Perhatian Calvin

1061 Kata
Aruna terbangun. Keplanya sudah tidak sakit lagi namun perutnya masih sedikit perih. Dia juga merasa sangat kelaparan. Aruna melihat ke arah sampingnya, kosong. Aruna duduk diatas tempat tidur dan melihat ke arah jam yang ada di atas meja nakas. “Jam setengah enam pagi. Mungkin Calvin sedang di kamar mandi.” Batin Aruna yang kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamar untuk mempersiapkan sarapan. Baru saja Aruna melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, indra penciumannya sudah menangkap aroma lezat yang memenuhi ruangan rumahnya. Aruna berjalan menuju dapur rumahnya mengikuti aliran aroma masakan yang tercium sangat lezat itu. “Kenapa bibik datang begitu cepat hari ini? Masih sepagi ini.” gumam Aruna. Aruna begitu terperanjat melihat pemandangan yang di dapatinya di dapur. Calvin berdiri di dekat kompor dengan celemek di badannya lengkap dengan sendok goreng ditangannya. Calvin dengan lihai mengaduk-aduk makanan yang sedang di masaknya dan mencicipinya beberapa kali kemudian memasukkan beberapa bumbu dan mencicipinya kembali. “Perfect!” Ucap Calvin sambil mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian meletakkan sendok goreng yang ada ditangannya dan melepaskan celemek yang sedang di pakainya. Calvin berencana akan membangunkan Aruna agar dapat menikmati sarapan yang telah di buatnya bersama-sama, namun langkahnya langsung terhenti begitu melihat Aruna sudah berdiri di depan dapur sambil terus melihatnya dnegan tatapan terkejut. “Kamu sudah bangun rupanya. Aku baru saja akan membangunkan kamu. Ayo kita sarapan. Aku sudah membuatkan sop ikan kesukaan kamu.” Calvin menarik sebuah kursi di meja makan dan memberikan isyarat ke pada Aruna agar segera duduk. Aruna duduk di kursi yang telah di tarik oleh Calvin. “Kamu memasak?” tanya Aruna yang masih belum percaya dengan apa yang di lihatnya. Calvin mengambilkan semangkok sop yang telah dimasaknya tadi dan meletakkannya dia hadapan Aruna. “Kamu coba dulu. Sudah pas belum rasanya?” Calvin menata sendok di dekat Aruna. Arun mengambil sendok dan mulai mencicipi masakan yang telah di sediakan oleh Calvin di hadapannya itu. “Wow Calvin, ini enak sekali. Rasanya sama persis seperti dimasak oleh ibuku.” Mata Aruna berbinar begitu mencicipi sop yang telah di masak oleh Calvin. “Dulu aku beberapa kali ikut menemani Tante Sofia memasak saat kamu sakit. Aku masih mengingatnya sampai sekarang. Tidak kusangka hasilnya bisa sama dengan uatan tante Sofia.” Cerita Calvin sambil tersenyum bangga. Calvin segera mengambil semangkok sop lagi untuk dinikmatinya dan duduk di hadapan Aruna. “Harus dihabiskan. Kamu semalam makan sangat sedikit. Sop itu juga baik untuk stamina kamu yang sedang tidak enak badan.” Ucap Calvin lagi sambil mulai menikmati masakannya, “Benar, rasanya persis seperti yang di masak oleh Tante Sofia.” “Kenapa baru sekarang kamu memberitahukan hal ini padaku, Calvin? Aku sangat merindukan makanan ini. Benar-benar merindukan ibuku. Ibuku selalu tahu apa yang aku butuhkan saat aku dalam keadaan tidak baik.” suara Aruna bergetar. Calvin menghentikan suapannya dan melihat ke arah Aruna. “Mulai sekarang, aku yang akan memasakkanmu makanan saat kamu sedang sakit.” Ucap Calvin sambil menenangkan Aruna. “Kamu sangat pintar memasak, Calvin. Maukah kamu mengajari aku memasak?” Aruna melihat ke arah Calvin sambil tersenyum. “Tidak. Kamu ingat dulu kamu pernah meminta Tante Sofia agar diajarkan memasak? Hasilnya benar-benar mengerikan Aruna. Kamu tidak ada bakat untuk itu. Memasak adalah satu-satunya hal yang tidak boleh kamu lakukan.” Calvin menggelengkan kepalanya dan meneruskan makannya. Aruna menatap Calvin dnegan tatapan datar. Calvin tetaplah Calvin. Lugas dan tepat sasaran jika bicara. Selama ini Aruna memang selalu memasak untuk Calvin dan Calvin berusaha untuk memakannya walaupun sangat sedikit untuk menghargai jerih payah Aruna. Namun setiap kali Aruna bertanya apa yang ingin Calvin makan, dengan tegas Calvin akan melarangnya untuk memasak. Alasannya tentu saja karena masakan Aruna tidak enak sama sekali. Calvin hanya terpaksa memakannya jika Aruna telah terlanjur memasakannya untuk Calvin. “Semua oraang bisa belajar agar lebih baik, Calvin. Jika kamu mengajariku dengan baik, aku juga pasti bisa memasak dengan baik.” bantah Aruna. “Ya benar, semua orang yang belajar akan menjadi lebih baik dalam hal yang di pelajarinya. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Aruna yang belajar memasak. Tante Sofia yang begitu sabar pun menyerah untuk itu, Aruna.” Aruna menyerah. Tidak ada bantahan lagi yang keluar dari mulutnya. Aruna menghelakan napas kemudian kembali menikmati makanannya. Sop itu benar-benar obat yang sangat mujarab. Mual dan perih di peruh Aruna perlaha membaik. Tubuh Arna pun menjadi kembali lebih segar. Calvin meletakkan sendoknya setelah menghabiskan semua makanannya. Dia menatap Aruna yang masih menikmati makanannya. “Kamu sudah selesai makan? Mau aku tambahkan lagi?” tawar Aruna. “Tidak, sudah cukup.” Jawab Calvin. “Kamu mau bersiap-siap ke kantor? Pergilah, aku masih menikmati makananku.” “Aku akan menunggu sampai kamu selesai makan. Aku mau pastikan kamu menghabiskan makananmu, setelah itu kembalilah istirahat.” Aruna tersenyum dan dengan semangat menghabiskan makanannya. Setelah itu dia dan Calvin kembali masuk ke dalam kamar mereka. Calvin segera masuk ke dalam kamar mandi sementara Aruna baring di atas tempat tidurnya sambil memainkan gawainya. Calvin keluar dari kamar mandi dan mulai bersiap untuk berangkat ke kantornya. “Hari ini kamu istirahat saja di rumah. Aku akan pulang cepat.” Ucap Calvin sambil memakai setelan jasnya. Aruna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia senang karena it artinya Calvin akan menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. “Baiklah, aku berangkat dulu.” Calvin pamit pada Aruna sebelum keluar dari kamar. Aruna segera turun dari tempat tidurnnya dan dengan cepat berjalann mengikuti Calvin. “Tidak usah mengantarku. Kamu istirahat saja disini. Sebelaum ja makan siang aku akan pulang.” Ucap Calvin. “Baiklah. Hati-hati dijalan, Calvin.” Calvin membuaka kenop pintu kamar dan berjalan keluar. Setelah pintu kamar tertutup, aruna kembali ke tempat tidurnya. Aruna terduduk di tepi tempat tidurnya. matanya menerawang jauh keluar jendela kamarnya. “Apa sebaiknya aku mengikuti kemoterapi?” Pikir Aruna. “Jika aku menjalani kemoterapi, itu berarti aku harus memberitahu Calvin soal penyakitku.” Aruna hanyut dalam pikirannya. Dia tidak ingin Calvin tahu akan penyakitnya. Dia bingung harus bagaimana. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Aruna mengambil ponselnya dari atas tempat tidur dan melihat ke arah layar ponselnya. Itu adalah pemberitahuan dari sebuah aplikasi di ponselnya yang memberikan notifikasi masa subur aruna. Aruna memang sengaja menggunakan aplikasi itu untuk mengetahui kapan jadwal haidnya setiap bulan. Tidak ada alasan khusus, hanya keisengan Aruna semata. “Seharusnya aku datang bulan hari ini. Mungkin jadwalnya mundur karena aku begitu stres dan sakit beberapa hari ini.” Aruna memegangi perutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN