Pengganggu

1085 Kata
Aruna senang hari ini Calvin menghabiskan banyak waktu bersamanya, walaupun hanya sekedar duduk dan diam dalam aktivitas masing-masing dirumah. Calvin duduk di sofa didepan televisi, tepat di samping Aruna. Sibuk dengan pekerjaannya. Tidak lama kemudian dia menutup laptopnya. “Aku akan mandi. Setelah itu kita makan malam.” Ucap Calvin Aruna menganggukkan kepalanya. Calvin berjalan menuju kamar dan segera membersihkan dirinya. Aruna melihat ke arah meja kecil yang ada di dekat sofa. Ponsel Calvin berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk tampil di layar ponsel Calvin. Aruna mendekatkan dirinya ke arah ponsel itu dan membaca tulisan yang tampil di layar ponsel. “Nora.” Gumam Aruna sambil menghela napas dengan kasar. Aruna melihat ke arah kamarnya. Memastikan Calvin tidak sedang melihat apa yang sedang dilakukannya. Ingin sekali rasanya Aruna membuka pesan itu dan membaca pesan apa yang sedang di kirim oleh Nora unttuk Calvin namun dia takut Calvin akan marah besar padanya karena telah lancang menyentuh dan membaca pesan di ponselnya. Baru saja tangan Aruna akan meraih ponsel itu dari atas meja, tiba-tiba Aruna mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Aruna yang terkejut dengan segera kembali ke posisinya semula dan berpura-pura fokus dengan film yang sedang ditampilkan di layar televisi. “Kamu sudah selesai mandi?” tanya Aruna pada Calvin yang turun dari lantai atas sambil mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya bagian bawah. “Belum.” Jawab Calvin dengan cepat, “Apakah kamu melihat ponselku?” tanya Calvin sambil memindai ke sekitar tempat dia duduk tadi. Belum sempat Aruna menjawab pertanyaannya, Calvin sudah dapat melihat keberadaan ponselnya dan langsung mengambilnya. Aruna melihat senyum yang terukir di wajah Calvin saat membaca pesan dari Nora. Calvin melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Aruna tersenyum kecut. Dilangkahkannya kakinya menuju ke dapur dan mulai mempersiapkan makan malam untuk mereka berdua. Setengah jam kemudian, Calvin turun dari lantai dua dan berjalan menuju ke meja makan. Aruna menyendokkan nasi ke atas piring Calvin begitu Calvin duduk di kursinya. “Bagaimana keadaanmu sekarang, Aruna?” tanya Calvin sambil mengambil makanan yang lain ke atas piringnya. “Sudah lebih baik.” Jawab Aruna sambil menikmati makan malamnya. “Selasa minggu depan ada Rapat Umum Pemegang Saham di perusahaan. Kita akan pergi bersama ke kantor.” Ucap Calvin. “Apa tidak bisa diwakilkan oleh kamu saja, Calvin? Aku sedang malas bertemu siapa-siapa saat ini. Aku ingin lebih banya istirahat di rumah.” Jawab Aruna. “Tidak bisa Aruna. Kamu adalah pemilik perusahaan itu, kamu pemegang saham terbesar. Suara kamu sangat berpengaruh terhadap apapun keputusan dalam rapat.” “Aku akan menyetujui apapun hasil dalam rapat itu. Kamu kan suamiku. Aku ataupun kamu itu sama saja." Ucap Aruna dengan malas. “Aku suamimu di rumah Aruna, tapi di perusahaan aku hanya seorang CEO, aku merupakan pegawai yang kamu gaji dari perusahaan.” jawab Calvin dengan tegas. Aruna melihat ke arah Calvin. “Kalau begitu saham atas namaku...” Belum sempat Aruna menyelesaikan kalimatnya, Calvin langsung memotongnya. “Sepertinya hal itu sudah sangat sering kita bahas, Aruna. Aku hanya bertugas sebagai CEO, tidak lebih. Saham yang akan menjadi milikku adalah saham yang aku beli dari uangku sendiri. Perusahaan itu adalah milik kamu. Om Juan mendirikan perusahaan itu merintis sejak dia muda, dan itu murni milik kamu. Jangan pernah mencampuradukkan hal itu dengan status kita sampai kapanpun.” Aruna terdiam mendengar ucapan Calvin. Berulang kali Aruna meminta Calvin untuk mengubah nama kepemilikan saham miliknya dengan nama Calvin namun Calvin dengan tegas menolaknya. Bagi Aruna, tidak ada orang selain Calvin yang bisa menjadi pewarisnya setelah dia tidak ada nanti. Dia ataupun Calvin itu sama saja. Setelah makan malam mereka masuk ke dalam kamar. Aruna memainkan gawainya sementara Calvi masih terus fokus dengan laptopnya. Aruna menguap dan meletakkan ponselnya di atas meja nakas yang ada di samping tempat tidurnya. “Tidurlah. Aku sebentar lagi juga akan selesai.” Ucap Calvin yang mendengar Aruna menguap. Aruna membaringkan tubuhnya dan melihat ke arah Calvin. Tiba-tiba Calvin menutup laptopnya dan ikut berbaring. Aruna dengan cepat berpura tidur. Wajah mereka berhadapan. Selang lima menit, Aruna bisa mendengar dengkuran halus Calvin yang ada di sampingnya. Aruna membuka matanya perlahan. Calvin terlihat sangat kelelahan. Sebagian besar pekerjaannya di kerjakannya dari rumah hari ini. Calvin tidur dengan begitu pulas. Dengan tangan bergetar, Aruna meraih wajah Calvin. Dibelasnya dengan sangat lembut wajah tampan yang sejak belasan tahun yang lalu di kaguminya itu. Aruna begitu bersyukur bisa meraih wajah itu sekarang hanya dengan jarak beberapa senti meter saja. Aruna berhasil memilikinya. “Terima kasih untuk hari ini,Calvin.” Gumam Aruna pelan sambil terus membelai lembut wajah Calvin. Kebahagiaan dan ketenangan Aruna terusik. Tiba-tiba nada dering ponsel Calvin berbunyi. Aruna tersadar dan segera bangkit dari tempat tidurnya. Dicarinya ponsel yang menjadi sumber suara itu dan melihat ke arah layar ponselnya. “Kenapa lagi dia? Haruskah menganggu malam-malam begini?” Batin Aruna begitu melihat nama Nora di layar ponsel Calvin. Aruna terlus melihat ke arah layar ponsel itu sampai panggilan telepon dari Nora berakhir. Baru saja Aruna meletakkan ponsel Calvin di atas meja nakas, lampu ponsel Calvin kembali menyala dan menampilkan nama Nora dilayarnya. “Keras kepala sekali perempuan pengganggu ini.” Gumam Aruna kesal. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Aruna memutuskan untuk mengangkat panggilan Nora di ponsel Calvin agar tidak kembali mengganggu. Aruna berjalan menjauh dari Calvin. “Calvin, aku tidak bisa tidur. Aku sangat merindukanmu, belaianmu. Kamu kesini dong sekarang. Peluk aku agar aku bisa tidur.” Ucap Nora dengan nada manja begitu panggilannya di angkat. “Calvin sudah tidur. Apakah kamu anak kecil yang harus dininabobokkan?” Jawab Aruna setengah berbisik karena takut membangunkan Calvin. “Aruna? Berani-beraninya kamu mengangkat panggilan teleponku!.” Ucap Nora dengan nada tinggi. “Aku istrinya dan ini adalah ponsel suamiku. Apa kamu sudah lupa itu? Perempuan apa yang menelpon suami orang lain malam-malam begini?” “Calvin menikahimu hanya karena terpaksa, Aruna. Apa kamu sudah lupa itu? Aku adalah satu-satunya perempuan yang ada di hati Calvin. Calvin bahkan tidak pernah menyentuhmu, namun dia begitu mesra padaku.” Jawab Nora dengan begitu bangga. “Oh ya? Binatang jantan bisa kawin dengan betina manapun dia suka tanpa ikatan. Itulah bedanya manusia dengan hewan.” “Kamu menyamakan aku dengan binatang?” Nora menggeram. “Berhentilah mengganggu waktu istirahat orang lain. Jika kamu sulit tidur, peluk gulingmu bukan suami orang lain.” Aruna segera menutup panggilan dari Nora dan dengan segera mematikan nada dering panggilan di ponsel Calvin agar tidak mengganggu istirahat Calvin yang telah pulas. Aruna kembali ke tempat tidurnya dan mulai istrirahat. Emosinya yang tadi tersulut karena Nora berhasil menguras energinya yang tersisa di malam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN