Aruna memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Sejak kemarin kerjanya hanya makan dan tidur. Dilihatnya ke samping, Calvin tidak ada disana. Entah dia sudah pergi pagi-pagi sekali tadi, entah dia memang tidak pulang tadi malam, Aruna sama sekali tidak mengetahuinya. Aruna merasa seakan dia pingsan sepanjang hari.
Aruna terdiam duduk di tepi tempat tidurnya. Aruna masih teringat dengan ucapan Calvin padanya kemarin.
“Biasanya aku akan susah tidur juka banyak pikiran atau sedang sedih, kenapa sekarang aku sangat mudah tertidur?” Aruna menghelakan napasnya dengan kasar, “Sebaiknya aku berkonsultasi dengan Profesor Hanif mengenai hal ini.” batin Aruna.
Diambilnya ponselnya dari atas meja nakas dan menyentuh layarnya namun tetap tidak menyala.
“Astaga, ponselku mati. Aku terlalu banyak tertidur sampai lupa mengecas ponselku.” gumam Aruna.
Aruna turun dari temoat tidurnya dan mencari charger dari dalam laci meja nakasnya dan mulai mengecas ponselnya.
Sambil menunggu baterai ponselnya terisi, Aruna berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Aruna mnegeringkan rambutnya selepas mandi. Entah kenapa dia merasa ada yang lain di tubuhnya. Perutnya tiba-tiba mual saat tadi di kamar mandi dan semua badannya terasa sangat pegal. Dia terus merasa capek padahal tidak melakukan aktivitas apapun selain tidur.
Aruna duduk di pinggir tempat tidurnya setelah mengeringkan rambutnya. Diambilnya ponselnya dari atas meja nakas.
“Sudah setengah terisi.” Aruna mencabut charger ponselnya dari kontak listrik kemudian segera mencari kontak rumah sakit untuk membuat janji dengan Profesor Hanif, dokter spesialis onkologi yang menangani penyakit kankernya.
“Halo, saya Aruna. Ingin berkonsultasi dengan Profesor Hanif hari ini.” ucap Aruna begitu pihak rumah sakit mengangkat panggilan teleponnya.
Aruna diam beberapa saat untuk mendengarkan jawaban dari pihak rumah sakit dari ponselnya.
“Baiklah. Saya terdaftar untuk bertemu dengan Profesor Hanif jam 10 nanti. Terima kasih.” Aruna menutup panggilan teleponnya dan segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
Aruna mengambil baju yang akan dipakainya dari dalam lemari dan segera memakainya. Dipoleskannya riasan tipis di wajahnya dan dia siap untuk berangkat.
Aruna turun ke bawah. Diambilnya kunci mobilnya dan berjalan menuju garasi. Di ruang depan Aruna bertemu dengan Bibik yang sedang membereskan ruangan.
“Bik, saya keluar dulu ya.” ucap Aruna.
“Tadi tuan berpesan agar Nyonya sarapan dulu dan minum vitamin yang sudah di sediakan tuan di atas meja makan, Nyonya.”
Aruna menghentikan langkahnya, “Berarti Calvin pulang semalam.” Batin Aruna.
“Tuan yang memasak tadi pagi?” tanya Aruna
“Iya, Nyonya. Tadi pagi Tuan yang memasak dan tuan juga membawa sebagian masakannya di dalam kotak makan.” Jawab Bibik.
Aruna menghelakan napasnya, “Pasti itu untuk Nora.” Gumamnya pelan.
“Nanti saja saya makan, Bik.” Ucap Aruna yang dengan segera berjalan keluar menuju garasi mobilnya.
Aruna menghidupkan mesin mobilnya dan segera melaju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Aruna segera melangkah menuju ruangan poli onkologi dan menemui perawat yang bertugas disana.
“Selamat siang, suster. Saya Aruna yang tadi sudah membuat janji dengan Profesor Hanif.” Ucap Aruna.
“Baik Bu Aruna. Pak Hanif sudah menunggu di dalam.” Suster itu berjalan masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan Aruna mengikutinya dari belakang.
“Silahkan duduk, ibu.” Ucap Suster itu.
“Selamat pagi, ibu Aruna.” Sapa Profersor Hanif, “Ada keluhan apa hari ini?”
“Selamat pagi Dokter. Beberapa hari ini saya merasakan kantuk yang luar biasa. Saya sering kali tertidur dan kepala saya juga akhir-akhir ini sering pusing. Mual juga dokter.” Ucap Aruna menjelaskan keluhan yang dirasakannya.
“Baik. Apa perut ibu juga nyeri hebat seperti di tusuk-tusuk?”
“Lebih tepatnya seperti kram dokter.” Ucap Aruna, “Apakah itu pengaruh dari kanker yang saya idap, dok?”
“Bisa jadi tapi kemungkinan dari faktor lain juga bisa mempengaruhi.” Profesor Hanif menganggukkan kepalanya, “Sudah berapa lama ibu merasakan hal itu?”
“Sekitar 3 atau 4 minggu ini dokter.”
“Ibu sudah haid bulan ini?” tanya Profesor Hanif.
Mata Aruna menerawang ke atas berusaha mengingat jadwal datang bulannya, “Belum dokter. Seharusnya itu minggu kemarin, Dokter.” Ucap Aruna.
Aruna menatap lama ke arah Profesor Hanif yang juga sedang berpikir. Tiba-tiba mata Aruna terbelalak. Sesuatu hal melintas dipikirannya.
“Apa menurut dokter saya hamil?” tanya Aruna dengan gugup.
“Bisa jadi, Bu Aruna. Kita harus memastikan hal itu sebelum memberikan terapi mengenai keluhan ibu tadi. Sekarang ibu akan saya rujuk ke poli kandungan untuk diperiksa lebih lanjut.” Profersor Hanif tampak menuliskan sesuatu di sebuah kertas yang memiliki kop nama Rumah Sakit itu dan menyerahkannya pada suster yang berdiridi dekat Aruna.
“Ibu bisa mengikuti suster menuju ruangan poli kandungan.” Ucap Profesor Hanif.
“Baik dokter.”
Aruna berjalan keluardari ruangan itu dan berjalan mengikuti suster yang sudah di utus oleh Profesor Hanif tadi.
“Ibu tunggu disini sebentar ya.” Ucap suster itu sambil menunjuk ke arah kursi tunggu di depan ruangan polikandungan.
Suster itupun masuk ke dalam. Aruna menggosok tangannya yang terasa sedikit basah karena gugup. Dia benar-benar penasaran dengan apa yang menjadi hasil pemeriksaan dokter ahli kandungan nanti.
“Ibu Aruna.” Panggil suster setelah lima menit Aruna menunggu.
Aruna segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam ruangan.
“Silahkan duduk, Ibu Aruna.” Ucap Dokter ahli kandungan itu dengan sangat ramah.
“Terima kasih.” Balas Aruna yang segera duduk di kursi yang ada di depan doker. Aruna tidak begitu memperhatikan wajah dokter yang sedang berbicara dengannya. Pikirannya masih terus berpusat dengan apa yang ada di dalam perutnya sekarang.
“Lama tidak bertemu, Aruna.” Ucap Dokter itu yang membuat Aruna melihat ke arahnya dengan tatapan selidik. Di perhatikannya dengan seksama wajah yang ada di depannya.
“Keenan?” ucap Aruna
Keenan tersenyum mendengarAruna menyebut namanya dengan tepat, “Ternyata kamu masih mengingatku, Aruna. Aku senang mendengarnya.”
“Ya ampun Keenan. Sejak kapan kamu bertugas di Rumah Sakit ini?” Tanya Aruna histeris. Tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan sahabat dekatnya dulu saat menempuh perkuliahan di kedokteran.
“Baru minggu kemarin.” Keenan tersenyum, “Bagaimana kabarmu dan Calvin?”
Aruna tersenyum mendengar pertanyaan Keenan.
“Baik, Keenan. Kamu sudah menikah?” tanya Aruna kembali.
“Belum. Jodohku sudah direbut oleh Calvin.” Ucap Keenan sambil mengedipkan matanya dan tersenyum.
“Kamu masih Keenan yang dulu aku kenal. Konyol dan suka bercanda.” Aruna terkekeh.
“Kamu datang sendiri? Mana Calvin?”
“Dia bekerja, Keenan.” Jawab Aruna singkat.
“Dia kan bosnya. Bukan hal sulit baginya mangkir dari pekerjaannya dan mengantarkan istrinya konsultasi ke dokter.”
Aruna hanya tersenyum mendengar ucapan Keenan.
“Kamu sudah baca rekam medisku?” tanya Aruna sambil terus menatap Keenan.
“Sudah tadi sekilas. Setelah ini aku ingin mengobrol banyak denganmu. Sungguh awal pertemuan yang tidak menyenangkan.” Suara Keenan terdengar lirih.
“Kamu dokter spesialis lulusan luar negeri. Jam terbangmu pasti sangat tinggi.” Ucap Aruna sambil tersenyum.
“Keenan akan selalu punya waktu untuk Aruna. Ingat kalimat itu? Kalau sudah mulai lupa, bisa kamu baca di buku kedokteran kamu yang aku belikan dihari ulang tahunmu dulu.” Keenan mengingatkan masa lalu mereka berdua, “Atau mungkin buku itu sudah hilang entah kemana.” Keena terkekeh.
“Keena akan selalu membuat Aruna tertawa.” Aruna menyebutkan kalimat lain yang Keenan tulis di buku yang dia beli untuk Aruna dulu.
Keenan tersenyum senang mendengar ucapan Aruna. Aruna masih mengingatnya.
“Baiklah Dokter Aruna.silahkan berbaring di sana agar kita mulai pemeriksaanya.” Ucap Keenan.
“Aku bukan dokter, Keenan. Selamanya bukan dokter.” Ucap Aruna lirih.
Aruna berbaring di tempat tidur dibantu oleh suster. Keenan duduk di kursi di samping tempat tidur Aruna dan mulai menjalankan pemeriksaannya dengan alat USG.
Keena dengan serius menggerakkan transducer diatas perut Aruna sambil matanya fokus membaca apa yang terlihat di layar monitor.
“Bagimana hasilnya, Keenan?” tanya Aruna.
“Aku sudah bisa melihat kantong kehamilanmu, Aruna.”
“Apakah itu artinya aku hamil, Keenan?” Aruna membelalakkan matanya.
“Kemungkinan besar begitu, Aruna. Kembali lah lagi kesini satu bulan lagi dan kita lihat perkembangan janinnya. Kamu harus sangat memperhatikan kesehatanmu Aruna, terlebih dengan sakit yang sedang kamu idap sekarang.”
“Calvin tahu mengenai kankermu kan Aruna?” Keenan membereskan peralatan USGnya.
Aruna terdiam sambil membereskan bajunya.