. “Selesai.” Mi Young merapikan kemeja Kyuyeon dan mengelus lembut dasinya. Matanya bergerak ke atas, menemukan mata hitam Kyuyeon yang memandanginya seolah ia adalah keajaiban dunia. Tunggu, itu adalah perumpamaan yang gila. Kyuyeon menarik tubuhnya mundur, baru menyadari bahwa sejak tadi ia berdiri di antara kedua kaki gadis itu. Ia mengulurkan tangannya pada Mi Young, yang dibalas dengan wajah penuh tanda tanya. “Kau tidak ingin turun?” “Oh, ya, benar. Tentu saja.” Mi Young tergagap. Ia menyambut tangan Kyuyeon, berpegangan padanya selagi tubuhnya bergerak turun dari meja makan. Kyuyeon menggiringnya untuk kembali ke kamar. Lagi-lagi ia merasa heran kenapa laki-laki itu tidak melepaskan tangannya. Membiarkannya merasakan kehangatan liar yang menjalari tubuhnya. Ya ampun, jantungnya tidak bisa tenang! “Kau bisa mengganti pakaianmu di kamar. Dae-Jung Hyeong sudah memberikannya padaku tadi pagi. Lalu kau bisa pulang ke rumahmu. Aku bisa menoleransi kau berkeliaran seperti itu di rumahku, tapi tidak dengan di luar rumah.” Ucapan yang tegas dengan nada memerintah yang permanen, membuat Mi Young tidak memiliki celah untuk menolak. Mereka sudah berada di lantai dua menuju kamar yang Mi Young tiduri tadi malam. “Dua jam lagi aku ingin kau sudah berada di rumah. Aku akan menerima beberapa tamu.” “Baiklah, aku mengerti.” “Bagus. Kalau begitu aku pergi dulu.” Kyuyeon meninggalkannya di depan pintu kamarnya lalu berbalik dan menuruni tangga dengan cepat. Mi Young menghela napas lalu masuk ke kamar. Merasa aneh dengan dirinya karena tiba-tiba merasa kehilangan. Mungkin ia hanya kesepian karena tahu hanya ada dirinya di rumah besar ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN