Lakukan itu di tempat lain!

1237 Kata
“Dia sering ke sini?” tanya Calvin sambil terus berdiri di depan teras rumahnya. “Siapa?” Aruna melihat ke arah Calvin. “Keenan.” “Ini kali pertama dia datang ke sini.” Calvin terdiam. Matanya terus menatap ke arah depan. Tak lama kemudian Calvin membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Aruna melihat ke arah Calvin kemudian mengikutinya dari belakang. “Kamu lapar, Calvin?” tanya Aruna. “Tidak. Aku tadi sudah sarapan di kantor.” Calvin duduk di kursi diruang santai. “Aku buatkan kopi ya,” tawar Aruna. “Boleh,” jawab Calvin sambil mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Aruna berjalan ke dapur, sementara Calvin sudah asyik berselancar dengan ponselnya. Aruna melihat bungkusan besar dari Keenan tadi di atas meja dapur. Dengan cepat Aruna menyimpannya di dalam lemari dapur kemudian segera membuatkan Calvin kopi kesukaannya. “Ini kopinya, Calvin.” Aruna meletakkan secangkir kopi diatas meja depan Calvin. Calvin meletakkan ponselnya kemudian mengambil cangkir kopi yang baru diletakkan oleh Aruna dan meneguknya saat hangat. Aruna tersenyum melihat Calvin menikmati kopi buatannya. Hari yang sangat istimewa bagi Atuna karena bisa bersama Calvin pada jam sibuknya. “Bagaimana keadaanmu sekarang, Aruna? Masih mual?” tanya Calvin sambil meletakkan cangkir kopi yang ada di tangannya. “Sudah baikan walaupun terkadang masih terasa.” “Sebaiknya kita periksakan ke dokter, Aruna. Ayolah, selagi aku senggang seperti ini,” bujuk Calvin sambil melihat ke arah Aruna. “Tidak usah, Calvin. Aku sudah meminum obat mual tadi. Sekarang sudah lebih baik.” Tiba-tiba ponsel Calvin bercahaya dan sebuah nada notifikasi pesan masuk berbunyi. Calvin segera mengambil ponselnya dan melihat pesan yang masuk. Tidak lama kemudian Calvin berdiri dari tempat duduknya. “Baiklah, jika kamu memang tidak ingin konsultasi ke dokter, aku akan kembali ke kantor,” ucap Calvin. Aruna terdiam. Netranya mengikuti langkah Calvin yang berlalu meningglakannya ke kamar. Setelah berganti pakaian, Calvin keluar dari kamarnya dan berjalan menuju pintu keluar. Aruna segera mengikutinya. “Apa ada masalah di kantor?” tanya Aruna. “Tidak ada, kenapa?” “Kenapa kamu terburu-buru kembali ke kantor?” “Ada yang harus aku temui.” Aruna terdiam. Dia tidak ingin berspekulasi apapun walau hatinya selalu bisa menebak dengan tepat setiap gerak gerik Calvin. Ya, tentu saja hal yang tidak jauh dari perempuan bernama Nora. Dia selalu berhasil menjadi pengganggu. “Aku pergi dulu,” ucap Calvin setelah selesai memasang sepatunya dan dengan langkah yang cepat berjalan masuk ke dalam mobilnya. Aruna melambaikan tangannya begitu mobil Calvin berjalan perlahan meninggalkan pekarangan rumah mereka. Aruna menghelakan napasnya kemudian berbalik masuk ke dalam rumahnya. Di dudukkan bobotnya di atas sofa ruang santai sambil memandang ke arah kopi yang baru satu teguk di nikmati oleh suaminya itu. “Sebaiknya aku istirahat dikamar saja. Kepalaku terasa sedikit berat.” Aruna bangkit dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Belum sampai di depan kamarnya, Aruna menemukan sebuah file dilantai depan ruangan kerja calvin yang terletak di dekat kamar mereka. Aruna mengambil file itu dan membacanya. “Sepertinya dokumen ini yang dicari Calvin tadi. Dia pasti tidak sengaja menjatuhkannya saat terburu-buru pergi. Lebih baik aku antarkan saja dokumen ini ke kantornya daripada dia harus bolak balik lagi ke rumah.” Batin Aruna setelah membaca isi dokumen penting itu. Aruna segera berjalan masuk ke dalam kamarnya dan berganti pakaian. Dipoleskannya wajahnya dengan make up tipis agar terlihat lebih segar. Tentu saja dia tidak ingin terlihat kusam dan pucat sebagai istri seorang CEO di depan semua karyawan di perusahaan itu. Setelah merasa penampilannya telah menarik dan rapi, Aruna segera turun dan berjalan menuju mobilnyaa dengan membawa dokumen yang di perlukan oleh suaminya itu. Aruna menyetir mobilnya lebih hati-hati dari biasanya. Dia harus lebih bisa menjaga dirinya karena kini ada satu nyawa yang harus dijaganya didalam tubuhnya. Satu jam kemudian Aruna tiba di depan perusahaan yang dulu dipimpin oleh ayahnya itu. Setelah di parkirkannya mobilnya dengan baik di parkiran kantor, Aruna masuk ke dalam kantor itu. Aruna langsung berjalan menuju ruangan kerja Calvin. Sesampainya di depan ruangan itu, Aruna bertemu dengan Leona, sekretaris Calvin yang berlari mendekatinya. “Selamat pagi, Bu Aruna,” sapa Leona. “Selamat siang, Leona. Apa kabar?” Aruna tersenyum ke arah Leona. Leona dengan gugup melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, “Selamat siang,Bu Aruna. Kabar saya baik bu. Bagaimana kabar ibu? Lama tidak melihat ibu di kantor.” Leona membalas senyum Aruna sambil terlihat gugup dan kikuk. “Kabar baik. Pak Calvin ada di dalam kan?” tanya Aruna. “A-ada, Bu. Tapi-,” Leona tergugup. Aruna menatap wajah Leona. Aruna melihat ada yang sedang di tutupi Leona tentang hal yang dilakukan Calvin di dalam ruangan kerjanya. “Baiklah,” Aruna tersenyum kemudian segera melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja Calvin. Leona sempat akan mengikuti Aruna dari belakang tapi tangan Aruna memberi isyarat agar Leona berhenti mengikutinya. Aruna membuka pintu ruangan kerja Calvin kemudian langkahnya terhenti. Pemandangan yang sangat memuakkan sekaligus menyakitkan bagi Aruna terpampang nyata di depannya. Didepannya Nora sedang menyuapi Calvin makanan sambil duduk di pangkuan Calvin. Keduanya begitu terkejut melihat kedatangan Aruna. Nora turun dari pangkuan Calvin dan merapikan pakaiannya yang sedikit tersingkap. “Sudah waktunya makan siang rupanya.” Aruna berpura melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, sedangkan tangannya yang lain mengepal berusaha memperkuat hatinya. “Ada apa kamu kesini?” tanya Calvin. Aruna tersenyum dan berjalan mendekati meja kerja Calvin. “Aku mengantarkan ini.” Aruna meletakkan dokumen yang dibawanya ke atas meja kerja Calvin. Calvin mendekatkan tubuhnya dan mengambil dokumen yang di berikan oleh Aruna. “Sebagai istri, tentunya aku harus perhatian pada suamiku bukan?” Aruna melirik ke arah Nora. Nora menghelakan napasnya dengan kasar. Dari wajahnya sangat tergambar kekesalannya dengan kedatangan Aruna. “Aku pulang, Calvin,” ucap Nora dengan kesal kemudian berjalan ke luar dari ruangan kerja Calvin. “Nora!” panggil Calvin yang kemudian segera mengejar Nora. Tidak lama kemudian Calvin kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya dan berdiri di dekat Aruna. “Tak bisakah kalian melakukannya di tempat lain? Dimana harga dirimu, Calvin? Hanya karena dia, kamu mau merusak reputasimu di perusahaan ini?” ucap Aruna tanpa melihat ke arah Calvin. Air matanya sudah membendung dipelupuk matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Calvin saat ini. Calvin terdiam mendengar ucapan Aruna. Tiba-tiba aroma dari makanan yang ada di atas meja Calvin terasa menusuk penciuman Aruna. Makanan yang ditinggalkan oleh Nora begitu saja itu tercium sangat tidak menyenangkan bagi Aruna, membangkitkan kembali rasa mual di perut Aruna. Aruna memejamkan matanya berusaha menahan rasa ingin muntah di dalam mulutnya namun gagal. Aruna menutup mulutnya yang sudah mengeurkan aba-aba ingi muntah. Calvin dengan cepat menyambar tubuh Aruna dan menopangnya. “Kamu mual lagi, Aruna,” ucap Calvin sambil memapah Aruna menuju sofa panjang yang ada di ruangan kerjanya. Calvin membaringkan Aruna di sofa dan merapikannya agar merasa nyaman. “Tunggu sebentar disini. Aku akan perintahkan Leona agar memanggilkan dokter.” Calvin berdiri dan hendak berjalan menuju meja kerjanya untuk menelpon Leona, sekretarisnya namun langkahnya terhenti karena Aruna menahannya. “Tidak usah. Aku mau pulang sekarang.” Aruna bangkit dari tidurnya. “Kamu tidak mungkin dalam keadaan begini, Aruna.” “Aku ingin pulang sekarang.” Aruna mengulangi ucapannya. Calvin menyerah. Dia tidak ingin berdebat dengan Aruna saat ini. “Baiklah, akan aku antarkan kamu pulang. Akan aku suruh pegawaiku untuk mengantarkan mobilmu nanti,” ucap Calvin. Aruna menganggukkan kepalanya. Dengan dibantu oleh Calvin, Aruna berdiri dan keluar dari ruangan itu menuju mobil Calvin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN