Keenan Datang

1839 Kata
Aruna berdiri di depan cermin kamarnya. Baru saja dia selesai mandi. Handuk masih membungkus rambutnya dan tubuhnya masih dalam balutan kimono mandinya. Aruna mengusap lembut perutnya. Wajahnya begitu sumringah. Rasanya masih tidak percaya bahwa di dalam perutnya telah bersemayam satu nyawa. Hal yang selama ini tidak pernah terbayangkan akan menjadi kenyataan bagi Aruna. Tiba-tiba ketukan pintu kamarnya terdengar, membuyarkan bunga-bunga dalam hati dan pikiran Aruna yang sedang bahagia. Aruna berjalan mendekati pintu kamarnya dan segera membukanya. Asisten rumah tangganya berdiri tepat di depan pintu kamarnya. “Ada apa, Bik?” tanya Aruna. “Di depan ada tamu yang mau bertemu dengan Nyonya.” “Siapa?” Aruna mengernyitkan keningnya. “Katanya teman nyonya.” “Teman? Siapa? Giselle?” batin Aruna berusaha menebak. “Perempuan atau laki-laki?” tanya Aruna lagi. Dia bukan pribadi yang suka dengan kedatangan orang baru di rumahnya. “Laki-laki, Nyonya,” jawab bibik. Aruna terdiam beberapa saat. “Baiklah. Saya berganti pakaian dulu. Suruh tunggu di teras saja ya bik,” pesan Aruna. “Baik, Nyonya.” Aruna segera menutup pintu kamarnya begitu asisten rumah tangganya berlalu pergi. Dengan segera di gantinya pakaiannya dan merapikan penampilannya. Setelah itu Aruna keluar dari kamarnya dan turun menuju ruang depan rumahnya. “Siapa yang datang bertandang pagi-pagi begini,” ucap Aruna sambil menuruni tangga. Aruna tiba di pintu depan rumahnya. Dengan seksama di perhatikannya wajah sang tamu yang sedang duduk di teras rumahnya. “Astaga, Keenan!” ucap Aruna setengah berteriak. Wajahnya terkejut dan tersenyum sekaligus. “Pagi Aruna,” sapa Keenan membalas senyum Aruna sambil berdiri dan memeluk Aruna. “Bagaimana kamu tahu rumahku?” tanya Aruna bingung. “Dari rekam medismu, Aruna.” “Oh iya benar. Aku lupa soal itu.” Aruna menganggukkan kepalanya. “Dan dari sana juga aku baru tahu kalau kamu sudah mengganti nomor ponselmu.” “Ya, ponselku hilang saat aku kecelakaan.” “Kecelakaan? Kapan?” Keenan membelalakkan matanya terkejut. “Kita bicara di dalam saja sambil minum teh lychee kesukaanmu. Masih belum berubah kan?” Aruna tersenyum. “Oh iya, aku membawakanmu ini.” Keenan menyerahkan satu bungkusan besar ke arah Aruna. “Apa ini?” Aruna membuka bungkusan itu dan melihat ke dalamnya, “s**u ibu hamil?” Aruna melihat ke arah Keenan. “Minum itu dua kali sehari ya.” Keenan tersenyum ke arah Aruna. “Terima kasih, Keenan. Ayo masuk.” Aruna berjalan masuk ke dalam rumahnya. Keenan berjalan mengikuti Aruna dari belakang. “Kamu duduk dulu ya. Akan aku buatkan minuman kesukaanmu dulu,” ucap Aruna sambil berjalan meninggalkan Keenan menuju dapur. Keenan berdiri sambil melihat-lihat foto yang terpajang di sekitarnya. Sebuah pigura berwarna emas dengan ukiran yang menambah nilai kemewahannya terpasang megah di dinding ruang tamu itu.pigura itu berisi foto pernikahan Aruna dan Calvin. Keenan memperhatikan foto itu beberapa menit. “Aruna begitu cantik di foto ini.” Aruna datang dengan membawa dua cangkir teh lychee dan menatanya di atas meja. Setelah Aruna berdiri di samping Keenan dan ikut melihat ke arah foto pernikahannya. “Kamu cantik sekali disini, Aruna,” puji Keenan sambil mengalihkan pandangannya pada Aruna. “Benarkah?” “Apa pernah aku berbohong padamu?” Keenan terus menatap ke arah Aruna. Aruna membalas senyum Keenan, “Baiklah. aku percaya.” Aruna berjalan menuju sebuah sofadan duduk. Keenan ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Aruna. “Jadi kapan kecelakaan itu terjadi, Aruna?” Keenan memulai pembicaraan mereka. “Sekitar dua bulan sebelum pernikahan kami, Keenan. Kecelakaan itu lumayan parah. Aku dan Calvin sama-sama di rawat intensif di rumah sakit. “Astaga, aku benar-benar tidak mengetahui hal itu.” raut kesedihan tergambar di wajah Keenan mendengar cerita Aruna. “Tidak banyak yang tahu perihal kecelakaan itu. Kamu juga saat itu sedang menyelesaikan studi kedokteranmu di luar kota kan?” “Lalu apa yang terjadi padamu saat itu, Aruna?” “Aku mengalami cedera serius di punggungku karena tertimpa atap mobil. Namun sekarang sudah sembuh,” cerita Aruna. “Maafkan aku Aruna. Aku tidak menemanimu disaat itu.” “Itu bukan salahmu, Keenan. Tidak perlu meminta maaf.” Aruna tersenyum sambil mengambil cangkir tehnya dari atas meja. “Ayo diminum tehnya, Keenan.” Aruna menyesap tehnya beberapa kali. Keenan menatap Aruna beberapa saat kemudian mengambil cangkirnya dan meminumnya sedikit. “Rasanya masih sama seperti dulu. Teh lychee ala Aruna memang punya rasa yang pas,” Keenan meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas meja. “Aku begitu senang bisa bertemu denganmu lagi, Keenan. Siapa pacarmu sekarang?” tanya Aruna. “Tidak ada. Aku sudah malas untuk hal itu.” “Kenapa?” “Tidak ada yang pas di hatiku. Aku sudah berkenalan dengan beberapa wanita namun semuanya tidak ada yang cocok menurutku.” “Tidak mungkin tidak ada. Seorang Keenan yang tampan dan cerdas, wanita kelas atas pasti berebut mendekatimu.” “Kelas atas? Aku tidak sedang mencari wanita sosialita. Aku mencari wanita yang sederhana namun cocok dengan jiwa dan cara berfikirku,” jawab Keenan. “Hanya aku satu-satunya wanita yang tahan dengan watak dan cara berpikirmu yang idealis itu.” Aruna tertawa. “Itu penyebab utamanya,” ucap Keenan sambil menatap sendu ke arah Aruna. Keenan kembali mengambil cangkir tehnya dari atas meja dan meneguknya. Teh itu berhasil menghangatkan kembali tenggorokannya yang terasa kering dan pedih karena percakapan yang seakan membuka kembali kekecewaannya di masa lalu itu. “Calvin sudah tahu tentang kehamilanmu?” tanya Keenan. “Belum,” jawab Aruna singkat. Pandangannya beralih ke arah luar rumahnya. “Kenapa? Bukankah itu merupakan berita yang membahagiakan?” Keenan mengeryitkan keningnya. “Calvin sama sekali tidak mengetahui tentang penyakit kanker dan kehamilanku. Aku minta padamu untuk merahasiakannya juga dari Calvin. Kamu mau kan membantuku merahasiakan dua hal ini dari Calvin, Keenan?” Aruna menatap Keenan dengan serius. “Tapi kenapa Aruna? Apa kalian sedang ada masalah? Calvin menyakitimu?” Keenan begitu serius sampai teh yang ada di tangannya hampir saja tumpah. Dengan cepat di letakkannya kembali cangkir tehnya ke atas meja dan menunggu jawaban dari Aruna. “Tidak, kami tidak ada masalah. Hanya saja aku tidak mau Calvin khawatir.” “Aku sangat mengenalmu, Aruna. Hanya dengan melihat wajahmu saja aku bisa tahu bahwa kamu sedang dalam masalah. Aku sama sekali tidak ingin ikut campur dalam rumah tanggamu dengan Calvin, tapi aku juga tidak ingin ada orang yang menyakitimu, Aruna.” Aruna menatap ke arah Keenan beberapa saat kemudian menghelakan napasnya. “Calvin baik padaku, Keenan. Dia sangat menjaga dan melindungiku. Namun ada satu kesalahpahaman yang terjadi antara aku dan Calvin dalam kecelakaan yang terjadi pada kami berdua.” “Kanker dan kehamilanmu itu merupakan hal yang sangat penting diketahui oleh suamimu. Bagaimana bisa kamu menutupi dan menanggungnya sendirian?” Baru saja Aruna akan menjawab pertanyaan dari Keenan, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Tepat di sebelah mobil Keenan. “Itu Calvin. Aku mohon padamu untuk merahasiakan dua hal itu dari Calvin. Berjanjilah padaku Keenan.” Aruna memohon. Keenen terdiam beberapa saat sambil menatap Aruna. Dia selalu kalah bila sudah menatap wajah Aruna yang sendu. “Baiklah, aku berjanji.” Keenan menganggukkan kepalanya. “Terima kasih,” Aruna tersenyum ke arah Keenan. Tanpa mereka sadari Calvin sudah berdiri di depan pintu dan melihat ke arah mereka. Wajah Calvin menatap ke arah Aruna yang sedang tersenyum ke arah Keenan. “Hai sayang, tumben pulang sepagi ini? Apa ada yang tinggal?” Aruna berdiri dan berjalan mendekati Calvin. “Ya, ada dokumen yang ketinggalan di meja kerjaku,” jawab Calvin dingin. “Oh iya, ini Keenan. Temanku waktu kuliah dulu. Kamu masih ingat kan?” Keenan berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Calvin. “Apa kabar, Calvin?” “Baik. Keenan yang dulu sering mengantarkanmu pulang kan?” Calvin melihat ke arah Aruna sambil menyambut tangan Keenan dan melepaskannya dengan cepat. “Ya, dulu kami sering pulang bersama setelah kuliah. Senang kamu masih mengingatku Calvin.” Keenan tersenyum “Ada apa kesini, Keenan? Tahu dari mana rumah ini?” tanya Calvin. “Dari teman sekampus kami. Aku tidak sengaja bertemu dengan dia saat dia berkonsultasi padaku.” “Jadi kamu sudah kembali bekerja di kota ini? di rumah sakit mana?” “Rumah Sakit Mitra Sehat,” jawab Keenan. Calvin menatap Keenan beberapa saat sebelum Aruna menyadarkannya. “Berkas apa yang tertinggal, sayang? Mau aku bantu untuk mencarinya?” tanya Aruna. “Tidak usah. Akan aku cari sendiri. Silahkan kalian lanjutkan perbincangan kalian.” Calvin berjalan masuk ke dalam rumahnya. Tatapan Aruna dan Keenan mengikuti arah Calvin berjalan sampai dia menghilang dari pandangan mereka. “Maafkan sikap dingin Calvin, Keenan. Dia sebenarnya baik hanya saja terkadang sikap dinginnya yang terlihat,” ucap Aruna. “Tidak apa-apa, Aruna.” Keenan tersenyum ke arah Aruna. Mereka kembali ke tempat duduk mereka semula dan melanjutkan percakapan mereka kembali mengenai kenangan mereka di perkuliahan dulu. Tidak lama kemudian, Calvin datang kembali dan duduk di sebelah Aruna dengan mengenakan pakaian rumahnya. “Kamu tidak pergi ke kantor lagi, sayang?” tanya Aruna sambil bingung melihat pakaian yang sedang di kenakan oleh Calvin di dekatnya. “Tidak. Rapatnya di tunda sampai besok. Aku ingin meghabiskan waktuku di rumah hari ini.” Keena menatap ke arah Calvin beberapa saat. Diteguknya sisa teh yang ada dicangkirnya. Ada perasaan geli bercampur kesal didalam hatinya melihat keberadaan Calvin yang ada di hadapannya saat ini, terlebih setelah mendengar cerita Aruna tadi. “Jadi kamu praktek di ruangan apa, Keenan?” tanya Calvin. “Ruang Kandungan, Vin.” “Kamu sudah spesialis kandungan sekarang?” “Ya.” Keenan menganggukkan kepalanya. “Hebat,” puji Calvin. “Apalah hebatnya, Calvin. Aku masih seorang pegawai, bukan bos sepertimu,” jawab Keenan. “Aku sering mendengar ceritamu dari Aruna dulu. Kalian berdua sangat dekat bukan?” “Aku juga sering mendengar tentang dirimu dari Aruna.” Keenan menganggukkan kepalanya. “Kamu sudah menikah?” “Belum.” Calvin terdiam beberapa saat. “Pacar?” “Belum juga.” “Benarkah? Kamu ganteng dan seorang dokter spesialis. Tidak mungkin tidak ada wanita yang mendekatimu.” “Belumada yang cocok. Aku berharap aku bisa seberuntung kamu, Calvin.” Keenan menatap Calvin. Keenan melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya. “Sepertinya aku harus kembali ke Rumah Sakit. Aku hanya mampir sebentar tadi karena rindu ingin berbincang dengan Aruna.” Keenan berdiri dari tempat duduknya. “Terima kasih sudah mengunjungi kami di sela waktu sibukmu, Keenan,” ucap Aruna yang ikut berdiri, diikuti oleh Calvin yang ada di sampingnya. “Sama-sama. Kapan-kapan aku boleh kan main lagi ke sini, Calvin, Aruna?” “Tentu saja, Keenan. Aku sangat senang kalau kamu mau berkunjung ke sini lagi. Bukan begitu, sayang?” Aruna melihat ke arah Calvin yang terdiam memetung menatap ke arah Keenan. “Sayang?” panggil Aruna kembali. “Iya, tentu saja Keenan. Silahkan datang kapanpun kamu mau,” ucap Calvin sambil terus menatap tajam ke arah Keenan. “Terima kasih atas teh lycheenya Aruna. Sampai jumpa lagi.” Keenan berjalan keluar dari rumah itu dan memakai sepatunya. Setelah itu dia berjalan cepat menuju mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan Aruna dan Calvin yang berdiri di depan teras rumah mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN