Kebohongan

1259 Kata
Aruna bangun dari tidurnya. Diliriknya jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. “Astaga aku bangun kesiangan.” Calvin sudah tidak ada di sebelahnya, “Mungkin dia sudah berangkat.” Batin Aruna. Segera Aruna turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Aruna mencium aroma lezat dari arah dapur. Dilihatnya asisten rumah tangganya sedang sibuk berkutat dengan piring kotor di dapur. Netra Aruna menangkap satu penampakan di balik tirai jendela depan rumahnya. Calvin ternyata masih belum berangkat. Dengan cepat Aruna melangkahkan kakinya mendapati Calvin yang sedang duduk di teras. “Belum berangkat, Calvin?” tanya Aruna begitu tiba di teras. “Sebentar lagi. Jangan lupa sarapan nanti dan istirahatlah. Jangan keluar dulu beberapa hari ini sampai kamu benar-benar segar.” jawab Calvin sambil memasang sepatu di kakinya. Aruna menganggukkan kepalanya. Wajahnya berseri karena terus mendapatkan perhatian dari Calvin beberapa hari ini. “Aku berangkat dulu.” Ucap Calvin setelah selesai memasang sepatu kerjanya. Dia segera masuk ke dalam mobil mewahnya. Aruna mengikuti dari belakang dan melambaikan tangannya begitu Calvin akan melajukan mobilnya, dibalas oleh klakson mobil yang di bunyikan oleh Calvin satu kali kemudian mobil Calvin menghilang dari pemandangan Aruna. Aruna masuk ke dalam rumahnya dan berjalan mendekati Bibik di dapur. “Bibik masak apa?” tanya Aruna sambil membuka satu persatu makanan yang ada di meja makan. “Itu bukan bibik yang masak, Nyonya tapi Tuan. Tadi pagi waktu bibik datang, tuan baru saja selesai memasak.” Jawab Bibik sambil berjalan mendekati Aruna. “Tuan? Calvin?” tanya Aruna setengah tidak percaya. “Iya Nyonya, Tuan Calvin yang memasak tadi pagi.” Jawab Bibik menegaskan. Aruna tersenyum senang. Calvin begitu manis beberapa hari ini. Aruna begitu diperhatikan dan dimanja. “Aku pikir sakit tidak selamanya buruk. Selama bisa menikmati sikap manis Calvin seperti ini, kanker tidak jadi hal menakutkan buatku.” Batin Aruna sambil tersenyum. Aruna segera mengambil piringnya dan mulai menikmati masakan suami yang sangat dicintainya itu. “Dia memang pasangan yang sangat bisa di andalkan. Masakannya tidak pernah gagal dalam menaikkan selera makanku.” Aruna dengan penuh semangat menyantap suapan demi suapan yang masuk ke dalam mulutnya. Selesai makan, Aruna duduk santai di depan televisi. Di rebahkannya tubuhnya di atas ursi santai yang ada di depan televisi. Tanpa di sadarinya kedua matanya perlahan menutup kemudian kembali terlelap tidur. Dua jam kemudian Aruna terbangun dari tidurnya. kepalanya terasa agak pusing. Dengan bingung dan linglung Aruna memperhatikan sekitarnya. “Dimana aku? Jam berapa ini?” Gumam Aruna. Aruna mendengar langkah yang lalu lalang di ruang depan. “Calvin?” Panggil Aruna memastikan siapa yang ada di ruang depan. “Ini saya Nyonya, Tuan belum pulang.” Bibik datang tergopoh-gopoh dari ruang depan. “Baiklah bik. Saya kira tadi suami saya.” Jawab Aruna sambil tersenyum ke arah Bibik. “Saya izin kembali membereskan ruangan depan, Nyonya.” “Baik bik.” Jawab Aruna. Aruna mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. “Kenapa akhir-akhir ini aku sangat gampang mengantuk?” gumam Aruna, “Lebih baik aku segera mandi agar lebih segar.” Aruna melangkahkan kakinya menaiki tangga rumahnya menuju kamrnya dan segera mandi. Selesai mandi Aruna keluar dari kamar mandi dan duduk di depan meja riasnya. “Apa aku perlu berkonsultasi dengan dokter lagi mengenai penyakitku ini? Mungkin saja rasa kantuk ini efek dari kanker yang aku idap.” Batin Aruna sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. “Dasar Aruna, dulu sekolah kedokteran belum selesai sudah semangat ingin segera menikah dengan Calvin sampai memaksa dijodohkan dengan Papa.” Aruna menggelengkan kepalanya sambil terkekeh mengenang kebodohannya dulu. Aruna memegangi rambutnya yang sudah lumayan kering. Setelah itu dilangkahkan kakinya menuju lemari pakaiannya dan memilih pakaianyang akan dipakainya. Dilihatya sebuah homedress vintage bermotif bunga kecil. Diambilnya homedress itu sambil tersenyum. Homedress itu adalah milik ibunya yang sampai saat ini masih tersimpat dengan baik di lemari pakaian Aruna. Aruna mencium homedress itu, “Aku akan memakai ini. Aroma dan kelembutannya mengingatkanku dengan ibu.” Aruna tersenyum. Aruna kembali duduk di depan meja riasnya dan memoles wajahnya dengan riasan tipis setelah itu Aruna berbaring di tempat tidurnya sambil memainkan gawainya. Lelah berselancar di dunia maya, Aruna akhirnya tertidur kembali. Pintu kamar Aruna dibuka oleh orang dengan kasar. Aruna yang sedang lelap dalam tidurnya hanya menggeliat pelan karena suara pintu itu tanpa sedikitpun membuka kedua matanya. “Aruna!” teriak seseorang. Aruna masih bergeming dalam tidurnya. “Aruna bangun!” seseorang menggoncangkan tubuhnya. Aruna membuka kedua matanya dengan pelan. Dilihatnya orang yang sedang berdiri didepannya. “Calvin, kamu sudah pulang?” tanya Aruna pelan karena belum sadar sepenuhnya dari rasa kantuknya. Calvin terus menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam seakan ingin melahap Aruna secara utuh. Aruna bangun dari tidurnya dan duduk di tepi tempat tidurnya. dilihatnya jam yang ada di atas meja nakas masih menunjukkan pukul satu siang. “Kamu mau makan siang dirumah, Calvin?” Aruna tersenyum ke arah Calvin. “Kenapa kamu menolak panggilan Nora tadi malam? Kenapa kamu matikan nada dering panggilan di ponselku?” tanya Calvin dengan nada tinggi. Wajahnya memerah karena menahan amarah. Aruna melihat ke arah Calvin, “Aku tidak suka dia mengganggu tidurmu.” Jawab Aruna singkat. “Semalam dia dirampok di rumahnya. Dia menelponku untuk meminta pertolongan dan kamu malah menolak panggilan teleponnya. Sekarang dia sedang terbaring lemas di rumahya!” Bentak Calvin pada Aruna. “Rampok? Dia sama sekali tidak mengatakan hal itu di telepon. Aku tidak pernah menolak panggilan teleponnya. Dia mengatakan bahwa dia merindukanmu dan ingin kamu memeluknya sampai tertidur tadi malam ketika aku mengangkat panggilan telepon darinya. Dia sama sekali tidak dirampok. Aku mematikan nada dering teleponmu karena tidak ingin dia terus mengganggu waktu istirahat kamu tapi dia tidak ada lagi menelpon setelah itu kan?” jawab Aruna dengan lantang. Dia sangat benci dengan sandiwara Nora memfitnahnya di depan Calvin. “Jangan mencoba memutarbalikkan fakta Aruna!’” ucap Calvin. “Kamu lebih percaya dengan dia dibandingkan aku? Kita sudah saling mengenal sejak kita masih kecil,Calvin. Apa pernah aku berbohong padamu?” “Aruna yang aku kenal dulu memang seorang wanita yang polos dan jujur, tapi Aruna yang aku kenal sekarang sudah jauh berbeda.” Calvin tersenyum sinis melihat ke arah Aruna, “Bukankah kamu pernah berbohong perihal kecelakaan lima tahun yang lalu? Dengan percaya diri kamu mengakui bahwa kamu yang telah menyelamatkanku padahal itu adalah pengorbanan Nora!” Aruna menatap ke arah Calvin dengan tatapan nanar. Lidahnya kelu untuk mengucapkan satu katapun. Itu adalah hal yang paling menyakitkan dibanding semua hal menyakitkan yang pernah di ucap dan dilakukan oleh Calvin bagi Aruna. Calvin tidak mempercayai dirinya. Air mata Aruna mengalir deras di pipinya. “Sudahlah Aruna. Jangan gunakan air mata itu lagi untuk menutupi kesalahanmu.” Calvin menghelakan napasnya, “Oke, akan aku sudahi ini sekarang. Kamu sangat tahu bagaimana caranya untuk meredam ini semua. Ini adalah peringatan terakhir dariku, jangan pernah lagi kamu ikut campur dengan apapun urusan pribadiku, dan jangan pernah menyentuh ponselku lagi. Ingat perjanjian kita sebelum menikah dulu, aku hanya suami dalam hal menjaga dan melindungi kamu. Jangan paksa aku untuk mencintaimu dan jangan campuri kehidupan pribadiku termasuk siapa yang aku cintai.” Ucap Calvin dengan tegas sambil menunjuk ke arah Aruna. Setelah mengucapkan hal itu, Calvin berjalan membuka pintu kamar namun langkahnya terhenti kembali. “Aku akan pulang lewat tengah malam. Aku akan menemani Nora. Jangan tunggu aku. Makan dan istirahatlah tepat waktu.” Setelah itu Calvin keluar dari kamar meninggalkan Aruna sendiri. “Aku tidak sedang bersandiwara untuk meredam amarahmu, Calvin. Aku benar-benar sakit mendengar ucapanmu terhadapku karena Nora. Sebegitu rusaknya aku dimatamu dibandingkan dengan Nora?” Batin Aruna sambil menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN